
Gua benci Linux. Linux-nya sih gak terlalu. Yang gua benci itu Linux zealots. Menurut mereka, dunia akan jadi lebih baik kalo semua aplikasi (dan bahkan semua hal, seperti design mobil, resep obat, dll) berasaskan open source. Ambisi mereka itu sama kayak ambisi Lenin dan Stalin dalam menjadikan dunia ini sebuah utopia komunista. Oke, sah-sah aja, itu pandangan hidup.
Tapi yang bikin gua sangat eneg sama Linux adalah, prinsip kebebasan itu lah yang bikin sistem operasi itu gak diterima di masyarakat. Karena hampir setiap aspek dalam sistem operasi itu dikembangkan oleh individual/kelompok yang berbeda. Sebut saja, kernel-nya, GNOME, Nautilus, Firefox, GIMP, Pidgin, dan lain-lain. Tanpa ada satu badan usaha yang bertanggung jawab atas segala aspek dalam sebuah sistem operasi, yang terjadi adalah: Linux.
Kohesi? Apa itu? (kata penggemar Linux)
Linux tidak memiliki kohesi antara komponen-komponennya dan antara software dengan hardware (oke, dari tadi gua make istilah ‘Linux’, dan sebelom kalian zealots pada protes, yang gua maksud, iya betul, adalah SEMUA distribusi Linux). Untuk para pengguna biasa (seperti nyokap gua, bokap gua, ato siapa pun yang punya kehidupan), menggunakan Linux itu sama aja kayak beli mobil untuk di setir!!! Tapi, harus dirakit dulu dari awal. Well, emang banyak anak-anak muda yang doyan nyupir. Tapi, sebagian besar orang di dunia ini gak peduli siapa yang nyetir, selama mereka sampe tempat tujuannya dengan selamat dan cepat. Dengan Linux, wireless adapter laptop lo bisa gak nyala. Begitu pula dengan bluetooth, webcam, dan fungsi-fungsi lainnya.
Gak ada yang make, jadi gaya
Ternyata, bagi para geeks dan nerds jaman sekarang, gak cukup dengan pakaian culun dan kelakuan yang cupu. Mereka perlu mempunyai ’sesuatu’ yang berbeda dari dunia di luar sana. Dan sekarang, benda/hal apa yg bisa membuat orang-orang berkata “WOW!! Ini [masukin kata benda] ya?! Lo keren banget! Beda dari yang lain!!!” selain sebuah sistem operasi komputer yang begitu tidak populernya sehingga hanya dipakai oleh sekitar 0.88% manusia (pengguna komputer) di dunia.
Liat, dari tadi gua gak membandingkan Linux sama sistem operasi lain? Itu karena Linux gak pantes untuk dibandingkan! Semua sistem operasi ada tempatnya masing-masing. Windows adalah untuk kantor. OS X untuk kerjaan-kerjaan spesifik dan untuk santai. Sementara Linux tempatnya ada di balik layar, alias jadi server, jadi sistem operasi untuk embedded device, dan jadi tempat para orang kebanyakan waktu buang-buang waktu.
Banyak pilihan, banyak kesalahan
Para penyembah-penyembah Torvalds berkata, inti dari Linux dan open source adalah kebebasan. Tapi kapankah kalian sadar bahwa kebebasan selalu membawa kehancuran?
Kita ambil contoh kasus.
Ada seorang cewek muda cantik yang gaul pengen beli laptop. Dan dia harus milih sesuai budget. Namanya cewek, pasti dia milih liat bentuknya. Iya tokh? Dia gak bakal peduli sama yang namanya DDR3, SATA, RPM dari HDD-nya, dan lain-lain. Dia juga gak peduli sama OS yang dia dapat. YANG PENTING: dia bisa Facebook-an, YM-an, MSN-an, Skype-an, ngetik diary, denger lagu, dan nonton film.
Bisa gua bayangkan, ada ratusan juta orang kayak si cewek itu. Yang mau beli komputer buat fungsi-fungsi yang gua sebut itu doang. Jika seandainya ada yang bertambah, paling: bisa bikin presentasi dan spreadsheet, bisa maen banyak games, ngedit film, bikin lagu, ngedit gambar. Apa lagi?
Oke, sekarang, kita masuk ke logika lain: menurut lo, berapa banyak komputer Windows ber-antivirus yang kena virus? Hmm? Lebih dari 50%!! Apa artinya? Artinya, lebih dari 50% manusia yang menggunakan komputer itu TIDAK PEDULI sama keamanan komputernya! Dan kalo mereka tidak peduli sama keamanan? Artinya? Artinya mereka gak peduli soal tingkat keamanan Linux. Dan kemungkinan besar beli komputer untuk melakukan hal-hal yang gua tulis di atas. Dan sekarang bakal gua tulis di bawah:
(Yang di dalam kurung adalah OS mana yang unggul dalam poin tersebut)
- Facebook-an (imbang)
- YM-an (Windows/OS X. Dan yang dimaksud ‘YM-an’ bukan sekedar chatting, tapi juga webcam, IMvironment, buzz, emoticons, audibles, dan lain-lain)
- MSN-an (Windows/OS X)
- Skype-an (imbang)
- Ngetik diary (Windows/OS X)
- Denger lagu (Windows/OS X. Linux ga masuk, karena MP3 gak default terinstall)
- Nonton film (imbang)
- Presentasi & Spreadsheet (Windows/OS X. Microsoft Office ada untuk OS X juga)
- Main games (Windows)
- Ngedit film (OS X)
- Bikin lagu (Windows/OS X)
- Ngedit gambar (Windows/OS X)
Sekarang, mana dari 12 poin di atas yang merupakan keunggulan Linux? Hmm? Ayo jawab. Iya. GAK ADA. Linux sama sekali gak unggul di satu poin pun untuk kegunaan sehari-hari. Semua poin disamping ini gak relevan (security, freedom, kemampuan kustomisasi, dan lain-lain).
Ini lah kenyataannya. Dan ini kenapa gua benci sama fanatik-fanatik Linux. Selalu membanggakan sebuah sistem operasi yang INFERIOR dan mencemooh mereka yang menggunakan program propertiery. Mereka sudah dibutakan matanya oleh prospek dari dunia yang open source. Well, gua gada masalah sama mereka kalau mereka diam. Tapi begitu mereka buka mulut untuk promosi betapa bagusnya Linux, itu saatnya gua ngambil dongkrak ajaib gua di bagasi….
Berikut sebuah komik yang bisa merangkum ocehan gua yang panjang lebar ini menjadi empat tiga panel:





Maret 19, 2009 pukul 10:36 pm |
Sip boss. Lucu abis.
Asyik juga.
Mei 2, 2009 pukul 4:51 am |
wah, dari Judulnya saja, sudah melanggar Sila ke 5 Pancasila butir ke 11 “MENGHARGAI HASIL KARYA ORANG LAIN”.
Mei 2, 2009 pukul 5:18 am
Menghargai kan bisa menghargai dengan harga tinggi atau menghargai dengan harga rendar. Dalam konteks ini, El Zafir menghargai rendah untuk linux.
Mei 2, 2009 pukul 10:10 am
Harga Linux rendah? emang harganya gak tinggi koq, cuman 5000/cd. sudah betul kawan! klo harga=uang.
Tapi apakah menghargai itu selalu bermakna harga (uang)?
kan bisa juga dimaknai sebagai sikap yg positif. Apakah benci itu bisa dikatakan sikap yg positif? entahlah, saya msh awam.
btw, menghargai windows? tinggi apa rendah ya?
PEACE BRO..
Mei 2, 2009 pukul 11:18 am
Nope, saya menggunakan uang sebagai contoh kalau butir dalam pancasila bermakna ganda. “Menghargai” dalam kasus ini sangat ambigu bukan? Pernyataan bahwa “Saya Benci Linux” dapat berarti “Saya Menghargai Rendah Linux”, entah harga, entah kualitas. Tidak ada yang dilanggar dari “Menghargai Karya Orang Lain”, bukan? Tidak ada spesifikasi bahwa “menghargai karya orang lain” ini harus positif.
Mei 2, 2009 pukul 2:01 pm
waduh gawat nih, berarti masih ragu nih tentang nilai-nilai Positif Pancasila, kan sudah jadi pandangan hidup dan sudah diajarkan sewaktu kecil (SD) jadi gak mungkinlah negatif.
anyway, itu pendapat anda dan saya menghargainya. Thanks ya..
btw, gimana dgn yg ini bro.. (blum kejawab nih)
menghargai windows? tinggi apa rendah ya?
Mei 2, 2009 pukul 3:22 pm
don zafir memakai linux untuk server. server itu sdh tingkat tinggi loh. berarti si don menghargai tinggi linux dong.. walaupun masih benci tapi butuh…wkakkakakaka..
sedangkan windowsnya bajakan, berarti menghargai rendah dong karyanya si bill gates… pantesan si bill memerangi pirate ckckckckck..
Mei 2, 2009 pukul 3:25 pm
“rendah” tidak ada hubungannya dengan “negatif”. “Rendah” dapat berarti nilai positif yang masih kecil. Kalaupun El Zafir menganggap negatif OS Linux, itu bukan berarti ia menjelekkan Linux, ia mengkritik Linux yang masih terdapat kekurangan di sana-sini. Kalau anda baca komentar dari El Zafir, ia mengakui kalau Linux itu alternatif OS bagi yang menjunjung tinggi legality morale. Ia juga setuju kalau Linux di support banyak program yang mungkin melebihi windows. Jadi, bukan berarti ini adalah post untuk menjatuhkan Linux. Ia adalah seorang kritikus yang menganggap Linux masih perlu lebih diperbaiki lagi.
Untuk pertanyaan menghargai windows, dalam aspek apa yang anda ingin tahu?
Mei 2, 2009 pukul 3:27 pm
To Bang Sopir,
Lalu? Poin yang ingin anda utarakan?
Mei 2, 2009 pukul 3:58 pm
Kembali ke judul posting bung!
GUA BENCI LINUX
Benci, Mengapa tiba-tiba kita merasa benci.Benci terhadap suatu hal, misalnya benci terhadap kegiatan rutinitas, benci melihat hal-hal tertentu atau sampai benci sama orang di lingkungan kita.Kenapa harus ada rasa benci di dunia ini yah?
Ngomongin soal benci kita harus tau dulu apa seh sebenarnya arti benci itu? menurut Wikipedia Ensiklopedi bebas, benci itu adalah merupakan sebuah emosi yang sangat kuat dan melambangkan ketidaksukaan, antipati untuk seseorang, sebuah hal, barang atau fenomena. Hal ini juga merupakan sebuah keinginan untuk, menghindari, menghancurkan dan menghilangkannya.
dAn ditujukan kepada Linux yang sudah pasti sangat berjasa kepadanya karena sudah menggunakannya sebagai server!. LUCU, ANEH deh. So, ngapain dibenci klo masih butuh. malu deh..
So, gak usah pake kata BENCI, BANCI aja wkwkwkwkwkk
Mei 2, 2009 pukul 4:21 pm
Hhhh. Judul ya? Ini kalimat2 awal El Zafir di bawah judulnya:
“Gua benci Linux. Linux-nya sih gak terlalu. Yang gua benci itu Linux zealots.”
Saya rasa ini sudah mengklarifikasikan semua yang anda tuduh kepada dia. Answered yet?
Mei 2, 2009 pukul 4:49 pm
nah, disitulah letak keBANCIannya,
Judulnya “GUA BENCI LINUX”, arogan amat!
Tapi isinya mulai …Linux-nya sih gak terlalu. melunak dia…wkwkwkk
apaan sih? tiba2 jd lembek, terus…
“Gua gak pernah bilang kalo gua GAK pake Linux”,
(LIHAT LAGI JUDUL, KONSISTEN DONG)
IYA, LO PAKE Linux tapi juga MENYEBARKAN KEBENCIAN pada LINUX!
MUNAFIK
Mei 2, 2009 pukul 4:58 pm
Oh, jadi anda malah menyarankan kalau seseorang memberikan judul “Gua benci Linux”, dia gak boleh mengisyaratkan kalo ia tidak terlalu benci dengan linux atau benci dalam kadar tidak sampai ingin menghancurkan? Ia harus terus menjelekkan linux sampai habis-habisan?
Jadi, kalau saya bilang “Gua benci Islam”, saya gak bisa bilang saya hanya benci kepada fundamentalis, karena mereka bertindak atas dasar prinsip yang mereka anut di Islam? Saya gak boleh berteman kepada muslimin dan muslimat yang lain? Saya harus terus memperlihatkan kebencian terhadap penganut Islam demi konsistensi?
Dunia gak bisa diliat hitam dan putih seperti itu, bung supir (biar lebih sopan, saya panggil anda bung supir).
Mei 3, 2009 pukul 12:41 am
@Souza
“Untuk pertanyaan menghargai windows, dalam aspek apa yang anda ingin tahu?”
semua aspek
Mei 3, 2009 pukul 4:17 am
Well, saya suka windows karena bisa menggunakan Adobe Photoshop dan Premiere. Pernah nyoba pake Wine buat nyalain photoshop atau premiere, malah bikin lambat. Mau pake buat game, sama juga, ngadat pas main DOTA.
Alhasil, ngambek pake linux, install lagi windows. For application compatibility, lebih aman pake windows karena banyak yang support. Tapi saya juga jadi ngambek sama Windows Vista nih, yang gak bisa jalanin Adobe Premiere PRO maupun Element. Memori yang dikonsumsi gede banget.
Windows Vista sekarang lebih baik dalam soal wireless. Dia ada interface yang memberi tanda kalo kita sudah connect to internet atau belum, tanpa perlu ke command prompt.Office 2007 buat windows udah citation integrated. Jadi gak perlu install Jabrev atau lyx lagi buat nyusun thesis (plus interface yang udah familiar).
Masih ada lagi sih, tapi ntar jadi dragging. Sekian aja dulu.
Mei 3, 2009 pukul 4:44 am
legalitas dan virus?
Mei 3, 2009 pukul 4:47 am
Gak ada masalah. Vista dan XP saya asli, virus tinggal pake AVG 8.5. Asal gak ke situs warez dan semacamnya, virus sih jarang kena.
Mei 3, 2009 pukul 6:06 am
Bill Gates pasti menghargai anda,
lalu gimana pendapat anda ttg penghargaan (uang) don safir trhdap windows? tinggi atau rendahkah?
(sory kyk wartawan. hiks)
Mei 3, 2009 pukul 9:53 am
Wah tidak tahu. Dia gak pernah bilang kalau windowsnya bajakan atau asli. It doesn’t matter with me.
Mei 3, 2009 pukul 10:43 am
bajakan bos, gak baca ya..
Mei 3, 2009 pukul 9:10 pm
@sousa
Pernyataan bahwa “Saya Benci Linux” dapat berarti “Saya Menghargai Rendah Linux” (lo yg nulis)
dasar bego bin tolol, “Benci” dan “Menghargai Rendah” gak sama artinya liat definisi benci di atas & liat definisi menghargai yg lo buat sendiri. (lebih bego dari don nih, hihihihi)
dan jgn bawa-bawa agama klo lo gak bisa beri contoh lain yg kuat. SARA, tau gak lo?
Mei 3, 2009 pukul 11:21 pm
Dan pernyataan ini dilontarkan oleh orang prejudice yang melihat seluruh isi post hanya dari judul dan membuat kesimpulan hanya dari satu bagian cerita saja.
Dan anda pun tidak bisa membedakan antara analogi dan SARA. Perhatikan analogi yang saya buat. Saya tidak pernah menyatakan bahwa saya benci Islam.
Pernyataan kuat? Itu kan hanya otak prejudice anda saja yang menolak argumen yang saya lontarkan.
Kalau anda bilang saya bego, maka anda lebih rendah dari saya karena menulis nama saya saja tidak becus.
Mei 4, 2009 pukul 3:52 am
@souza
“Pernyataan bahwa “Saya Benci Linux” dapat berarti “Saya Menghargai Rendah Linux”, entah harga, entah kualitas”
Dalam hal ini Don Zafir tidak suka dengan Linux
Baca komentarnya Don zafir
“Tapi yang bikin gua sangat eneg sama Linux adalah, prinsip kebebasan itu lah yang bikin sistem operasi itu gak diterima di masyarakat”
Baca komenta saya terhadap anda
itu sudah jelas bahwa Don Zafir tidak suka
jadi anda ga perlu memberi penafsiran atau alasan bahwa “Gua Benci Linux”
Kesalahan anda
Pertama anda tidak teliti membaca peryataan Don Zafir
Kedua udah ga teliti masih juga memberikan penafsiran “Gua Benci Linux”
Ketiga membawa SARA walau hanya analogi
Mei 4, 2009 pukul 8:14 pm
@Souza
itu respon gw dari yg lo tulis nih :
“bung supir (biar lebih sopan, saya panggil anda bung supir)”,
well, gw komen disini dengan nama “bang supir”.
so, jangan seenaknya mengubah jika anda juga gak terima klo saya ngetik nama anda “sousa”. (ok?, yg cerdas ya..)
(baca tuh komennya Jazzuno ttg lo, sepakat gw)
Maret 21, 2009 pukul 8:58 pm |
betul mas, namanya fanatik… gak peduli bener ato salah, kalo gak punya duit untuk beli… ya bajak aja.
untuk bisa keren: beli laptop baru yg murah (tanpa OS original), trus instal Vista dan office 2007-nya sekalian (bajakan), plus photoshop-coreldraw-pinnacle-dll (bajakan juga). sip!!! bener mas.
Maret 22, 2009 pukul 11:53 pm |
Di artikel ini gua gak menyarankan untuk membajak software apa pun (walaupun gua adalah pembajak dan mendukung pembajakan dalam skala individual. What can I say? I’m a pirate! Arrrr..!!).
Tapi yang ingin gua utarakan adalah, keuntungan utama dari Linux bagi masyarakat awam (baca: mayoritas pengguna komputer) itu cuma satu: gratis. Tapi ini gak cukup. Ibaratnya, elo bisa makan gratis dari tong sampah. Gratis. Tapi gak enak. Itulah Linux. Gratis, tapi gak user friendly.
Intinya, sebelum komunitas Linux memperhatikan para pengguna awam, Linux gak akan bisa diterima di masyarakat. Orang-orang lebih milih untuk ngeluarin uang jutaan untuk Windows atau OS X, dibandingkan harus berepot-repot ngetik ’sudo apt-get’ dan sebagainya untuk install program. Operating system itu sebuah alat. Dan orang-orang awam lebih senang menggunakan alat-nya untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan.
Satu lagi, Linux directory structure is a joke! Semua folder dan file yang tidak berhubungan langsung dengan end-user seharusnya di sembunyikan dan gak ditaro di root. Lihat bagaimana Microsoft mengelompokan program-program di Program Files, file-file sistem di Windows, dan file-file user di Documents and Settings. OS X juga, tapi gua terlalu males untuk nengok ke partisi OS X gua. Sementara Linux? /usr,/dev,/home,/media….Dan lihat bagaimana market share dari ketiga OS diatas…
FYI, distro GoboLinux (www.gobolinux.org) punya visi yang sangat masuk akal dalam penyusunan ulang hirarki struktur direktori Linux dan bisa menjadi titik balik Linux di masa depan.
April 9, 2009 pukul 4:41 pm
Ini lah kenyataannya. Dan ini kenapa gua benci sama fanatik-fanatik Linux. Selalu membanggakan sebuah sistem operasi yang INFERIOR dan mencemooh mereka yang menggunakan program propertiery. Mereka sudah dibutakan matanya oleh prospek dari dunia yang open source. Well, gua gada masalah sama mereka kalau mereka diam. Tapi begitu mereka buka mulut untuk promosi betapa bagusnya Linux, itu saatnya gua ngambil dongkrak ajaib gua di bagasi….
klo masalah mereka membanggakan dan mungkin mempromosikan setinggi langit tu sah2 aja, wong sistem opreasi selain linux juga mempromosikan produk mereka setinggi langit walaupun banyak kekurangannya ^_^.
tapi klo sudah menjelekkan OS lain itu baru prilaku buruk dan tu ga semua pengguna linux demikian. (maaf ya saya yakin anda tidak menuduh semua pengguna linux yang FANATIK tu adalah zealots UPS… maaf saya juga kagak ngerti zealots wkkkkwkkw….
Tapi yang bikin gua sangat eneg sama Linux adalah, prinsip kebebasan itu lah yang bikin sistem operasi itu gak diterima di masyarakat. Karena hampir setiap aspek dalam sistem operasi itu dikembangkan oleh individual/kelompok yang berbeda. Sebut saja, kernel-nya, GNOME, Nautilus, Firefox, GIMP, Pidgin, dan lain-lain. Tanpa ada satu badan usaha yang bertanggung jawab atas segala aspek dalam sebuah sistem operasi, yang terjadi adalah: Linux.
waduh mas jangan salah kaprah donk, klo kita punya kebebasan kan memudahkan kita juga, klo anda jadi administrator suatu perusahaan or pengembang software nah kebetulan bekerja dengan software yg GA FREE (bebas bukan gratis) sedangkan software tersebut tidak sesuai dengan kemauan anda, dan harus ada perubahan sedikit dan anda bisa merubahnya sendiri.. kan itu akan menghemat waktu anda jika program tersebut free.
nah klo ini kemudahan untuk orang2 yg dah WIZARD kali ya he..he..
klo untuk orang awam kan linux sekarang dah GUI n walaupun aplikasi belum banyak tapi klo untuk orang awam (kaya saya ni lho mas ORANG AWAM yg ga bisa edit video pake adobe primier,ORANG AWAM yg ga bisa ngedit photo pake photoshop, ORANG AWAM yang ga bisa pengeditan audio N YANG GA PUNYA DUIT TUK BELI LISENSI OS YG KOMERSIL HU..HU..HU.. , ORANG YANG BISANYA NGETIK AJA, CHATINGAN AJA, BROWSING AJA, DENGERIN LAGU OR NONTON VIDEO AJA), pake linux dah cukup,, upss sory keluar dari isi artikel anda yach..
berhubung saya menggunakan komputer hanya itu2 saja ya saya lebih baik menggunakan linux dan mengajak teman2 saya yang seperti saya ini menggunakan linux he..he.. dan tentunya karena saya cinta ma negara indonesia ini hue,,,he,,, coba anda hitung (ya klo anda mau menghitung hohoohoo) berapa banyak devisa negara kita yang harus dikeluarkan negara kita klo semua produk harus beli dari negara luar, bandingkan dengan open source or yg GPL, dengan mendapatkannya hanya dengan…….. ya.. ya.. saya tau anda sudah mengerti he..he.. kan lumayan menghemat pengeluaran negara hohohoho….
nah karena anda sudah tau itu semua , kenapa orang yang punya bakat dan kemampuan seperti anda, ya membantu mengembangkan IGOS aja… dengan menjadikan IGOS user friendly untuk masyarakat di indonesia….
ya itu klo anda mau membantu temen2 yang bergerak di open source (ya klo anda menganggap temen hohohoho)
ya klo ga mau membantu ga apa pa kok anda sudah bisa di bidang IT itu sudah sangat membantu negara he..h.e.
maaf ya klo merasa di nasehati or apalah yang anda rasakan he..he..
bravo IT indonesia
April 9, 2009 pukul 4:56 pm
#
Ternyata ada
* 59,756 orang bego kena tipu
saya kasian dengan anda, coba liat di atas sudah berapa banyak dosa (pasive income) untuk anda wkkwkkwkkkwkk………
di dunia aja dah panas gini pa lagi di neraka wkkkwkkwkk….
April 10, 2009 pukul 1:40 pm
“Satu lagi, Linux directory structure is a joke! Semua folder dan file yang tidak berhubungan langsung dengan end-user seharusnya di sembunyikan dan gak ditaro di root”
saran yang bagus buat Blankon dan Igos
Mei 3, 2009 pukul 12:57 am
Ada seorang cewek muda cantik yang gaul pengen beli laptop. Dan dia harus milih sesuai budget. Namanya cewek, pasti dia milih liat bentuknya. Iya tokh? Dia gak bakal peduli sama yang namanya DDR3, SATA, RPM dari HDD-nya, dan lain-lain. Dia juga gak peduli sama OS yang dia dapat. YANG PENTING: dia bisa Facebook-an, YM-an, MSN-an, Skype-an, ngetik diary, denger lagu, dan nonton film.
sesuai budget dgn kebutuhan standar, linux sdh memenuhi.
Mei 4, 2009 pukul 11:35 am
dan satu lagi nih, sekarang ada yg namanya KLUWEK (Kelompok Linux Cewek) yg terus berkembang di Indonesia.
Mudah-mudahan bisa mengubah persepsi anda tentang cewek. Thanks
April 7, 2009 pukul 11:58 am |
bajak aja bangga loe…
April 7, 2009 pukul 1:13 pm |
Jelas. Gua mendeklarasikan diri gua sebagai PIRATE.
Arrrrr!!!!!
April 7, 2009 pukul 12:08 pm |
Hmmm … mo komen apaan ya … apa kata lu aja deh boss … jiakakaka.
Salam damai,
Linuxers
April 7, 2009 pukul 12:19 pm |
Bohong kalau ga pakai linux.
Coba lihat sistem operasi yang digunakan untuk menghosting blog ini, Linux / Windows / MacOS?
Coba lihat sistem operasi yang digunakan oleh router, Linux / Windows / MacOS?
Coba lihat sistem operasi yang digunakan oleh perangkat-perangkat vital yang diharuskan untuk selalu menyala setiap saat tanpa boleh ada downtime apakah menggunakan, Windows / MacOS?
Bagaimana kalau dunia tidak ada Linux? Berapa biaya yang dikeluarkan untuk membeli sebuah router atau sekedar menaruh blog ini?
Silakan Anda mempertimbangkannya, jangan asal compare sekilas aja.
April 7, 2009 pukul 1:22 pm |
Gua gak pernah bilang kalo gua GAK pake Linux.
Gua menggunakan Ubuntu Server di rumah gua. Dan gua menggunakan handphone dengan sistem operasi Android.
Tampaknya komprehensi Anda terhadap tulisan gua sedikit meleset,
argumen gua berpacu pada Linux belum dan tidak tepat untuk “para pengguna biasa”. Masyarakat kebanyakan tidak ingin direpotkan mengkonfigurasi sistem operasinya, karena fokus mereka adalah di menyelesaikan pekerjaannya.
Sekarang, Anda menyebut “router”. Apa iya, nyokap Anda (atau eksekutif muda, pekerja kantor, fotografer, dan para profesional di bidang non-IT) bakal nyetting router? Apa iya dia bakal bikin server untuk ngehosting blog kayak gini? Jawabannya jelas, TIDAK!
Sekarang silahkan Anda mempertimbangkan bagaimana jawaban gua kalo “dunia tidak ada Linux”? Santai. Masih ada Free BSD, coy.
April 7, 2009 pukul 12:43 pm |
om elfizar,
saya dulu di besarkan oleh kerajaan DOS dan windows, namun saya kemudian berfikir tidak seperti yang anda pikirkan. okeh itu ada perbandingan program. maka akan saya jawab
* Facebook = Tidak relevant, ini yang harus di compare adalah Web Browsernya
* YM = Di linux sudah ada gYacho dan pidgin, alhamdulillah lancar
* MSN = Sama dengan YM
* Skype = ada juga
* Ngetik diary = banyak alternatif di linux, mau pake latex, OpenOffice, Abiword, Gedit, pico, nano, mc, vim, dll
* Denger lagu/Multimedia = Bisa menggunakan vlc, cobak anda install Ubuntu Multimedia. semua sudah ada codec nya
* Office = OpenOffice 3.0, mantaf bisa buka docx, tapi ms Office ga bisa buka oft
* Games = okeh kalah linux
* Ngedit filem = hm… tau filem big bunny? itu pake linux
* bikin lagu = coba install Ubuntu multimedia
* ngedit gambar = okeh kalah, tapi bisa coba gimp dan inkscape
dan… saya nambahin
* Bisa di buat router secara default, apa?
* Bisa dukung beragam bahasa pemrograman, apa?
* Bisa buat beragam server dengan satu klik, apa?
* Adakah forum yang menyediakan tanya jawab terbesar selain linux?
* Adakah website yang menyediakan tutorial terbesar selain linux?
Saran saya, coba anda install dan browsing serta bergabung dengan komunitas. sekian dan terimakasih
April 7, 2009 pukul 12:57 pm |
nampaknya om elzafir sial aja… ketemu linux zealots yang punya sikap begitu…
mungkin kalo ketemu fans linux yang lebih santun justru ceritanya beda…
terus juga… buat pribadi2 yang gak mentingin 12 poin di atas… misal… biaya investasi yang murah, tapi bisa dipake buat kerja… harusnya gak masalah dong kalo pake linux ya…
April 7, 2009 pukul 1:51 pm
Betul sekali Kunclunk.
April 7, 2009 pukul 12:59 pm |
lha… kenapa saya nge-respon tulisannya om udienz ya… salah2… maksudnya comment tulisannya om elzafier…
April 7, 2009 pukul 1:49 pm |
Bang Udienz.
Ini counter argument gua:
* FACEBOOK = –> Makanya gua bilang “imbang”.
* PIDGIN –> Bisa webcam? Bisa audio conference? Bisa Yahoo games? Bisa IMVironment? Bisa Audibles?
* SKYPE = –> Makanya gua bilang “imbang”.
* NGETIK DIARY =–> Semua software-software itu gak sebaik dan senyaman MS Office. Dan bahkan iWork.
* UBUNTU MULTIMEDIA & VLC
–> Anda pikir pengguna biasa akan repot-repot mendownload? OS X dan Windows menyediakan iTunes dan WMP out-of-the-box.
* OPENOFFICE 3.0
–> Sayangnya OO.o Calc gak sekomplet MS Excel. Sayangnya tidak terintegerasi ke MS Exchange Server. Sayangnya tidak mempunyai fasilitas seperti Groove. Dan tingkat kompatibilitasnya rendah. Jika ada orang yang awam komputer menggunakan OO.o Writer, dan mengirim file .odt ke orang tuanya yang menggunakan MS Office (seperti orang-orang normal lainnya), apa yang akan terjadi?
* GAMES = okeh kalah linux –> JELAS.
* NGEDIT FILEM = hm… tau filem big bunny? itu pake linux
–> Gak tau. Tau gak SEMUA FILM LAIN DI DUNIA? Itu pake Adobe Premiere, AfterEffect, Final Cut Pro. Itu gak ada di Linux.
* BIKIN LAGU = coba install Ubuntu multimedia
–> Lebih baik dari Sony Sound Forge, Adobe Auditon, Steinberg CuBase, Logic Pro? Jawabannya, jelas… Tidak.
* NGEDIT GAMBAR = okeh kalah, tapi bisa coba gimp dan inkscape
–> Udah. Semua jenis Gimp. Gimpshop, Gimphoto, dan lain-lain. Sama sekali gak sekelas Photoshop.
dan… saya nambahin
* Bisa di buat router secara default, apa?
–> Bukan penggunaan masyarakat awam (mayoritas pengguna komputer).
* Bisa dukung beragam bahasa pemrograman, apa?
–> Bukan penggunaan masyarakat awam (mayoritas pengguna komputer).
* Bisa buat beragam server dengan satu klik, apa?
–> Bukan penggunaan masyarakat awam (mayoritas pengguna komputer).
* Adakah forum yang menyediakan tanya jawab terbesar selain linux?
–> Tidak ada. Karena Windows dan OS X punya sesuatu yang namanya ‘customer support’.
* Adakah website yang menyediakan tutorial terbesar selain linux?
–> Tidak ada. Karena Windows dan OS X, tidak serumit itu untuk memerlukan tutorial.
Saran saya, coba anda install dan browsing serta bergabung dengan komunitas. sekian dan terimakasih
–> Gua adalah bagian dari komunitas. Gua menggunakan Linux, OS X, dan Windows. ‘Nuff said.
April 7, 2009 pukul 2:15 pm
klo pengguna awam ngapain bawa2 ngedit film, bikin lagu, ngedit gambar?
) lagipula pengguna awam nyaman dengan windows karena terbiasa (coba sekali trus ga pernah liat alternatif lain)
> Tidak ada. Karena Windows dan OS X punya sesuatu yang >namanya ‘customer support’.
apakah bisa diandalkan CSnya ? *ga pernah hubungi CS kecuali ISP*
> Tidak ada. Karena Windows dan OS X, tidak serumit itu
> untuk memerlukan tutorial.
Anda sudah mahir. Pengguna awam perlu tempat bertanya alternatif jika menghadapi kesulitan.
April 7, 2009 pukul 2:39 pm
Tampaknya Anda gak mengerti apa yang gua maksud dengan kata “awam”. “Awam” disini artinya awam dalam bidang IT atau komputer. Awam dalam arti, mereka gak punya keahlian untuk mengkostumisasi dan memodifikasi komputer atau sistem operasi. Dan awam yang artinya, mereka yang tidak ingin direpotkan oleh sesuatu yang tidak menyangkut pekerjaannya.
Mereka nyaman karena menemukan fungsi yang dibutuhkan di Windows. Gamers ketemu games. Fotografer ketemu Photoshop. Filmmaker ketemu Premiere dan AfterEffect. Sound engineer ketemu Cubase. Ibu-ibu dan anak-anak muda ketemu YM dan Live Messenger. Btw, Pidgin itu sama sekali bukan “alternatif”, tetapi lebih ke “lesser choice”. Fungsi Pigin itu sangat basic, tanpa webcam dan audio. Lagian, siapa juga yang punya account IM di lebih dari Yahoo dan Live?
Fotografer, filmmaker, graphic designer, akuntan, office worker, semua butuh fungsi-fungsi dari komputer yang tidak bisa (atau bisa, tapi terbatas) disajikan oleh linux.
CS Windows? Bisakah diandalkan? Apakah Anda punya lisensi Windows resmi untuk pernah mencoba CS nya? CS Microsoft atau Apple adalah orang yang bekerja di perusahaan itu dan sudah melewati training. Untuk sebagian besar masalah, tentu bisa diandalkan.
Tempat bertanya alternatif sudah banyak, untuk ketiga OS tersebut.
Satu lagi yang perlu saya tambahkan, sebuah OS yang baik adalah OS yang berfungsi out-of-the-box, dan menawarkan solusi untuk segala macam problem yang mungkin dihadapi. Termasuk CS, help file, video tutorial, dsb.
April 9, 2009 pukul 3:03 am
ini punya referensinya kah? dari semua behind the scenes tentang special effects di film, belum pernah satupun saya melihat orang-orang hollywood itu bikin pakai windows. kalau mac, masih terlihat satu/dua, tapi masih lebih banyak di non mac dan non windows.
tapi kalau kelasnya film di youtube (yang berarti sebenarnya malah masuk topik anda, yaitu orang awam) memang banyak yang pakai premiere. atau, kelas film yang dibuat oleh 1 orang saja, seperti flatland. tapi kalau dibuat oleh satu tim produksi, windows? coba deh kasih contoh. dari tadi cuma nemu satu contoh film animasi yang dibuat di windows.
special effects film umumnya dibuat pake flint (SGI/irix), shake, blender, maya, etc yang karena kompleksitasnya, akan lebih cepat pembuatannya dengan rendering farm ribuan komputer (ant’s bully misalnya, dibuat di 1400 komputer fedora core 4). windows tidak terkenal dengan kemampuan clusteringnya, tidak seperti linux/sun/keluarga bsd, jadi jarang sekali film animasi kelas berat pakai windows sebagai platform.
sekali lagi, kalau anda mengajukan argumen “orang awam di sini”, saya ingin mengingatkan bahwa anda yang terlebih dulu mengajukan argumen “semua film lain di dunia”.
April 9, 2009 pukul 9:19 am
Oke, ini jelas-jelas komen dengan niat menyerang. Tapi gak papa.
1. Anda “belum” pernah melihat Hollywood… Hmm..apakah Anda seorang pemerhati film atau filmmaker?
2. Lebih banyak di non-Mac dan non-Windows, apakah itu? Linux? Mungkin Anda bingung dengan istilah “bikin” film sama “(parallel) rendering farm” ya?
3. Kenapa harus film “animasi”? Emangnya gua ada nyebut-nyebut animasi dari tadi? Gua bilang SEMUA FILM LAIN DI DUNIA (ini jelas-jelas eksegerasi, tapi what the hell)…
Kenapa kalian semua gila referensi?
Ada yang namanya Google bung.
But, any way,
“According to a 2007 SCRI study, Final Cut made up 49% of the US professional editing market, with Avid at 22%.”
http://en.wikipedia.org/wiki/Final_cut_pro
“Since the early 1990s, Media Composer has been the dominant non-linear editing system in the film and television industry on first Mac and then both Windows and Mac OS platforms.”
http://en.wikipedia.org/wiki/Media_Composer
Read ‘em and weep.
April 10, 2009 pukul 3:25 pm
sebenarnya sih males membalas tukang ngeles, tapi let me reiterate:
dan orang yang sama menulis kutipan, lengkap dengan cetak tebal:
kalau baca komentar saya, saya sudah menyertakan kasus film youtube dan editing perseorangan (video mantenan kawinan misalnya). kalau ini anda sejajarkan dengan pembuatan film elephant dan ants bully, ya sudah pasti industri televisi jauh lebih banyak ketimbang industri film.
kemudian, maksud anda “belum pernah melihat Hollywood” itu apa? komentar saya masih ada di atas, silakan anda baca ulang dan kutip yang benar. tapi kalau tulisan saya masih dipotong seenaknya, ya silakan saja nikmati tulisan anda sendiri tanpa pedulikan masukan dari saya.
April 10, 2009 pukul 3:48 pm
mengikuti link anda, malah bikin ketawa
)
http://en.wikipedia.org/wiki/Media_Composer
silakan cek bagian current version. semuanya adalah format bukan FILM. paling banter 1920×1080 HD.
http://en.wikipedia.org/wiki/Final_cut_pro
HD, DV dan SD video format.
andai anda masih belum mengerti kenapa saya ketawa, karena saya bicara “FILM”, yang anda berikan contoh software adalah yang tidak capable untuk sebuah produksi film.
kalau masih belum mengerti apa yang saya bicarakan, coba lihat shake dipakai untuk membuat apa saja:
http://en.wikipedia.org/wiki/Shake_%28software%29#Use
Shake has been used in such films as Peter Jackson’s The Lord of the Rings and King Kong, as well as Harry Potter movies and Cloverfield. It was also used by The Embassy to create a television advertisement for Citroën with a dancing car. Shake was used by Broadway Video for restoring the release of “Saturday Night Live: The Complete First Season” DVD box set. It is also in use by CBS Digital for creating new visual effects for Star Trek Remastered.
Other major productions using Shake include the 2005 adaptation of War of the Worlds, Star Wars Episode III: Revenge of the Sith, Fantastic 4, Mission Impossible 3, Poseidon, The Incredibles, Hulk, Doctor Who, The Dark Knight and Pirates of the Caribbean 2.
read it and weep? you made me laugh.
gini aja deh, coba sebutin referensi anda soal adobe premiere, final cut pro ataupun media composer, film mana yang pernah pakai software itu.
April 29, 2009 pukul 9:48 am
Ryosaeba,
Shake itu bukan NLE program.
Dan untuk mengutip dari Website resmi Shake,
Anda bukan orang film ya?
Ohya, sejak kapan gua bilang format “film”?
Yang gua maksud adalah “film” dalam penggunaan di bahasa Indonesia yang berarti “movie”.
Salah kaprah Anda.
April 7, 2009 pukul 12:45 pm |
Postingan yang menarik. Saya juga males pakai Linux, habis ngeselin seperti yang mas bilang diatas itu.
April 7, 2009 pukul 1:54 pm |
Ternyata Anda juga berpikiran terbuka…
Salut.
April 8, 2009 pukul 7:08 am |
Hyahahahaha, ini bang vavai lagi iseng ya
April 8, 2009 pukul 7:18 am
Hehehe, habisnya saya takut kalau reply nanti malah kontra-produktif jadi lebih baik saya belajar dari yang urun rembuk disini. Siapa tahu ada manfaatnya untuk pengembangan openSUSE Indonesia
April 9, 2009 pukul 11:24 am
Betul Vavai. Kembangkanlah software dengan user in mind.
April 7, 2009 pukul 1:16 pm |
codec yg tidak terinstall saya rasa merupakan suatu kelebihan. diharapkan (meskipun jarang dan ujung2nya bilang sux) pengguna mau bertanya alasannya sehingga bisa belajar ttg hukum2 yg berhubungan dengannya.
iya nih bosen jg ama linux. mo jajal2 minix/BSD/hurd
April 7, 2009 pukul 2:02 pm |
Kelebihan untuk siapa, Kusut?
Dan hukum-hukum apa yang dimaksud?
Apakah hukum copyright codec MP3?
Dalam perjanjiannya, setiap media player (kecuali yang free dan open source) yang bisa memutar file MP3, harus membayar biaya royalti kepada Fraunhofer/Thompson. Dan tampaknya, Apple dan Microsoft sudah membayar royalti ini.
End-user yang awam, tidak perlu tahu soal ini. Dan mereka juga tidak mau tahu. Mereka cuma pengen dengerin musik.
Ya, sama, gua 1 minggu pake Linux juga udah stress. Semua pekerjaan gua ga ada yang jadi. Gua ga bisa ngedit film (dengan bener), ga bisa rekaman lagu (Audacity gak level), pokoknya gua jadi malah ngurusin si Linux daripada ngurusin kerjaan gua.
Tapi, server sama carputer gua sekarang masih pake Linux.
April 7, 2009 pukul 2:30 pm
Ya (dan paten jg). Lebih bagus kan klo masyarakat bisa lebih aware. Dan juga mendukung penggunaan free format (dan ini jg ga ada yg peduli).
Emang si klo berhubungan ama kerjaan mending pake yg dah biasa dipake. Daripada ribet.
April 7, 2009 pukul 3:36 pm
Iya, gua setuju. Kalo urusan pekerjaan, keribetan dalam ngurusin OS harus diminimalisir.
Tapi kenapa kita *harus* menggunakan free format?
Kenapa ragu-ragu mengeluarkan uang untuk sesuatu yang memang berguna?
Free format di audio adalah OGG Vorbis. Keunggulannya? Tingkat kompresi, gratis, dll. (Gua tulis ‘dll’ karena gua ga tau apalagi keunggulannya.
Propertiery di audio, MP3. Keunggulannya? Bisa diputer di iPod dan di handphone.
Gua sih milih format yang bisa diputer di iPod dan hape gua. Walopun gua harus bayar. (Tapi gua ga bayar tuh, yang bayar si Apple sama Sony Ericsson).
April 7, 2009 pukul 2:43 pm |
Jujur sih, memang memakai Windows tu mudah, nyaman dan nggak ribet. Asli Mas! Kapan ya Linux bisa lebih mudah dan nyaman seperti itu???
Tulisan yg menarik, Mas. Salut!
April 7, 2009 pukul 3:28 pm |
Terima kasih.
Itu dia. “Kapan”-nya itu yang gak bisa dipastikan. Selama orang-orang seperti Somat dibawah ini masi banyak di dunia.
April 7, 2009 pukul 2:49 pm |
duh…. tulisan yang atas ngalor yang bawah ngidul, gak nyambung,
katanya gak ngebandingin Linux sama OS lain, katanya Linux gak pantas di bandingin sama OS lain, tapi bilang :
“Windows adalah untuk kantor. OS X untuk kerjaan-kerjaan spesifik dan untuk santai”
lha…. Windos sama OS X itu bukan OS ya?
“Para penyembah-penyembah Torvalds berkata”
ada aliran baru ya? penyembah Torvalds ?
“Tapi yang bikin gua sangat eneg sama Linux adalah, prinsip kebebasan”
Coba rasain eneg nya sama liat orang pamer laptop / desktop pake barang bajakan enegan mana tuh?
“Bisa gua bayangkan, ada ratusan juta orang kayak si cewek itu. Yang mau beli komputer buat fungsi-fungsi yang gua sebut itu doang”
Komputer / Laptop nya beli, OS dan Aplikasi nya beli juga ?
“Sekarang, mana dari 12 poin di atas yang merupakan keunggulan Linux? ”
Bisa di tunjukan data statistik atau mungkin ada yang pernah benchmark sehingga mendukung pendapat anda tersebut di atas? bukan hanya perkiraan – perkiraan yang gak jelas?
“dan mencemooh mereka yang menggunakan program propertiery.”
Perasaan yang di cemooh itu yang pembajakannya?
“Ibaratnya, elo bisa makan gratis dari tong sampah. ”
mendingan makan dari tong sampah, dari pada menjadi sampah masyarakat (pembajak = pencuri) yang artinya sampah = isi dari tong sampah.
“Gua menggunakan Ubuntu Server di rumah gua. Dan gua menggunakan handphone dengan sistem operasi Android.”
ya.. memang bener – bener gak nyambung dari atas sampai bawah tulisannya. coba bandingkan sama yang ini :
“Linux sama sekali gak unggul di satu poin pun untuk kegunaan sehari-hari”
dah bilang gak unggul, masih di pake juga….. hm…. heran. sama banding kan juga sama yang ini :
“walaupun gua adalah pembajak dan mendukung pembajakan dalam skala individual”
pake Ubuntu Server itu mbajak ya? mbajaknya dari sisi mana? aNeH.
ah…. ogut molor aja ah……
April 7, 2009 pukul 3:27 pm |
Dear Somat,
Anda kayak emosi ngebaca tulisan gua. Oke, gua jelasin pake bahasa yang sederhana biar bisa terkomprehensi sama Anda.
Berikut gua list argumen-argumen lo:
1. Di post gua, gua tulis “Liat, dari tadi gua gak membandingkan Linux sama sistem operasi lain?”. Lihat kata-kata “dari tadi”? Dari tadi gua gak bandingin, dan sekarang gua bandingin. Susah dimengerti ya?
2. “Penyembah Torvalds” adalah istilah gua untuk orang-orang kayak Anda.
3. Eneg-nya berbeda-beda bagi setiap orang. Bagi gua, lebih eneg ngeliat Linux zealots.
4. “Komputer / Laptop nya beli, OS dan Aplikasi nya beli juga ?”. Di komputer Apple, OS dan aplikasi sudah terinstall out-of-the-box. Di PC, Windows biasanya juga sudah terinstall. Pengguna “awam” gak mau repot-repot nginstall OS ke laptop kosong. Dan, iya. Komputernya beli, OS dan aplikasinya juga beli. Kecuali pake Linux ato bajakan.
5. Benchmark apa? Statistik apa? Anda perlu statistik dan benchmark untuk melihat Windows dan OS X lebih unggul daripada Linux? Dan fakta, bahwa tulisan gua membuat elo meminta benchmark, itu adalah perilaku defensif dari seseorang yang merasa kalah. Sekarang, coba tunjukkan, benchmark dan statistik yang membuktikan pendapat gua salah? Gak bisa kan? Udah gua kira…
6. Perasaan yang dicemooh bukan bajakan, tetapi sikap dari zealots yang merasa “lebih tinggi” dari orang-orang yang tidak bermasalah dengan software propertiery. Dan pemaksaan ideologi bahwa “software harus gratis”, itu yang mencemooh gua.
7. Logika Anda semrawut. Jadi maksudnya Anda lebih baik memakan pencuri? Apa nyambungnya sama artikel saya?
8. Poin terakhir yang bener-bener membuat gua geleng-geleng kepala soal orang kayak Anda. Lihat tulisah, “KEGUNAAN SEHARI-HARI”?! Apa SERVER itu adalah kegunaan sehari-hari? Kayaknya jelas dari tulisan-tulisan gua kalo gua bukan pengguna “awam”. Jadi wajar gua menggunakan sesuatu yang bukan untuk “kegunaan sehari-hari”. Argumen gua ditujukan untuk orang “awam”. Definisi “awam” udah gua tulis di salah satu komen gua di atas.
9. Memakai Ubuntu Server bukan membajak. Tapi gua memakai Hackintosh, XP, Photoshop, dan lain-lain tanpa membayar lisensi. Itu yang gua namakan membajak.
10. Iya, silahkan molor. Kumpulin energi. Cari inspirasi, dan besok balik lagi untuk ngebales tulisan gua ini.
Good luck!
April 9, 2009 pukul 11:10 am
elzafir said:
6. Perasaan yang dicemooh bukan bajakan, tetapi sikap dari zealots yang merasa “lebih tinggi” dari orang-orang yang tidak bermasalah dengan software propertiery. Dan pemaksaan ideologi bahwa “software harus gratis”, itu yang mencemooh gua.
Emang arti open source (Free Software) itu melulu gratis??? Loe salah ngerti man! Baca lagi!
April 9, 2009 pukul 11:21 am
Caelah. Ngajarin gua lo.
Hahaha. Sorry ya, “man”…gua ngerti maksudnya.
Lo sendiri yang bilang “melulu”…
Artinya, ada saatnya dimana open source itu diharapkan GRATIS.
Lo yang kayaknya gak ngerti.
Yang namanya Open Source, artinya source-nya terbuka lebar untuk SEMUA orang untuk bisa dimodifikasi.
By the way, ini aturan nomor satu dari ‘Open Source Definition’:
1. Free Redistribution.
The license shall not restrict any party from selling or giving away the software as a component of an aggregate software distribution containing programs from several different sources. The license shall not require a royalty or other fee for such sale.
Itu orang-orang harus bayar? Gak kan. Artinya apa?
GRATIS.
LOE YANG BACA LAGI!
April 9, 2009 pukul 11:29 am
selling OR giving away.
Ada 2 cara yg bisa dipilih di situ. Cuma memang, hanya yg kedua yg sering ditekankan dan diharapkan orang. Salah kaprah deh jadinya.
April 9, 2009 pukul 11:40 am
Nih gue ambil dari http://www.gnu.org/philosophy/free-sw.html
“Free software” is a matter of liberty, not price. To understand the concept, you should think of “free” as in “free speech,” not as in “free beer.”
“Free software” does not mean “non-commercial.” A free program must be available for commercial use, commercial development, and commercial distribution. Commercial development of free software is no longer unusual; such free commercial software is very important. You may have paid money to get copies of free software, or you may have obtained copies at no charge. But regardless of how you got your copies, you always have the freedom to copy and change the software, even to sell copies.
April 9, 2009 pukul 12:16 pm
Ya. Itu idealnya.
Tapi bukan kenyataannya.
Intinya, orang yang membuat programnya, tidak mendapat sepeserpun dari tersebarnya program itu di tangan orang lain.
April 9, 2009 pukul 12:24 pm
Ya itulah free software!. Paradigma baru ciptaan richard stallman. Sun microsystem dah ngopen source kan Java. Eh skrg microsoft bikin project open source…. Weleh weleh… Ada apa dengan microsoft??
April 9, 2009 pukul 12:31 pm
Waduh, gak tempe saya.
Tanya sama Bill Gates sono.
Open Source = Sosialisme.
Di mana yang malas dapet duit dari menjual program yang dibikin sama yang rajin.
April 9, 2009 pukul 12:42 pm
Ah itu sih gak masalah. Daripada monopoli gila2an oleh microsoft, belum lagi pembodohan thdp masyarakat. Gara2 ada minix, trus linux, semua orang (termasuk akademisi) bisa tau bagaimana sebuah sistem operasi dibuat. Ntu ilmu yang gak ternilai bro. Sangat2 gak ternilai. Free Software adalah bentuk demokrasinya dunia IT.
Mei 2, 2009 pukul 3:36 pm |
wkwkwkwkwkwk… lucu mat. hiks
April 7, 2009 pukul 3:17 pm |
hmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm
April 7, 2009 pukul 3:44 pm |
Iya nih, mas-nya kalo dibaca2 dari komentarnya kayak orang munafik ya?
Udah gitu bangga lagi.
Ada juga, namanya maling gak ngaku, tapi mas yang satu ini, ngaku dengan bangganya.
Kalo gak suka dengan linux, ya sudah, yang konsisten gitu loh. Jangan malu2-in. Di satu sisi njelekin linux, di sisi lain pake linux juga.
Aneh nih orang.
Tipe komentator aja nih.
Komentar doank gak ngasih solusi.
O ya, katanya lebih dr 50% pemakai windows kena virus ya? Kalo dikonversikan, bisa jadi waktu yg dibutuhkan untuk mbersihkan virus windows bisa dipake untuk belajar linux.
Salut aja deh sama mas yang bangga dengan windows bajakannya.
Mudah2an tidak kena razia ya mas…
Peace…
Saya pake linux mas.
Masih belajar, tapi enjoy aja tuh…
April 7, 2009 pukul 5:46 pm |
Yang namanya “munafik” tuh ya, menurut kamu Princeton
a person who professes beliefs and opinions that he or she does not hold in order to conceal his or her real feelings or motives
Kalo gua? Gua benci sama Linux zealots, dan gua gak mendukung ideologi bahwa software harus gratis. Itu opini gua. Tapi gua gak menolak jika fakta Linux mempunyai fungsi dalam hidup gua. Yang gua tolak disini adalah SIKAP dari orang-orang penggemar Linux, yang ngatain gua munafik. Gua gak bohong kalo gua pake Linux. Sekarang gua tanya, Anda nonton DVD bajakan ga? Trus denger musik bajakan ga? Pernah fotokopi buku gak buat kuliah? Pernah main di warnet yang Windows-nya gak original? Pernah download ebooks yang gak free? Kalo Anda PERNAH, maka Anda lah yang munafik, nak.
Maling yang gak ngaku tuh bener ga? Kalo maling yang ngaku?
Masalahnya, gua gak menganggap perilaku gua ini “mencuri”. Gua cuma “meminjam”. Dan gua bilang, hanya untuk pemakaian individual. Lebih jelasnya soal pembajakan, udah pernah gua bahas di post gua sebelumnya, 2 tahun lalu.
http://elzafir.wordpress.com/2007/05/23/potential-loss-of-piracy/
Yo ho, yo ho, a pirate’s life for me.
We pillage plunder, we rifle and loot.
Drink up me ‘earties, yo ho.
We kidnap and ravage and don’t give a hoot.
Drink up me ‘earties, yo ho.
April 7, 2009 pukul 3:56 pm |
eala.. lo di dikte dari awal make windows kan ?? bingung ga waktu lo ngoperasiin windows awal2 ?? ahahah.. skrg lo coba pikir, seandainya lo di dikte make linux dari kecil, lo pasti ga ngerti cara operasiin windows. begitu juga dengan mac os..
mikir lah..!!!
budaya kita itu budaya maju, bukan budaya yg bermalas2an.. mw sampe kapan bangsa terpuruk jika ga menguasai hal-hal baru ??
April 7, 2009 pukul 5:52 pm |
Kalimat Anda menyiratkan bahwa gua gak ngerti Linux? Asumsi yang sangat berlebihan, kawan. Gua menggunakan Linux untuk server gua di rumah. Jadi gua ngerti Linux. Ini bukan masalah bingung ato gak bingung. Masalahnya adalah, Linux di gak di desain “with the cosumer in mind”. Ngerti gak? Linux dibikin sama hacker. Yang make, kebanyakan hacker dan orang-orang gape IT.
Windows dan OS X? Yang design seorang marketer. Orang yang tau gimana jualan. Dan untuk menjual supaya laku, mesti ngerti apa yang dimauin pasar. Yang kayaknya para developer Linux gak ngerti.
April 8, 2009 pukul 9:57 am
maksudnya mas mbuh…. coba dari kecil (sd) kurikulum kita pake GNU/Linux bukan windows, pastilah akan kebalik kira2 judul tulisan anda bisa jadi “gua benci windows”
April 9, 2009 pukul 11:27 am
Sayangnya itu cuma angan-angan. Karena waktu gua SD, Linux ga ada apa-apanya dibanding Windows 3.11 dan Mac OS.
Juli 3, 2009 pukul 6:54 am
uda jelas kan, yang pake windows ma mac tu orang awam, ga peduli ma keamanan sistem, sedangkan pengguna linux tu para hacker
jadi para orang awam.. pakailah windows ato mac, dan dengan wajah tak berdosa sebarkanlah virus2 ciptaan kami dari komputermu ke orang2 didekatmu
linux bukan mainan buat anak seumuranmu nak..
~kejahatan kami adalah lebih pintar dari kalian
April 7, 2009 pukul 3:59 pm |
Pendapat elzafir adalah opini elzafir yg saya rasa sah2 saja, jadi bagi yg ingin memberikan komentar perlu diingat bahwa anda akan mengomentari opini dari elzafir dan bukan hasil data akurat dari sebuah research.
Selanjutnya :
Saya suka bagian ini karena terjadi juga di saya,
” Ya, sama, gua 1 minggu pake Linux juga udah stress. Semua pekerjaan gua ga ada yang jadi. Gua ga bisa ngedit film (dengan bener), ga bisa rekaman lagu (Audacity gak level), pokoknya gua jadi malah ngurusin si Linux daripada ngurusin kerjaan gua. ”
Menurut saya memang linux dan keluarganya harus di akui tidak familiar buat end user. Paling tidak ada beberapa hal yg saya tangkap ketika orang memutuskan untuk nyoba2 linux :
1. Mencoba hal yg baru (dominan)
2. Tantangan
3. Tampil beda
4. Terpengaruh teman
5. Kebanggaan (menurut dia)
===untuk hal2 yg bersifat teknis, sangat bisa diperdebatkan karena yg satu unggul di sini dan yg lain unggul di situ dan sebaliknya ===
Tapi anda jg jgn lupa bahwa linux itu dikembangkan oleh pengguna komputer dari enduser sampai programer handal di seluruh dunia dan itu tidak pernah di temukan dalam sejarah manusia selain di linux. Saya rasa itu keunggulan linux yg paling kelihatan. Mungkin pengguna biasa tidak perduli itu, tapi perduli atau tidak perduli gak ngaruh tuh…perkembangan linux terus berjalan.
Kalo tidak ada linux yah…ngga ada TUX, karena yg lainnya logonya bukan pinguin, mungkin lebih bagus tapi bukan pinguin.
BTW saya sangat suka linux (walaupun sampai sekarang gak expert), saya suka linux karena bisa jadi mainan alternatif selain mainin mainan2 yg lain
thnx.
April 7, 2009 pukul 6:03 pm |
Makasih komennya ferry. Gua sangat setuju sama 5 poin yang Anda utarakan!
Dan betul, bagi gua Linux itu ‘mainan’…ato bahasa inggrisnya, ‘Hobby OS’.
Orang (end-user, bukan IT administrator atau sejenisnya) berkutat di Linux karena hobby, bukan karena butuh.
April 9, 2009 pukul 7:18 am
Saya pake OS linux gak buat hobby. Tp buat bekerja sehari2. Smua karyawan di tempat sy bekerja pake linux n fine2 aja tuh. Malahan sy gak ribet untuk ngurusin virus2 yg beredar di OS yg laen.
Di kantor sy sih gak pake macem2…Cm aplikasi kantoran aja. dan OpenOffice sudah cukup memenuhi kebutuhan. Buat apa bli license klo yg Opensource aja ada. Klo ada yg halal (gak mbajak)..buat apa pake yg haram (bajakan)…Supaya income perusahaannya jg tambah halal tanpa terkontaminasi dengan hal2 haram (bajakan).Bukannya sok alim bro…INGAT .. MBAJAK = MENCURI…Jd gak betul kalo di bilang linux ribet.
April 9, 2009 pukul 11:31 am
Kalau urusan kantor, itu bukan “individual” lagi, dan gua sama sekali gak menyarankan untuk menggunakan software bajakan untuk mencari uang. Ya, untuk pekerjaan sederhana, Linux itu “cukup”. Cukup = tidak berlebih. Dan kalau tidak ada kelebihannya, itu tidak bisa membuat orang tergoda untuk loncat platform.
Membajak = mencuri. Kjebur, Anda punya MP3 gak di komputer Linux Anda? Apakah MP3 itu dibeli secara legal?
April 18, 2009 pukul 9:10 pm
“Membajak = mencuri. Kjebur, Anda punya MP3 gak di komputer Linux Anda? Apakah MP3 itu dibeli secara legal?”
si zafir sotoy
kalo orang awam emang ga ngerti linux, ya udahlah emang kenapa mereka juga ga peduli lo bahas tentang yg lo posting diatas.
April 29, 2009 pukul 9:50 am
r.y,
Apa sih? Tulisan loe gak bisa dimengerti.
April 7, 2009 pukul 5:04 pm |
kayanya sebagian besar yg komen di sini ngga baca tulisan mas dg baik2 yak? ngga nyoba memposisikan diri sebagai pengguna *biasa* yang ngga pernah, ngga bisa, bahkan ngga pengen ngoprek2 walau sekedar tuk kustomisasi. akhirnya, seperti yg sudah saya perkirakan, bakal “ramai” =))
bbrp komentar:
1. “Kenapa ragu-ragu mengeluarkan uang untuk sesuatu yang memang berguna?”
Setuju! namun yg menurut saya perlu direnungkan lebih lanjut, apakah pengeluaran itu berlebihan atau tidak.
Sebagai contoh dulu saya sempat berniat membeli iWork berhubung saya sangat suka dg Keynotenya dan trial versionnya udah abis. Udah masuk ke apple store tapi akhirnya keluar lagi. Karena di dalam saya mikir, ah tugas2 berikutnya saya jg gak bakal banyak presentasi. Jadi, ngapain ngeluarin duit 97 euro kalo pada akhirnya gak dipake. Neooffice/OpenOffice jg masih cukup tuk presentasi sekali2 dan itu jg gak perlu terlalu “bergaya” =D
Contoh lain.. tuk org yg cuma sekali dua kali pengen nyoret2 bikin gambar/edit foto (bukan profesional).. masih banyak alternatif lain selain photoshop yg mahal itu yg mungkin masih cukup dg kebutuhannya. selain gimp, masih ada paint.net yg kayanya bagus (saya blm pernah make), dll. Yg aneh kan kalo gak gtu2 perlu tp rela ngeluarin duit ratusan dolar tuk beli photoshop. Yaa.. kecuali kalo ybs udah kebanyakan duit sampe bingung mau diapain lagi.
*eh ini kondisinya gak pake acara ngebajak ya*
2. “Sementara Linux? /usr,/dev,/home,/media….”
Sebenarnya Mac OS X juga sama isinya, namun si Mac OS X lebih bagus dalam urusan “menyensor”. Direktori2 tsb tetap ada, tetap bisa diakses, tetap bisa digunakan, namun tidak ditampilkan jika memang tidak perlu diketahui. Dann.. kalau mau dibandingkan, sebenarnya Nautilusnya GNOME jg telah melakukannya. Singkatnya, jgn buka Terminal (termasuk Terminal.app si Mac OS X) kalo gak mau ngeliat yg aneh2 =D
Salah satu prinsip dalam perancangan user interface yg pernah saya baca adalah “hide complexity from users” dan saya sangat setuju dg ini. Kasih user hanya apa yang dia butuhkan atau harapkan tuk ada.
Kalau Gobolinux, yg pernah saya baca, dia sampe ngubah2 kernel tuk melakukan penyembunyian direktori2 aneh2 ini. Struktur direktori jg diubah agar lebih hirarkis berdasarkan program, bukan fungsi (binaries, libraries, configs, etc).
Tuk windows, sebenarnya sih sama aja kalo ngeliat isi \Windows =)) cuma kan direktori tsb kayanya jarang2 dilihat oleh si user. dan berhubung yg aneh2 itu terbungkus oleh hanya satu direktori, yaitu Windows, maka kalau si user ngeliat root dir nya (err.. drive C maksudnya), si user gak akan pusing ngeliat direktori aneh2.
3. “Orang-orang lebih milih untuk ngeluarin uang jutaan untuk Windows atau OS X, dibandingkan harus berepot-repot ngetik ’sudo apt-get’ dan sebagainya untuk install program.”
Menurut saya, kalimat di atas rada2 kurang tepat. Kalau ngomongin instalasi, lebih baik ngomongin modelnya. Menurut saya, perbedaan mendasar antara dunia Linux dan Windows/Mac OS X adalah tempat dimana aplikasi tsb bisa ditemukan. Di dunia Linux, aplikasi biasanya sudah disiapkan oleh pembuat distro dalam repositori. Dari vendor, aplikasi akan jatuh ke tangan pembuat distro dulu sebelum akhirnya sampai di tangan pengguna. Sedangkan di windows/Mac, aplikasi biasanya ditemukan langsung di tempat si vendor.
Model repositori sebenarnya enak karena instalasi/penghapusan bisa dilakukan dari satu tempat saja. Seluruh aplikasi yang ada tersedia sudah didaftarkan jadi mudah kalau ingin nyari2. Yang bikin males adalah ketika aplikasi yg kita mau tidak ada di repositori, jadi harus mengunjungi si vendor scr langsung.
Kalau si vendor punya aplikasi dalam bentuk yang siap instal di OS yg kita pakai, ya bagus. Tinggal dipasang saja dan urusan beres. Namun andai tidak cocok, ya antara pasrah dan harus cari alternatif krn bener2 tidak disediakan vendor atau siap2 menyediakan waktu luang andai si vendor menyediakan versi yg tidak sepenuhnya cocok atau bahkan dalam bentuk mentah.
4. Mereka nyaman karena menemukan fungsi yang dibutuhkan di Windows. Gamers ketemu games. Fotografer ketemu Photoshop. Filmmaker ketemu Premiere dan AfterEffect. Sound engineer ketemu Cubase.
Tuk yg satu ini, kayanya udah ke masalah fungsi/fasilitas yg sesuai dg kebutuhan. Fotografer, filmmaker, sound engineer itu menurut saya bukan pengguna biasa lagi, sudah spesifik ke suatu jenis pekerjaan tertentu yang juga membutuhkan aplikasi2 khusus yang mendukung pekerjaannya. Gamers itu nyari game, berhubung game banyak di windows, ya pakailah windows kalo mau bisa main *banyak game*. Namun andai si gamers pengen main game yg cuma ada di Linux/Mac OS X dan benar2 pengen main game tsb, ya ybs harus make Linux/Mac OS X tuk memainkan game tsb. Begitu juga dengan profesi lain dan aplikasi yang dibutuhkannya.
Itu dulu ah komentar saya.. ntar kerjaan gak kelar2 =))
oh ya mo nambahin. Kalau mau ngomongin komunitas, maka OS dg komunitas terbesar sudah pasti Windows! Makanya “forum komputer” kemungkinan besar berisi diskusi windows dan aplikasinya. Belum pernah saya temuin “forum komputer” yg diskusinya sebagian besar mengenai Linux bahkan Mac OS X. Kedua OS ini baru deh diomongi di “forum linux” maupun “forum mac os x” dan kayanya tidak pernah ada yg namanya “forum windows” =)
eh ini saya gak ngeblog di komen kan? =))
April 7, 2009 pukul 6:23 pm |
Iya, menurut gua juga, mereka gak baca tulisan gua.
Mungkin tl;dr kali. Tapi itu malah bikin komen mereka jadi lucu!
Gua juga punya tanggapan sama komentar Anda.
1. Kalo gak pake acara ngebajak, GIMP emang pilihan bagus! CUma buat iseng-iseng, dan kerjaan non-serius. OO.o juga cukup buat nulis-nulis biasa. Nah, yang gua bingung adalah, para zealots ini, bahkan ‘membenci’ MP3, Opera, dan aplikasi-aplikasi free but closed source lainnya. Dari komen Anda, Anda menggunakan OS X, tampaknya? Setuju gak kalo dengan OS X Anda lebih produktif dibanding make Linux?
Btw, Paint.NET, bagus secara fungsi, tapi jelek secara memory management. Dia pake framework .NET, yang terkenal memory hog. Gua make 10 menit, nyerah.
2. Ya betul. Karena OS X juga Unix-like. Tapi dia pinter, karena dia nyembunyiin direktori-direktori yang gak ada hubungannya sama end-user. Memberikan kesan rapih dan nyaman.
Windows, ya itu maksud gua. Microsoft menyembunyikan semua file sistem dalam folder WINDOWS. Agar tidak membuat pengguna bingung.
3. Model repositori nya bagus, bikin instalasi software simple. Tapi itu kayak bisnis ban. Semakin bagus dan kuat sebuah ban, orang bakal makin jarang beli. Alias, makin banyak yang make repo, makin gak sanggup reponya nge handle. Untuk ngehost repo-repo itu kan perlu biaya. Dan kalo para Linux user ga ada yang ngeluarin duit buat software-softwarenya, gimana repo nya bisa survive? Sekarang Canonical masi bisa nalangin, karena yang make Linux, apalagi Ubuntu, masih dibawah 1 persen dari seluruh pengguna komputer. Tapi gimana kalo yang make 90%? Kuat tuh bandwidth? Dan gada duit juga buat bayarin.
Kecuali, mereka ngejual produk-produknya dalam bentuk lisensi. Tapi masalahnya, kalo ada yang gratis, mana ada pengguna Linux yang mau bayar? Contohnya, berapa orang sih yang beli CrossOver dari CodeWeavers?
4. Fotografer, filmmaker, sound engineer, termasuk pengguna “awam” dalam bidang IT. Karena mereka bukan IT expert, kayak temen-temen kita di sini. Mereka itu SENIMAN. Yang pengen menggunakan komputer sebagai ALAT kesenian mereka. Dimana-mana, tukang kayu males bikin gergaji sendiri, mendingan dia beli gergaji yang udah jadi, biar kayunya lebih cepet kepotong.
April 7, 2009 pukul 7:01 pm
1. “Dari komen Anda, Anda menggunakan OS X, tampaknya? Setuju gak kalo dengan OS X Anda lebih produktif dibanding make Linux?”
Kalau gw rasa, sama saja =D mungkin krn kerjaan gw kalo gak browsing, ya ngoding, ato eksperimen2 yg kebanyakan di aplikasi2 opensource yg biasanya multiplatform. Jadi gw gak merasa masalah mo pake mac ato linux. Gw jg gak make aplikasi aneh2 jadi yaa.. gw gak begitu merasakan bedanya.
Berhubung gw dah terbiasa make terminal, bahkan di mac pun make terminal. Alhasil, pas make windows jadi kagok =))
3. “Tapi gimana kalo yang make 90%? Kuat tuh bandwidth? Dan gada duit juga buat bayarin.”
Dari segi pemakai: Kalau di Ubuntu, khususnya di Indonesia, skr ada program dvd repository. Seluruh aplikasi yg ada di repo dimasukin ke dvd supaya lebih mudah didistribusikan. Ini salah satu solusi bagi orang2 yg ngga punya akses internet bebas.
http://wiki.ubuntu-id.org/DistribusiDvdReposUbuntu
Dari segi yang ngehost: Itulah salah satu gunanya mirror. Jadi beban juga didistribusikan. Dan di dunia open source, entah mengapa, banyak “dermawan” yang mau susah payah bikin mirror dan mendanainya.. hehe..
“Tapi masalahnya, kalo ada yang gratis, mana ada pengguna Linux yang mau bayar?”
Kayanya hal ini jg berlaku tuk pengguna OS lain. Kalau ada yg gratis (dan masih mencukupi kebutuhan) ya ngapain pake yang bayar?
Banyak orang yg suka salah kaprah dan ngga sembuh2 salah kaprahnya. Berpikir free yg diusung oleh linux dkk itu artinya gratis. Apapun maunya gratis dan kadang malah menyalahkan yg gak ngasih gratis. Malah berpikir seluruh yg ada di linux *pasti* gratis.
5. “Mereka itu SENIMAN. Yang pengen menggunakan komputer sebagai ALAT kesenian mereka.”
Ya betul. dan alat ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan sistem operasi (kita lagi ngomongin OS kan? ato ngga?). kalau alat yg dibutuhkan hanya tersedia di sistem operasi tertentu, ya mau ngga mau sistem operasi tsb harus dipakai kalau ingin menggunakan alat tersebut.
April 7, 2009 pukul 7:05 pm
nambahin komentar ttg repositori:
sebenarnya (setidaknya ini berlaku di ubuntu) repositori itu kan ngga harus satu. Setiap vendor bisa saja menyediakan repositorinya sendiri2. Pengguna tinggal mendaftarkan repositori dari setiap vendor yang aplikasinya ingin dipakai.
Di apple.com ada katalog aplikasi yg jalan di Mac OS X http://www.apple.com/downloads/macosx/ sayang itu hanya katalog dan tidak dapat digunakan sebagai repositori. Andai kalau bisa, pastinya bakal keren banget =D
April 7, 2009 pukul 5:51 pm |
tes tes 1 2 3.. mengapa komen saya tak masuk? kalo termoderasi, biasanya ada tulisannya.. kalau memang dimoderasi, tolong hapus duplikasi2nya.
April 7, 2009 pukul 6:00 pm |
Sorry iang, si Akismet rada-rada rese sama komen yang panjang. Jadinya dikategoriin Spam sama doi. Tapi udah gua approve kok.
April 8, 2009 pukul 1:59 am |
Akhirnya ada Mas Iang yang udah mau bantu si mas Elzafir untuk sedikit memikirkan mana yg terbaik buat mas Elzafir gunakan…
Amin…..
April 8, 2009 pukul 2:46 am |
yup setuju…
berlebihan memang tidak baik… berlebihan suka… begitu juga berlebihan benci… masing-masing ada porsinya ko…
macam gue, gue admin di kantor hosting yang 100% hostingnya windows… lah… desktop yg gue pake malah linux… lawong kebutuhannya cuma buat remote, ngoding sama testing… lebihnya… install aplikasi windows di linux pake wine… lumayan ngebantu dan bisa ngelarin kerjaan… sejauh ini sih kebutuhan gue terpenuhi hanya pake desktop linux… yang padahal gue ngelola server yang full windows…
so… itung-itung ke porsi sajalah… sesuai kebutuhan… lagian juga di linux ga semuanya free ko… ada juga yang harus berbayar… cuma lagi-lagi balik ke kebutuhan masing-masing…
wacana macam gini memang harus ada jadi ga ada istilah fanatisme kesukaan… juga ga ada istilah fanatisme kebencian…
Thx bro…
April 8, 2009 pukul 3:03 am |
tambahan aja aahh… info ajah…
windows server 2008 juga sekarang ada yang versi terminalnya… jadi ga pake desktop… dan udah open ke aplikasi linux… malah konfigurasi web servernya juga udah kayak apache sih…
so… welcome to text command configuration for windows server 2008…
April 10, 2009 pukul 1:15 pm |
Permisi Om elZafir, bantuin AaQbenk
Ada yang jual tuh mas
Windows Web Server 2008 OEM harga Rp 4Juta kalo harga baru 5 Juta
http://bhinneka.com/aspx/bursa/brs_ads_product_detail.aspx?AdsID=ADS090400001395
April 8, 2009 pukul 3:12 am |
Faktanya bahwa Linux, Free Software dan Opensource adalah konsep teknologi baru yang suka atau tidak suka akan terus berkembang.
Ini terjadi di dunia photography
Dulu banyak para photografer yang menggunakan kamera Analog/Film yang tidak suka dengan adanya photography digital dengan alasan tidak creatif, hasilnya tidak sebagus kamera Analog/Film dan jutaan tenaga kerja terancam PHK karena teknologi ini ( Pabrik Film 135, Pabrik Pembuat Mesin cuci Film, Pabrik, pembuat Chemical untuk cuci Film harus tutup karena tidak di butuhkan di teknologi digital ).
Toh kamera digital terus berkembang yang akhirnya mengilas kamera Analog dan hasilnya melebihi Kamera Film tapi ada yang menjadi korban yaitu para pabrik yang saya sebut diatas, tetapi apa kita harus menyalahkan kamera digital atas kejadian tersebut? jawabannya tidak, karena teknologi terus berkembang.
Linux, Free Software dan Opensource akan terus berkembang dan menyempurnakan diri untuk kemudahan para pengguna di seluruh dunia dan ini cuma masalah waktu. dan jangan salahkan Linux, Free Software dan Opensource jika ada Perusahaan pembuat software propertiery tutup dan banyak PHK (bukan di blog ini tapi saya perna baca di forum lain yang menyalahkan Linux, Free software dan Opensource atas terjadinya PHK terhadap tenaga IT).
komentar anda:
“Liat, dari tadi gua gak membandingkan Linux sama sistem operasi lain? Itu karena Linux gak pantes untuk dibandingkan!”
dan anda adalah orang yang saya maksud sebagai photograher analog/film yang mengatakan bahwa hasil photo dari kamera digital tidak akan menyamai hasil photo dari kamera film, yang bisanya cuma mengeluh dan ngdumel.
Windows, Mac, Linux, Freebsd, Opensolaris adalah Operating system dimana anda bisa memilih sesuai kebutuhan.
jadi silakan pilih dan jangan jadi orang cengeng
April 8, 2009 pukul 5:41 pm |
Jadi Linux digital dan sistem operasi lainnya adalah analog?
Pff…zealots, gua ga pernah ngerti cara mikir mereka.
Yayaya…
By the way, baca dulu artikelnya sebelum komentar.
April 9, 2009 pukul 4:44 am
saya sudah baca artikel anda
tolong pahami juga komentar saya
Mungkin saat ini Linux masih belum bisa memenuhi untuk kegiatan anda sehari-hari
saya bilang :
“Linux, Free Software dan Opensource akan terus berkembang dan menyempurnakan diri untuk kemudahan para pengguna di seluruh dunia ”
ngerti ga kang
anda bilang :
“Liat, dari tadi gua gak membandingkan Linux sama sistem operasi lain? Itu karena Linux gak pantes untuk dibandingkan”
“LINUX ZEALOTS! Bagi dia, Linux adalah kitab suci, dan siapa yang gak bisa memahaminya, berarti orang sesat. ”
berarti anda WINDOWS ZEALOTS dong
uhuyyyyyy
April 9, 2009 pukul 9:08 am
Ya. Bukannya “mungkin”, tapi “tidak” bisa mmemenuhi kegiatan sehari-hari.
Jika yang Anda omongin di masa depan, gua doain suaya kejadian.
Gua Windows zealots? Well, gimana ya? Tau gak artinya zealot?
Menurut Princeton:
zealotry – fanaticism: excessive intolerance of opposing views
Jadi, dalam hal ini, gua bukan zealot. Karena gua memiliki toleransi terhadap Linux. Misalnya OS di handphone, PS3, dan server. Semuanya pake Linux. TAPI, Linux belum bisa mengalahkan OS X dan Windows dalam mayoritas penggunaan (desktop), karena tidak ada keunggulannya. Tapi zealots terus-terusan promosi sampe bebusa.
April 8, 2009 pukul 4:27 am |
1. Kalo bisa beli rokok kewarung depan naek harley, ngapain naek sepeda.
2. Kalo bisa bawa ferari ke pasar buat beli sayur, ngapain naek tosa.
3. kalo bisa nyetop bis dideket leter S silang, ngapain mesti jalan lagi ke halte.
4. Kalo bisa nyewa pembantu buat masak, ngapain belajar masak.
Jawabannya….itulah “Indonesia”….
Yang penting gaya.
Salam,
Rangga
April 8, 2009 pukul 8:08 pm |
1. Kalo naik sepeda lebih lama, lebih cape, lebih buang waktu dan tenaga, ngapain? Ntar kerjaan gada yang keurus.
2. Kalo naek tosa (apaan tuh tosa?) gak efektif, ngapain bela-belain naik tosa, kalo malah bikin repot?
3. Kalo polisinya gak ada yang ngatur, masyarakat suruh ngatur dirinya sendiri?
4. Kalo bisa ngurusin hal lain yang lebih penting dari pada masak, ngapain belajar masak? Nyewa pembantu aja. Buka lowongan kerja. Masa pembantu disuruh kerja gratis? (emangnya developer Linux??)
April 8, 2009 pukul 6:27 am |
@Iang : setuju bro..
@Rangga : yoi coy.. banyak ketemu temen – temen di kampus yang kek gitu.
Masih sedikit berhubungan mungkin :
http://okto.silaban.net/2009/02/linux/linuxer-yang-kecewa/
Emang ndak enak ya pake Linux itu? Ribet.., susah… He..he..
Saya satu aliran sama Linus Torvalds : “Use the best tool for the job”
Dan *kebetulan*, semua kerjaannya saya paling baik hasilnya kalo dikerjakan di Linux
April 8, 2009 pukul 1:10 pm |
Ribet dan susah bagi orang tertentu.
Tapi selama ini para developer dan simpatisan Linux kan selalu preaching tentang betapa bagusnya Linux ke pengguna komputer non-IT capable.
Sayang sekali, bagi pengguna seperti itu, Linux tidak memiliki kelebihan apa pun yang patut dipertimbangkan. Terlebih lagi mereka sudah nyaman dengan apa yang ada. Jadi, inti dari artikel gua adalah untuk merangsang para developer Linux untuk berhenti mengeluh dan mulai memerhatikan para calon penggunanya dan memberikan USER EXPERIENCE yang LEBIH daripada alternatif yang ada.
Sayangnya, sikap yang sering ditunjukkan kepada converts-converts Linux justru mencengangkan: “This is Linux, its better. LEARN it”. Harusnya mereka ingat bahwa Linux adalah ALTERNATIF dari mainstream. Sebuah alternatif harus memberikan sesuatu yang LEBIH daripada yang sudah mapan.
April 8, 2009 pukul 6:31 am |
wah, sepertinya penulis sengaja membuat artikel debatable supaya rating blognya naik.
Mending lihat aja deh…..
Orang benci linux tapi masih pake linux…
April 8, 2009 pukul 8:35 am |
Tanpa post ini pun blog gua udah dikunjungi rata-rata 2500 kali per bulan,
jadi rating bukan concern gua.
a1, Anda ga baca tulisan gua sampe tuntas? Gua bilang gua benci sama penggunanya yang zealots. Sam Linuxnya ga terlalu.
Gua jadi kayak beo nih ngulang-ngulang hal yang sama ke setiap commenters.
April 14, 2009 pukul 4:42 am
Gak suka pengguna linuxnya kok ngeblognya soal “gak ada yg bisa dibanggain ma linux” Sbtulnya loe itu gak suka ma linuxers ato linuxnya ??
Udah tau bego kok masih gak ngaku ??
OJP *OraJepasPisan
April 29, 2009 pukul 9:54 am
Dua-duanya.
April 8, 2009 pukul 7:13 am |
Semua bebas memilih.. mo pake OS apa..
hanya di butuhkan kesabaran & kebiasaan untuk mempelajari, mengenal dan memahami penggunaan OS tertentu..
Semua OS memiliki sisi Plus / Minus.
Mas ElZafir, anda juga bebas berpendapat…
April 8, 2009 pukul 8:31 am |
Tentu saja. Ini blog gua.
April 8, 2009 pukul 9:01 am |
ah jadi pengen nulis komentar lagi.. tp skr bukan ditujukan ke penulis, namun ke komentator =)
jadi, ada dua hal utama yang saya tangkap dari tulisan ini. yang pertama adalah masalah orientasi pengembang dan pengembangan linux (dan keluarganya). hal yang kedua adalah perilaku para segelintir “aktivis linux”. begitu kah? tolong koreksi kalo salah
tuk masalah pertama. yang si penulis temui, pengembangan linux ini belum berorientasi ke pengguna awam (silakan cari definisinya sendiri). linux mungkin bagus dari segi teknis. canggih, tahan banting, aman, dan lain-lain. namun hal ini tidak menjadi fokus utama dari para pengguna rumahan. sedangkan hal-hal lain yg menjadi fokus para pengguna rumahan ini masih kurang diperhatikan oleh para pengembang linux. alhasil, tidak cocok. (oh iya, ini terlepas dari para vendor proprietary yang tidak mengeluarkan produknya yg berjalan di atas linux loh).
menurut saya, hal ini juga sudah mulai berubah sejak kedatangan ubuntu. Para pengembang ubuntu mungkin tidak banyak melakukan kontribusi yang sifatnya teknis, seperti pendapat Greg KH. Namun, menurut saya, ubuntu telah melakukan gebrakan besar dalam masalah “pengembangan yang berorientasi kepada pengguna awam”. Pembagian CD gratis itu salah satu contoh agar linux bisa cepat sampai ke tangan2 orang yang ngga mau repot download iso. Untung saja, dari segi teknis, Ubuntu disokong oleh Debian yang memang sudah kokoh dan mantab.
Namun sebenarnya, agar linux bisa lebih dalam lagi penetrasinya ke pengguna awam, linux jg harus didukung oleh vendor2 yang memproduksi aplikasi yang banyak digunakan oleh pengguna awam. Mungkin ini seperti masalah ayam dan telur. Vendor menanti sampai linux banyak digunakan, namun di sisi lain, linux jg kurang dilirik karena aplikasi yg biasa digunakan (khususnya yg proprietary) tidak tersedia di linux gara2 si vendor belum mengeluarkan versi linuxnya.
lalu untuk masalah kedua, tentang segelintir “aktivis”. si penulis ini merasa para aktivis ini merasa paling benar seolah2 tidak ada yang lebih benar dari dia. seluruh solusi *harus* menggunakan linux dan rekan2nya.
kalau anda bukan orang yang seperti ini, bagus. berarti anda tidak sedang diomongin oleh si penulis. kalau iya, maka andalah yang dimaksud oleh si penulis
kalau menurut saya sih, use the right tool for the right job. Gunakan aplikasi yang bisa mendukung pekerjaan kita. dan satu tambahan lagi, jangan maksa! misalnya kita sebenarnya ngga perlu photoshop namun kita maksa musti make photoshop, bahkan sampe ngebajak. Jadi, kita sendiri sebenarnya perlu tahu apa kebutuhan kita.
para pengembang kernel linux, termasuk Linus Torvalds, juga sempat menggunakan aplikasi proprietary (BitKeeper) tuk mengatur manajemen source kode linux. dan tetap merekomendasikan BitKeeper bagi siapa saja yang memerlukan solusi komersial. Silakan tonton http://www.youtube.com/watch?v=4XpnKHJAok8
yak sekian dulu..
April 8, 2009 pukul 9:46 am |
oh iya, nambahin lagi..
yg lg diomongin di sini itu developer kan bukan user? kalo ngomentarin user, misalnya “user males”, itu artinya udah salah sambung =D
trus, ttg faktor vendor yg enggan mengeluarkan produknya tuk linux, sebenarnya juga sudah dijembatani dg adanya wine. Google kalau ngga salah mensponsori pengembangan wine agar dapat menjalankan aplikasi2 popular tuk windows dg baik, seperti photoshop.
April 8, 2009 pukul 9:54 am |
Ah tetap aja windows is the best. Wekekekekeke
April 8, 2009 pukul 12:06 pm |
tukeran link yuk?
April 8, 2009 pukul 12:16 pm |
maksud loe??
April 8, 2009 pukul 1:05 pm |
Gua ada 1,000++ link-link….
Kalo mau tukeran, dengan senang hati gua kasih semua.
Tapi hati-hati, banyak link yang bisa bikin hidup Anda berubah selamanya.
April 8, 2009 pukul 1:11 pm
kasih dong link2 para zealots banggain linux mereka
April 8, 2009 pukul 1:24 pm
Haha. Dunia gak sebatas Internet, waltub. Gimana gua mau ngasi link, kalo kejadiannya di dunia nyata?
Tapi, kayaknya Anda PENGEN banget liat, ini ada beberapa contoh:
http://ubuntuforums.org/showthread.php?t=136717
http://my.opera.com/gnu_linux/blog/2007/03/20/why-linux-users-hate-windows
http://www.downloadsquad.com/2008/08/08/3-linux-apps-that-make-me-hate-windows/
http://www.perlmonks.org/?node_id=70562
http://www.computing.net/answers/linux/i-want-linux-i-hate-windows/24013.html
http://www.alexandrocolorado.com/wordpress/?p=396
http://www.sizlopedia.com/2008/03/29/10-reasons-why-linux-ubuntu-is-better-than-windows/
http://blogs.techrepublic.com.com/10things/?p=415
http://www.reichel.net/opensource/linuxtop10.html
Dan masih banyak lagi…ntar kalo gua nemu, gua kasih semua.
Sebagian besar yang keliatan jelas ada di comment-comment di http://www.digg.com, tapi gua gak bookmark.
Keliatan di sini, Linux is Better than Windows (kata mereka), tapi kok, gak nyampe 1% yang make? Apa alasannya?
BANYAK ALASANNYA. Tanya aja sama zealots-zealots itu, dan mereka akan mulai nyalahin semua pihak.
April 14, 2009 pukul 5:22 am
Siapa Bilang nggak nyampe 1% ???
http://www.w3schools.com/browsers/browsers_os.asp
Baca, diPrint, di pasang di depan komputer.
*gatel pengen gaplokki pake cd case ubuntu
April 8, 2009 pukul 1:20 pm |
Yang pake linux cuma bangga dengan ketidak-seragamannya dengan orang lain, saya juga coba mau install ubuntu dulu, tapi gak jadi, karena pas dilihat spec komputer saya lebih rendah, jadi saya tetap pake Win XP sampai saat ini, dan tidak masalah sekalipun kemaren rame-rame ada conficker, lagian gak mahal kok beli DVDnya aja 15 rebu doang.
April 8, 2009 pukul 5:44 pm |
Right on, mate!
April 8, 2009 pukul 2:04 pm |
Emang lebih enak pake Windows, abis linux tuh macemnya banyak banget. Mana banyak aplikasi yang nggak kompatibel lagi…
April 8, 2009 pukul 3:02 pm |
kunjungi http://mysaleshop.wordpress.com/modemkitarp-750000/
April 8, 2009 pukul 3:02 pm |
diatas ada yg bilang Linux utk developer, windows utk user..
sebenarnya masalah udah kelar disana, tp koq masih di perpanjang ya? (termasuk postingan saya ini)
skali lagi deh (repost rangkuman)..
Linux di desain utk user yg ingin tau “cara sebuah mesin bekerja” dan di buat sedemikian rupa agar user dapat memodifikasi “mesin” tersebut. jadi klo mau pake Linux, Belajarlah! jgn malas. klo sudah belajar tp ga bisa2 jgn salahkan “soalnya” dong! yg bodoh soalnya apa orangnya (no offense)?!?
sedangkan windows di buat untuk user yg “cuma tau make”. ada duit silahkan pake windows, tp klo ga ada duit…?!?! apakah ngebajak solusinya ?!!? hmmm…. sepertinya “bangga” menjadi pencuri adalah sesuatu yg ga layak deh (untuk hal yg 1 ini pasti semua setuju)
wahhhh….. pembajakan individual !? apa itu ?! apakah mengambil sepeda (sendirian) dan mencuri mobil (beramai-ramai) adalah 2 hal yg berbeda ?! ya … berbeda barang yg di curi dan jumlah pelaku, tetapi para pelaku nya tetap saja di bilang pencuri.
April 8, 2009 pukul 5:37 pm |
Kalau belajar, tapi gak bisa-bisa, artinya soalnya TERLALU SUSAH. Jadi maksud Anda, orang-orang yang kesulitan memakai Linux itu BODOH? Lihat, kawan-kawan, oki ini adalah yang saya maksud sebagai LINUX ZEALOTS! Bagi dia, Linux adalah kitab suci, dan siapa yang gak bisa memahaminya, berarti orang sesat.
Saran gua, oki, Anda baca dulu artikel gua dengan seksama, baru komentar. Karena ini gak nyambung sama sekali.
Dan pembajakan individual? Bukannya udah gua jelasin ya? Gak ngerti? Oh, tidak, tapi gua gak akan ngatain Anda bodoh.
Kalau mencuri mobil atau sepeda, adakah orang yang kehilangan barangnya?
ADA.
Kalau mengkopi software? Adakah orang yang kehilangan sesuatu? Gak ada, sayangku. Adanya ‘potential lost’. Dan apa itu potential lost?
Udah gua tulis panjang lebar di http://elzafir.wordpress.com/2007/05/23/potential-loss-of-piracy/
April 8, 2009 pukul 3:26 pm |
kunjungi http://mysaleshop.wordpress.com/mysaleshopwordpresscomadalah/
April 8, 2009 pukul 5:22 pm |
Apaan sih loe? Iklan di blog gua, heh?
Ya, mudah-mudahan banyak yang ngeklik!
Jadi gak gua apus…
April 8, 2009 pukul 3:50 pm |
Linux emang kurang “merakyat”, itu gue setuju. Tapi toh bayak pengembang yang lagi “merakyatkan” linux. Karena anda juga bukan buta linux, saran gue, daripada benci ama Linux mendingan bikin Linuxnya supaya bisa dipakai ama orang awam (atau supaya memenuhi keinginan anda).
April 8, 2009 pukul 5:21 pm |
Ga baca artikel ya?
Gua bilang gua benci sama orang-orang yang merasa dirinya menjad “ubermensch” setelah make Linux.
Gua justru ingin Linux jadi lebih user friendly supaya bisa dipake semua orang. Tapi, sebelum hal itu terjadi, zealots should just STFU!
April 13, 2009 pukul 1:14 pm
tapi judulnya benci linux bukan orangnya hik
lanjut dulu baca komennya
April 8, 2009 pukul 4:48 pm |
wew,, kalo kagak suka ya gak usah mencemooh gitu mas, emang mas bisa bikin OS sendiri ?
linux ntu dimana-mana slalu unggul dalam hal jaringan, konfigurasi jaringan dimana-mana pake linux, ex, server, yang notabena menjadi komponen utama dalam hal dunia internet. Bahkan tempat anda hosting wordpress ini pun memakai linux untuk servernya…
Talk less do more…
April 8, 2009 pukul 5:20 pm |
Terus napa emang kalo hostingnya pake Linux?
Baca dulu artikelnya, baru komentar, oke JOHAN?
April 8, 2009 pukul 5:34 pm |
Bring the beers! Watching people getting offended as their precious operating system being criticised is oftentimes even better than pr0nography!
April 8, 2009 pukul 5:38 pm |
Better cancel your appointments, guys, cause we’re in for an EPIC ride!!
April 8, 2009 pukul 5:44 pm |
Saya suka dengan artikel macam ini, sebab biasanya akan mengundang banyak reaksi dari orang-orang berkepala panas yang tidak membaca komentar, membaca hanya selewat atau bahkan hanya membaca judul.
Menelaah tanggapan-tanggapan mereka yang seringkali nggak nyambung dengan diskusi yang sedang berlangsung sungguhlah menghibur.
April 8, 2009 pukul 5:49 pm |
Ibaratnya, bagikan menonton topeng monyet makan beling…
April 8, 2009 pukul 5:59 pm |
Walau boleh jadi banyak pula yang datang karena diberitahu kamerad seperjuangan bahwa ada seorang pagan yang berani menjelek-jelekkan The Great Spirit.
April 9, 2009 pukul 12:28 am |
ah, ada tempat juga rupanya buat ngomong dimari…
LINUX SUX!!!
April 9, 2009 pukul 2:15 am |
engga bisa nyalahin elo seh kalo loe masih sekedar pengguna dekstop doank.
sekarang windows emang masih jawaranya dekstop.
buat gue yang web developer, ngerasa banget tuh kalo pake server windows tuh sama dengan bunuh diri. engga kompeten abis. makanya meskipun dekstop gue masih windows, gue ogah banget pake server windows.
gue amatin juga, akhir-akhir ini dekstop linux perkembangannya makin pesat. ada kemungkinan sekitar 4-5 tahun ke depan windows udah bukan tandingan linux lagi (bahkan untuk aplikasi dekstop)
kira-kira 10 tahun ke depan gue yakin banget tuh kalo windows bakalan masuk museum.
April 9, 2009 pukul 9:41 am |
Yup, dan Anda termasuk dari 0,sekian % yang membentuk seluruh demografi pemakai Linux.
Tapi yang diomongin disini itu penggunaan mainstream, yang membentuk 99% dari sisa pasaran yang gak pernah di raih oleh Linux.
4-5 tahun kedepan?10 tahun ke depan? Entah kenapa gua ragu ini bisa terwujud. Ubuntu, distro Linux nomor 1 di dunia (menurut DistroWatch.com), apa yang dilakukannya 5 tahun yang lalu? Inget gak? Mereka merilis Wart Warthog. kellyamareta udah make Linux belom waktu itu?
Ini buat sekedar nge-refresh memory:
Ubuntu 4.10 Warty Warthog
Screenshot: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/d/d0/Ubuntu-desktop-2-410-20080706.png
Ubuntu 9.04 Jaunty Jackalope
Screenshot: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/5/5c/Ubuntu-jaunty.png
Seperti yang Anda bisa lihat, selama LIMA TAHUN, Ubuntu hanya berkembang dari “begitu” jadi “begitu”…gak jauh perkembangannya. Dengan kecepatan seperti ini, Linux gak akan bisa menyusul OS X apalagi Windows. Karena, seperti yang udah dibuktikan oleh Windows, yang penting adalah USER FRIENDLY-NESS dan COMPATIBILITY (terhadap hardware DAN software). Itu adalah dua aspek yang tidak (atau, sedikit) dimiliki oleh Linux.
Salah satu kenapa Windows berkuasa adalah Microsoft membuat kontrak-kontrak ekslusif untuk lembaga dan bahkan negara agar memakai produknya. Dan kenapa OS X tiba-tiba bisa mencuat di tahun 2000an adalah karena Apple menawarkan user experience yang sangat simple dan gampang. Apple menawarkan sebuah sistem komputer yang tinggal pencet tombol ON.
Sementara Linux? Mayoritas pengguna Linux sekarang menginstall sendiri OS nya. Dan beberapa jumlah lainnya mendapatkannya dari DELL atau netbook-netbook murah (yang sering di balikin ke toko btw, karena penggunanya gak ngerti Linux)…
Cukup fakta, mari bicara!
April 10, 2009 pukul 1:34 pm
Sama Bro, Windows Xp dari pertama sampai sekarang juga gitu-gitu aja.
malah kebanyakan minta driver.
Saya coba Modem 3G Vodafone, Hp Samsung Sgh-Z170 saya coba juga sebagai modem 3G
Windows, Malah driver, tapi Ubuntu bisa langsung ngacir internetan
April 13, 2009 pukul 1:18 pm
hemmm sepertinya sampean suka sama yg instan instan yah mas ? maap kalo salah hik
April 14, 2009 pukul 4:59 am
Jos dengan Jazznuno
Mungkin Elzafir ngeliat perkembangan ubuntu dari segi screncapture desktopnya doank nih… MANGKANYA MAKE DAN JAJAL UBUNTU DONK… Jangan langsung nyeplak klo Ubuntu itu “begitu” jadi “begitu”
Ubuntu setiap keluar versi baru bukan tampilan dekstopnya yg di update, Goboknya klo ane bicara, klo loe pake ubuntu lama, lektop lo loadingnya kek sepeda lipet. Nah klo ubuntu versi baru, loadingnya kek sepeda balap.
*gaploki elzafir pake cd case ubuntu
April 29, 2009 pukul 9:38 am
“Sampean” lebih suka Indomie ato bikin mie sendiri dari gandum?
April 9, 2009 pukul 2:45 am |
Mestinya judulnya diganti “Gua benci zealots Linux”, bukannya “Gua benci Linux” meskipun anda sudah menjelaskan tidak terlalu benci linux.
April 9, 2009 pukul 9:43 am |
Seharusnya…
Tapi dengan begitu, tidak akan ada banyak orang yang masuk kesini, karena mayoritas zealots tidak akan mengaku (atau menyadari dirinya) sebagai “zealots”. Cuma begini lah cara supaya mereka masuk dan mengungkapkan jati dirinya.
April 9, 2009 pukul 11:05 am
Weeeeek maksa loe. Klo judul gak sesuai ya tetep aja gak sesuai.
April 9, 2009 pukul 11:15 am
Suka-suka gua. Ini blog-blog gua.
Mo kata apa kek, ga bakal gua rubah ni judul.
April 9, 2009 pukul 11:27 am
Wakakakaka, sikap loe mirip ntu ama OS loe, windows (baca: jendela).
April 13, 2009 pukul 1:21 pm
loh dikomen diatas sampean bilang ndak cari sensai di blog ini, kok dikomen ini bilang “Tapi dengan begitu, tidak akan ada banyak orang yang masuk kesini” heheheh
lanjut dulu kebawah
April 29, 2009 pukul 9:59 am
“Sensasi” = “Pengunjung” ?
Kamus mana tu?
April 9, 2009 pukul 3:16 am |
LINUX SUX!!!! bener2 bikin males kl pake linux!
April 9, 2009 pukul 3:25 am |
haha mental tempe
April 9, 2009 pukul 9:44 am
Mungkin dia punya kerjaan lebih penting daripada ngurusin Linux…
April 10, 2009 pukul 2:03 pm |
@ Mie
Saya gunakan Linux dan mempelajarinya bukan cuma untuk saya tapi juga untuk berbagi minimal dengan keluarga saya.
Lumayan ga usah buang duit buat beli Windows
April 9, 2009 pukul 3:22 am |
it’s free
April 9, 2009 pukul 9:47 am |
Iklan Loe?
Gratis apanya nih? Linux apa E-books loe?
Tapi gak papa, silahkan iklan disini.
Mudah-mudahan makin banyak yang download e-book nya.
Dan semoga gada yang “bajakan”, ntar temen-temen kita disini pada ngamuk, dan ntar bukannya loe yang dakwah, malah loe yang didakwah soal open source.
April 9, 2009 pukul 7:57 am |
inti dari permasalah ini sepertinya adalah :
Kenapa vendor2 software besar tidak membuat versi Linuxnya ? Itu kan yg loe mau? Dan itu juga yg diinginkan oleh pihak pendukung Linux. Sebenernya ga semua yg pake Linux itu pendukung free software. Ada juga yg berprinsip “yg penting gw bs kerja”. Makanya dia seneng banget ngeliat Photoshop bs running well di Linux pake Wine. Jadi sebetulnya loe ga perlu sampe berbusa ngejelasin klo Windows lebih user friendly dr Linux. Sebenarnya Linux saat ini juga sedang mengarah ke sana (user friendly), tapi BELUM BISA seperti Windows. Nanti klo sebagian besar software “yang biasa dipake” di Windows udah ada versi Linux-nya. mungkin Microsoft tinggal menunggu kebangkrutannya, atau berubah menjadi open source juga
Buat yg lain, debatnya jgn muter2 atau pakai perumpamaan, yg ada tanggapannya malah ngaco
@kellyamareta
hai….
April 9, 2009 pukul 10:04 am |
Nah ini dia ni. Akhirnya ada yang ngakuin kalo gua BENER.
Gak papa, men. Gua berbusa, asal bisa menyadarkan orang-orang.
By the way, yang jalanin Photoshop pake Wine, Photoshop-nya beli apa download (apa beli di Mangga Dua)?
Photoshop CS4 $667.99
OS X Leopard $110.99
Vista Home Premium $99.95
Vista Ultimate $249.99
Photoshop Elements 7 $78.49
Hmmm…..$667.99 gak pelit, tapi ngeluarin $99.95 kayak udah mesti ngorbanin anaknya buat disembeleh…
Hmm..
By the way, Apple menguasai pasar MP3 legal dan pasar MP3 player. Dan pasar sophisticated PC. Dan dia memberikan OS X versi terbaru gratis jika membeli hardwarenya. Linux gak akan pernah bisa merebut pangsa pasar OS X dari pengguna hardware Apple. Dan Microsoft, punya revenue tahunan sebensar 60 milyar dollar! Sementara Canonical. cuma 30 juta dollar. Yakni, 0,05% dari Microsoft. Kira-kira, bisa gak Linux bikin iklan dan pemasyarakatan dengan budget segitu?
Sorry mate, its a fools errand. Kecuali Linux MERUBAH TOTAL cara dia berfilosofi! Kalau saja consorsium Linux berani membayar Logitech dan EA Sports untuk bikin driver dan games untuk Linux…dan beberapa strategi kapitalis lainnya. Wah, tapi itu sudah melanggar asas sosialisme open source ya? Hmm….ribet…ribet..
April 9, 2009 pukul 11:25 am
Haha elzafir ini memang punya energi yg besar untuk ngurusi hal2 yg gak penting. Maksud gue, ngapain loe ngurusin para zealots ntu yg jelas2 gak berkontribusi sama sekali buat linux. Kecuali klo para hacker linux yg koar2, baru mestinya loe kebakaran jenggot.
Klo linux (market sharenya 0.88%) yg secara parsial sistemnya lebih baik dari windows, mestinya loe malu. Tinggal tunggu waktu aja sampe linux bisa lebih baik dari windows. Dan akhir2 ini linux udah lebih pesat dari sebelumnya. Lihat ubuntu!
Linux skrg udah mulai mengakomodasi user2 yg “males”, selain juga untuk user2 yg gila hacking. Nah klo kedua tujuan itu dah bisa terealisasi, wah kayaknya loe musti bikin postingan baru dgn judul “GILAAA! GUE CINTA LINUX”.
April 9, 2009 pukul 12:21 pm
Siapa juga yang ngurusin? Gua cuma kesel sama mereka. Dan gua utarakan di blog gua. Eh, taunya zealots pada berdatangan. Seru aja gua ngeliat mereka berargumentasi tanpa dasar. Dan satu hal lagi, gua gak berjenggot. Itu ada foto gua di blog ini. Ato liat avatar gua aja.
Malu? Untuk apa?
Lo ga baca komen-komen disini ya?
Gua punya lapt opdengan sistem Windows. Satu desktop server dengan Ubuntu. Dan satu netbook dengan OS X.
Dan saat Linux udah lebih baik dari Windows (dan mungkin OS X), Apple dan Microsoft udah bikin OS baru dan ngurusin hal-hal lain yang lebih penting.
Lo sangka gua membela Microsoft? Cih. Salah besar lo. Gua disini gak membela apa-apa. Tapi gua menguatarakan ketidak sempurnaan Linux. Gua gak akan malu, seperti yang lu bilang itu, karena gua gak terikat sama OS mana pun (unlike you, yang marah dibilang Linux bapuk).
April 9, 2009 pukul 12:35 pm |
Tapi sorry, gue bukan zealots.
Gak malu??? bukannya loh udah bandingin linux ama windows?? Itu artinya loe maniak windows. Dari postingan loe dah keliatan. Loe tuh sebenarnya ngejelekin linux. Tp klo gue pribadi, ntu gak masalah. Gue gak bakal jelekin linux maupun windows. Gak level orang kayak gue berkata spt itu, soalnya jangankan bikin kernel, bikin intrepeter aja gua gak bisa. Maka dari itu gua tau diri. So, jangan jadi tong kosong nyaring bunyinya.
Masak sih gak berjenggot?? jenggot yg laen gak punya?? Wakakakaka
April 9, 2009 pukul 10:53 am |
yaa tapi saya cukup senang dengan Ubuntu sampai saat ini..
malah dah gak sabar nunggu 9.04 dgn EXT4 nya..
baca..
http://komputerblog.com/2009/04/09/ubuntu-904-jaunty-jackalope-boot-dalam-21-detik/
April 29, 2009 pukul 10:01 am |
Menarik.
Cocok untuk OS di CarPC gua.
April 9, 2009 pukul 11:04 am |
Hahahahahaha….
APAAN sih nih??
LUCU BgT…..
aku duKung Elzafir berkata aja DeH!?
^^
April 9, 2009 pukul 1:08 pm |
Bajakan aja dipakai mas…., tapi sekali lagi ini masalah moral, klo pakai bajakan ngerasa biasa2 aja, y udah…, tapi moral saya tidak seperti itu (sekarang)
April 9, 2009 pukul 1:17 pm |
BTW mengapa dikotominya selalu “tidak pakai linux == pembajak tengik”?
Sikap holier-than-thou ini.
April 10, 2009 pukul 4:27 pm |
@ Abu Geddoe
mungkin salah satu sebabnya adalah posting2 bombastis dari pembajak tengik seperti penulis ini. dia sendiri sudah mengakui bahwa dia pembajak. dan sepertinya bangga dengan itu.
komentar anda ditujukan ke masHendri_cakep? coba baca lagi deh. bagian mana yang menyiratkan “tidak pakai linux == pembajak tengik”?
April 10, 2009 pukul 5:02 pm
Itu impresi yang timbul setelah lama saja, tidak ditujukan untuk komentator spesifik.
Menurut pandangan saya sih sebaiknya sikap seperti itu jangan ditumbuhkembangkan. Hint: tidak akan membantu Linux/OpenSource sedikitpun.
April 10, 2009 pukul 6:01 pm |
yang sering saya dengar justru kalimat seperti “dari pada membajak mending pake linux”. dan saya mengartikannya seperti apa yang tertulis: daripada membajak mending pake linux. tidak ada yang aneh dalam kalimat itu.
bagi saya ini justru penting buat dikemukakan. kalau anda rela untuk mengeluarkan uang lebih buat sesuatu yang menurut anda lebih baik, silakan saja. kalau tidak rela, sebaiknya jangan lakukan pembajakan. cari alternatif lain.
sikap merasa diri lebih baik dari orang lain itu di mana2 sama saja akibatnya. hanya akan membawa dampak buruk.
April 10, 2009 pukul 7:09 pm
Betul, tidak ada yang aneh dari kalimat “dari membajak mending pake Linux”. Tapi apabila itu dikatakan tiba-tiba, tentu namanya menuding lawan bicara sebagai pembajak. Adagium basinya; assume: makes an ‘ass’ out of ‘u’ and ‘me’.
Saya bisa pergi ke toserba dan berkata pada kasirnya “tidak baik menipu pembeli!” Tidak ada yang aneh dengan kalimat itu. Tapi kasirnya bakal tersinggung.
Impresi yang saya dapat adalah nada holier than thou. Saya tidak bilang mengingatkan seperti itu salah, cuma ya itu, tidak akan membantu. Mungkin ini impresi saya saja, dan “maksud proponen Linux itu bukan begitu”, tapi ya kalau sampai salah paham juga berarti ada yang mesti diperbaiki, bukan begitu?
Hanya masukan saja. Diabaikan pun tidak masalah.
April 11, 2009 pukul 1:54 am
contoh yang anda sebutkan di atas is very unlikely tapi bukan tidak mungkin terjadi. some people are just weird
jika kalimat “dari pada membajak mending pake linux” ditulis dalam ukuran besar dan ditempelkan di kafe tenpat saya biasa ngopi, walaupun saya tidak menggunakan linux dalam kerja saya sehari2 saya tidak akan merasa dituduh sebagai pembajak karena windows xp yang saya gunakan memang berlisensi. sama seperti saya tidak merasa diituduh sebagai kepala keluarga yang tidak bertanggung jawab saat membaca tulisan “jagalah diri anda dan keluarga anda dari ancaman hiv/aids” dipasang di jalan masuk kompleks perumahan kami.
bahkan dalam diskusi dua arah pun saya masih bisa berasumsi bahwa lawan bicara saya yang mengatakan “dari pada membajak mending pake linux” memang belum rela uangnya dipakai untuk membeli os selain linux dan apa yang dia ucapkan memang lebih ditujukan untuk dirinya. your assertion regarding assume is spot on.
anda benar. jika masih banyak terjadi salah paham tentunya ada yang harus diperbaiki.
April 9, 2009 pukul 1:33 pm |
Saya dulu pake Ubuntu, tapi langsung ganti lagi ke Win XP karena susah jikalau ingin bermain game.
Hidup XP!
April 9, 2009 pukul 1:39 pm |
Saya dulu juga pernah pake XP, tp gara2 virus, document word saya banyak yang rusak. Semenjak pindah ke ubuntu, hal itu gak pernah terjadi.
Hidup Ubuntu!
April 9, 2009 pukul 1:51 pm
Yo wis, satu pake XP, satu pake Ubuntu. Gitu aja kok repot.
Saya pake XP dan Ubuntu. Main game lancar, dokumen pun ga pernah rusak. Inilah manfaatnya berhati lapang, semua jadi gampang.
Why so serious?
April 9, 2009 pukul 1:52 pm
Aha, saran yang bagus. Patut dicoba.
April 29, 2009 pukul 10:06 am
Gua 8 taun pake XP gak pernah kena virus.
Mei 20, 2009 pukul 1:45 pm
Kena virus ato nggak, tergantung sama penggunanya kog… pinter2 colak colok USB, ga buka website macem2…beres…virus masuk kan pasti ada “Trigger” nya..
Salam
April 9, 2009 pukul 2:56 pm |
hehehe
April 9, 2009 pukul 3:43 pm |
linux gak bisa jalanin eroge, hidup windows!! E=( °3°)
April 9, 2009 pukul 4:07 pm
bisa pake wine, dodol. but who cares. masih susah pake wine, daripada paksain pake linux buat main game, windows aja deh.
uh, lol. bang zafir nge-trollnya hebat banget, salut deh buat anda. hahahaha. seberapa pintar fanboys linux, tetap fanboys. not user. but loser.
lagipula ini juga wa pake ubuntu gak ngerasa beda-beda amat sama windows, dan yg komplain terhadap masalah virus, BSOD, dan kernel panic (di os manapun) itu salah usernya sendiri, bukan OSnya. jadi kalo lo kena virus yah itu salah lo gak jaga kompie lo. windows berat? opensolaris berat. (tinyXP gak berat sih). BSOD? memangnya OSX gak bisa kena kernel panic? linux juga? oh noes.
kalo ada argument OS mana lebih keren/hebat/mantaps itu kenyataannya bukan OSnya yang bodoh, tapi manusianya yang bodoh.
April 9, 2009 pukul 4:17 pm
uh di respon, kabur ah ^^
April 9, 2009 pukul 1:49 pm |
saya masih pake windows xp..
April 13, 2009 pukul 1:28 pm |
saya juga, tapi linux juga iyah meskipun hanya user biasa
lanjut kebawah lagi hik
April 9, 2009 pukul 1:57 pm |
Well, kenapa nggak dual-boot sekalian aja?
April 9, 2009 pukul 2:05 pm |
hidupp ubuntu…
http://komputerblog.com/2009/04/09/ubuntu-904-jaunty-jackalope-boot-dalam-21-detik/
April 9, 2009 pukul 2:17 pm |
iyap.. setuju mz..
linux tuh nyebelin.. bikin susah aje..
April 10, 2009 pukul 7:00 pm |
ga ada yang susah kalo anda mau belajar, sudah banyak tutorial tentang Linux
April 9, 2009 pukul 2:24 pm |
kontol………………..
tai……………………………
itu adalah bau
April 9, 2009 pukul 2:25 pm |
gini loh, intinya loe.. loe.. gue..gue.. 97% linux coy…
April 9, 2009 pukul 2:40 pm |
hmm…. suka suka lo aja dah…
HIDUP LINUX !!.. thx to linux bikin gue jadi orang kaya……..
April 9, 2009 pukul 2:52 pm |
Jadi… Anda tidak mau melihat orang lain yang masih belum suka pakai Linux?
It’s okay with me. Tapi buat saya, Linux hanyalah sebuah alat untuk digunakan. Bukan dewa. Bukan yang-paling-hebat. Jadi ya tolong hargai orang lain juga.
April 9, 2009 pukul 2:52 pm |
weleh…
sangat membingungkan…
saya bukannya mau mengomentari tentang bencinya anda dengan linux kok…
cuman sepertinya jawaban komentar disini anda (terlihat) memaksakan orang lain untuk juga benci sama linux. walaupun perbandingan dengan komen yg setuju dengan linux tidak seberapa dibandingkan jawaban anda yg seolah2 ingin menunjukkan betapa hebatnya anda. (saya melihatnya justru anda yang terbutakan dengan kebencian itu, maaf)
contoh;
klo ada yg komen sedikit tahu tentang IT katanya bukan “awam” tapi klo ada pernyataan tentang pengguna awam di counter dengan nada yg jauh melecehkan dan seakan akan orang lain tersebut bodoh…
lha terus yg awam itu gimana?? apa yg gak ngerti sama sekali tentang komputer?
lalu “awam” yang seperti ini apa bisa langsung mahir begitu menghadapi Os lain selain linux?
ups… sebelum mulai saya cuman mo bilang kalo sosialis (bukan komunis) tujuannya adalah maju bersama untuk kepentingan bersama… jauh beda dengan stalin dkk (mereka di identikkan dengan sosialis komunis yg pada akhirnya jelas menyimpang jauh dari sosialis) tapi klo ini juga anda counter dengan berbagai macam jusrus mengelit ya saya mau apa lagi? saya cuma ingin agar orang tidak salah kaprah dengan opini yg menyesatkan yang justru pada akhirnya akan membodohkan.
argumen gua berpacu pada Linux belum dan tidak tepat untuk “para pengguna biasa”
April 9, 2009 pukul 4:01 pm |
Lha, saya rasa inti artikel ini memang itu kan? Linux belum dan tidak tepat untuk orang awam, alias pengguna biasa.
Yang dipertanyakan adalah para maniak Linux yang bersikap seolah:
- Yang tidak menggunakan adalah orang malas/bodoh yang tak tercerahkan.
- Yang tidak menggunakan Linux adalah pembajak tengik yang penuh dosa.
Sudah seperti agama saja.
Saya lihat tidak ada pemaksaan supaya orang lain benci Linux di sini. Yang ada hanya ajakan untuk memaklumi bahwa Linux, seperti halnya segala hal buatan manusia lainnya, tidaklah sempurna.
April 9, 2009 pukul 5:09 pm
eh.. ngomong2 pernah ketemu komunitas linuxer yg bersikap seperti itu ya mas?
, apa BSA tidak menganggap para pembajak itu tengik dan juga penuh dosa?
klo iya, ya memang perlu di kasih pencerahan mas, termasuk Os lain lain yg mengharuskan beli aslinya yg juga menganjurkan jgn pake bajakan juga dong ya…
tapi klo sikap itu muncul disini ya harap maklum mas… soalnya belum apa2 sudah anda bandingkan dengan stalin dkk (siapa sih yg mau?), lalu ngomong linux gak pantes di bandingkan (siapa sih yg mau dibanding-bandingkan? apa anda mau? apa saya mau?), lalu ungkapan anda tentang penyembah trovald (apa ada yg mau di sebut penyembah org lain? misal penyembah bill gates?) dll dll… hayo siapa yang memancing?, siapa yang seharusnya diem hayo?
April 10, 2009 pukul 12:26 am
Wakakaka bener iceman, elkafir nih eh salah maksudku elzafir ni dah sok tau.
April 29, 2009 pukul 10:10 am
Pernah bertemu komunitas seperti itu?
Hahahaha.
Liat aja di comment blog ini.
April 9, 2009 pukul 4:37 pm |
Bleh. Kometar yang tidak rampung, rupanya.
April 9, 2009 pukul 4:53 pm
wakakakak…
April 9, 2009 pukul 2:53 pm |
weleh…
sangat membingungkan…
saya bukannya mau mengomentari tentang bencinya anda dengan linux kok…
cuman sepertinya jawaban komentar disini anda (terlihat) memaksakan orang lain untuk juga benci sama linux. walaupun perbandingan dengan komen yg setuju dengan linux tidak seberapa dibandingkan jawaban anda yg seolah2 ingin menunjukkan betapa hebatnya anda. (saya melihatnya justru anda yang terbutakan dengan kebencian itu, maaf)
ups… sebelum mulai saya cuman mo bilang kalo sosialis (bukan komunis) tujuannya adalah maju bersama untuk kepentingan bersama… jauh beda dengan stalin dkk (mereka di identikkan dengan sosialis komunis yg pada akhirnya jelas menyimpang jauh dari sosialis) tapi klo ini juga anda counter dengan berbagai macam jusrus mengelit ya saya mau apa lagi? saya cuma ingin agar orang tidak salah kaprah dengan opini yg menyesatkan yang justru pada akhirnya akan membodohkan.
contoh;
klo ada yg komen sedikit tahu tentang IT katanya bukan “awam” tapi klo ada pernyataan tentang pengguna awam di counter dengan nada yg jauh melecehkan dan seakan akan orang lain tersebut bodoh…
lha terus yg awam itu gimana?? apa yg gak ngerti sama sekali tentang komputer?
lalu “awam” yang seperti ini apa bisa langsung mahir begitu menghadapi Os lain selain linux?
April 9, 2009 pukul 3:48 pm |
hebat diskusinya.
senang saya bisa tahu ada diskusi soal kayak gini.
ya… sah-sah saja lagh berpendapat.
aku sendiri juga pengguna linux, walau masih banci
masih di dual boot sama windows. dan memang aku
akui semua memang soal kebiasaan. karena dari kecil
aku juga sudah dicekokin sama windows, akhirnya ya
masih lebih produktif pake windows. bisa jadi bakal
ada sesuatu yang berbeda jika dari awal sudah dikenalkan
sama linux.
eh kok dadi sama melencenge…
soal orang-orang fanatik linux yang suka ngecep ini itu
memang ada dan aku gak mangkir dari itu, mungkin
salah satu alasane karena “gaya” yang menjadikan
mereka berbeda. tapi jangan lupa lho ada juga orang2
linux yang open mind. bahkan beberapa orang juga
mulai merubah strateginya. lebih ke arah moralitas.
kalo mau pake win yo monggo… tapi bayar donk ah
tapi kalo ndak, ya cobalah beberapa alternatif yang ada
dan semoga beberapa ide yang muncul di postingan ini
nantinya bs terwujud deh. semoga aja linux melek dengan
user awam dan lebih familiar. aku setuju soal pembahasan
direktori di atas. haruse mang gak ditampilkan semua. sempet
juga kemaren aku pake theme XPGnome di ubuntu, trus aku
liatin ke bapak. eh dia kagok. “lha drive C-ne ndi le”
dan tambah bingung lagi ketika beliau harus liat banyak folder
yang gak tahu itu fungsinya buat apa.
mungkin itu nantinya salah satu PR buat temen-temen linux
biar user gak tek bingung dengan banyaknya folder di linux.
wes, open mind kabeh lagh….
sah-sah saja kok beda pendapat.
April 9, 2009 pukul 3:59 pm |
anda homo?
anda berkelit seperti seorang homo yang bertingkah seolah hetero, duh!
kembali ke pernyataan anda; ’saya benci linux’ (yang bener: linuxnya atau ‘zealot’(?)-nya?), trus definisi ‘awam’ menurut anda itu apa dan bagaimana? karena anda sendiri terkesan plin-plan dan tidak punya pendirian.
April 29, 2009 pukul 10:10 am |
Mulai lagi, emangnya kenapa kalo gua homo?
Definisi awam cari di komen gua di post ini. Udah gua tulis panjang lebar.
April 9, 2009 pukul 4:25 pm |
weleh…
sangat membingungkan…
saya bukannya mau mengomentari tentang bencinya anda dengan linux kok…
cuman sepertinya jawaban komentar disini anda (terlihat) memaksakan orang lain untuk juga benci sama linux. walaupun perbandingan dengan komen yg setuju dengan linux tidak seberapa dibandingkan jawaban anda yg seolah2 ingin menunjukkan betapa hebatnya anda. (saya melihatnya justru anda yang terbutakan dengan kebencian itu, maaf)
ups… sebelum mulai saya cuman mo bilang kalo sosialis (bukan komunis) tujuannya adalah maju bersama untuk kepentingan bersama… jauh beda dengan stalin dkk (mereka di identikkan dengan sosialis komunis yg pada akhirnya jelas menyimpang jauh dari sosialis) tapi klo ini juga anda counter dengan berbagai macam jurus mengelit ya saya mau apa lagi? saya cuma ingin agar orang tidak salah kaprah dengan opini yg menyesatkan yang justru pada akhirnya akan membodohkan.
contoh;
“argumen gua berpacu pada Linux belum dan tidak tepat untuk “para pengguna biasa”
klo ada yg komen sedikit tahu tentang IT katanya bukan “awam” tapi klo ada pernyataan tentang pengguna awam di counter dengan nada yg jauh melecehkan dan seakan akan orang lain tersebut bodoh…
lha terus yg awam itu gimana?? apa yg gak ngerti sama sekali tentang komputer?
lalu “awam” yang seperti ini apa bisa langsung mahir begitu menghadapi Os lain selain linux?
lalu “para pengguna biasa” apa bisa langsung mahir memainkan komponen Os lain seperti photoshop dll? oh.. ya “para pengguna biasa” Os lain jelas pasti bisa, karena ter”biasa” dengan Os lain tersebut, karena referensi “para pengguna biasa” anda merujuk pada bukan pengguna linux alias bukan “awam” asli yg gak tahu menahu sama sekali tentang komputer.
contoh : klo ada 2 anak sama2 gak bisa naik sepeda lalu disuruh belajar naik sepeda tapi berbeda sepeda, yang satu belajar pake sepeda kumbang dan satunya lagi naik sepeda balap… pertanyaannya, apa nanti hasil naik sepeda dan kemahirannya akan berbeda jauh?
tapi lain lagi klo pertanyaannya: 2 anak belajar naik sepeda yg berbeda “tetapi” salah satunya pernah belajar dahulu kala dengan sepeda kumbang, lha kebetulan yg pernah belajar ini dulunya belajar naik sepeda balap bukannya sepeda kumbang… hasilnya, tentu saja si anak ini pasti bilang “wah ya jelas enak naik sepeda kumbang gampang pakenya” (saya tahu tujuan anda adalah pembenaran tentang opini anda, jadi apapun alasan saya pasti anda salahkan, maka ini akan nampak seperti anda lah yg telah dibutakan, sekali lagi maaf)
tentang apt-get;
bukannya software Os lain itu juga butuh penginstallan? memang bukan apt-get yg terkesan rumit, tapi toh Os lain itu juga gak butuh cari softwarenya dalam bentuk cd? lalu apa linux tidak ada cd/dvd reponya? kan sudah ada syneptic untuk tambah hapus program sama seperti Os tersohor itu malah tinggal pilih mana yg dimau gak perlu apt-get dan klo ribet nyari cd/dvd nya tinggal colokin ke internet jadi deh… oh ya… software Os lain itu pasti semua codec dan aplikasi sudah terinstall jadi satu semua ya… atau klo gak “para pengguna biasa” ini lebih seneng nyari cd ato nyewa dari pada bersantai ria dengan kemudahan yg ada.? (saya tahu tujuan anda adalah pembenaran tentang opini anda, jadi apapun alasan saya pasti anda salahkan, maka ini akan nampak seperti anda lah yg telah dibutakan, sekali lagi maaf)
tentang perbandinga:
ada yg komen FB itu masalah di browser bukan di Os dan saya setuju tapi anda jawab * FACEBOOK = –> Makanya gua bilang “imbang”. (termasuk makan sampah)
lho… ??? harusnya itu diluar konteks dong… bukan bersikeras “makanya gua bilang “imbang” (terlihat oleh saya lagi tentang terbutakannya anda, maaf).
jadi klo ada tukang becak naik omprengan (maaf) maka akan terlihat sama dengan para pejabat yg naik mobil mewah pribadi milik sendiri di mata anda, toh mungkin jawaban anda akan sama2 naik mobilkan, makanya itu akan “imbang” bagi anda.(saya tahu tujuan anda adalah pembenaran tentang opini anda, jadi apapun alasan saya pasti anda salahkan, maka ini akan nampak seperti anda lah yg telah dibutakan, sekali lagi maaf).
lalu ada yg bilang: kapan ya linux bisa lebih mudah dan nyaman seperti itu? anda jawab : Itu dia. “Kapan”-nya itu yang gak bisa dipastikan. Selama orang-orang seperti Somat dibawah ini masi banyak di dunia.
lho??? lalu apa harus orang seperti anda ini yg bisa membuat linux jadi nyaman dan mudah? (apa harus)? klo iya, hebat dong anda… lebih hebat dari bill gates menurut saya… karena W7 aja di lempar ke user untuk dicoba dan dilihat apakah nyaman atau tidak kelak kalau jadi di jual, lha kalo gak ada orang macam somat ini yg nyobain dan memperkenalkan linux agar nyaman dipakai nantinya apa bisa jadi nyaman dan mudah? memang si somat terlihat emosi, mungkin karena anda banyak membandingkan, seperti penyembah, makan sampah dll pengguna linux. apa orang lain gak boleh emosi oom jika diperlakukan seperti itu? (saya tahu tujuan anda adalah pembenaran tentang opini anda, jadi apapun alasan saya pasti anda salahkan, maka ini akan nampak seperti anda lah yg telah dibutakan, dan saya jadi tahu kualitas anda menurut ukuran saya, sekali lagi maaf).
dan masih banyak lagi… tapi menurut hemat saya, justru karena orang tersebut (maaf, ini mengacu pada anda) fanatik maka justru dia akan memfanatikkan orang lain yang tidak setuju dengan opininya dan tidak akan bisa menerima pendapat orang lain.
(saya tahu tujuan anda adalah pembenaran tentang opini anda, jadi apapun alasan saya pasti anda salahkan, maka ini akan nampak seperti anda lah yg telah dibutakan, dan saya jadi tahu kualitas anda menurut ukuran saya, sekali lagi maaf).
saya tidak mempermasalahkan anda suka dengan Os lain walupun itu bajakan atau anda juga pengguna linux, atau bahkan dengan bangganya anda membuat blog ini untuk membuat joke dan dengan bangganya pula anda mencantumkan bahwa sekian orang bodoh kena tipu… itu bukan masalah… itu urusan anda pribadi.
yg jadi masalah adalah sudah berapa banyak (sebanyak itukah) orang yang tersakiti hatinya karena anda?
harapan saya cuma semoga anda tidak tersakiti oleh orang lain karena kebiasaan anda menyinggung orang lain.
tapi saya salut dengan usaha anda yang membuat blog anda ramai…
semoga ada cara lain yang bisa membuat blog anda jauh lebih banyak dikunjungi orang tanpa menyakiti dan menghina orang lain..
sebagai penutup saya mengucapkan : saya tahu tujuan anda adalah pembenaran tentang opini anda, jadi apapun alasan saya pasti anda salahkan, sekali lagi maaf).
April 10, 2009 pukul 8:44 am |
too long;didn’t read.
April 9, 2009 pukul 5:39 pm |
kita tunggu aja 5 – 10 thn kedepan prediksi saya pasti jadi ubuntung alias linux sudah gak ada lagi
April 10, 2009 pukul 12:28 am |
Klo prediksi loe spt itu, wah berarti internet bakal mati, sebab backbone internet skrg hampir semuanya berbasis linux.
April 10, 2009 pukul 1:00 am
Bukannya bisa ganti OS? Apa ganti OS itu haram?
April 10, 2009 pukul 2:25 am
Sekalian bayangin berapa cost yg dibutuhkan untuk ganti arsitektur selain linux??
April 10, 2009 pukul 8:13 am
5-10 tahun itu waktu yang cukup lama, bukan? Bisa secara bertahap donk.
Gitu aja kok repot?
April 10, 2009 pukul 9:27 am
Yang dimaksud “Linux desktop”.
April 9, 2009 pukul 11:48 pm |
Cara penyampaian Mas Elzafir agaknya menyakiti para pencinta Linux..ckckck, Linux bagus lho Mas…
April 10, 2009 pukul 1:04 am |
“Ambisi mereka itu sama kayak ambisi Lenin dan Stalin dalam menjadikan dunia ini sebuah utopia komunista.”
saya komen ini aja… ini dah terwujud di 1922-1991 itu artinya memang ada dan akhirnya gk bertahan (link disini. maslahnya itu karena ideologi yg dianut adalah sosialisme-komunisme. Jadi utopia? gk karena dulu pernah ada. Menurutku microsoft (pembuat windows xp) ini bagian dari perushaan yg nanti jg akan berubah. Misalnya lihat dalam kacamata Microsoft corp. bagaimana bisa jadi raksasa software, karyawannya aja sampai 91000 orang–ahli IT. saya bayangkan sperti toko komputer satu gedung, semua tulsannya microsoft(merk) hebat. tapi dia bisa buat itu karena punya Hak cipta (di negara AS sana, tapi disini gk berlaku,pembajakan masih berlanjut). Kaya karena hak cipta itu. Maka kesimpulannya gk lama lagi pesona Microsoft akan segera turun, lihat vista, xp (the best os), microsoft mem-phk hingga 5000 karyawan 18 bulan kedepan, dan fakta lain bahwa apa yg dibawa microsoft (close source, pasar saham, dan pasar bebas) akan rusak.
April 10, 2009 pukul 3:07 am |
taek.
lebih baek pake linux daripada jadi pembajak. tau ndiri, mbajak kan dosa.
emang sih, terserah kamu mau pakai OS apa. aq ga njelek-njelekin pake XP atau MAC OS, asal beli lisensi sih!
lagian linux ga serendah yang kamu bilang. pengguna awam yang bagaimana dulu sampe segitu susahnya pake linux. aq pernah jadi tentor untuk nggunain XP, dan apa coba. itu aja masih ribet! padahal tau sendiri, XP katamu mudah. so, ga selalu yang terlihat mudah bagi seseorang itu mudah bagi orang lain.
terusterang aja, aq sakit hati kalo kamu bilang linux kayak gini. aq sih terserah aja kalo kamu ga suka. tapi ya mbok jangan njelek-njelekin.
bangsat lu!
April 10, 2009 pukul 9:26 am |
“tapi ya mbok jangan njelek-jelekin”.
“bangsat lu”.
Munafik.
April 10, 2009 pukul 10:52 am |
hiiii Kocak juga nih ….Zaduna
Zafir ini mungkin Bpk,Mas….bukannya Mbok, pantes aja dia marah di bilang Mbok
April 10, 2009 pukul 4:21 am |
kalo bicara masalah ini harusnya kita bicara yg mendasarinya bos.
mnurut sy membandingkan antar sistem ekonomi memang relevan dengan perbincangan ini.
nah (ketika ada kata lenin dan stalin), sy skilas menangkap, bos membandingkan 2 mainstream ekonomi (kapitalisme dan komunisme). nah, linux kurang relevan dibandingkan dengan kedua mainstream tersebut (karena jumlah penggunanya sangat sedikit, bwakakaka dan pada dasarnya semangat yang dibawa mmg beda bgt dgn komunisme maupun kapitalisme). dua mainstream tersebut lebih tepat mewakili windows dan mac os (mnurut saya, dari segi jumlah pengguna). lalu sistem ekonomi apa yg mewakili semangat freedom dan open source linux (btw, mac os sbnrnya jg opensource, krn berlisensi bsd dan unix juga)?
nah, ini jawabnya. sistem ekonomi austria lebih cocok dengan semangat linux. baca2 ja di akaldankehendak.com dan mises.org tentang sistem ekonomi austria. kapitalisme mengatakan kebebasan, namun ada kebebasan (yg sbenarnya wajar) dibatasi (penentuan suku bunga, paten, royalti, dsb, dll). kebebasan lbh banyak dimiliki oleh pemilik modal. nah komunisme sbaliknya, njawab kapitalisme dgn sgala hal dikuasai negara, hak2 warga seperti diabaikan. nah sistem ekonomi austria menyatakan kebebasan yang seluas2nya (tentunya bukan pada hal yg kriminal). masyarakat sendiri yang akan menentukan jalan mereka.
sistem ekonomi ini memang tak terlalu dikenal (sbagaimana linux), kalah pamor dg kedua mainstream ekonomi yg tlh disebut di atas. dan karena ga ada negara atau partai politik yang mengusungnya (spertinya akan rugi bagi kelas masyarakat politisi klo pakai sistem ini, krn rakyat yg akan diuntungkan secara umum, dan sistem ini mmg ga terlalu membutuhkan politisi).
masalah kemudahan pemakaian, tu cmn msl kebiasaan bos. sy lupa bc di mana gt, bahwa pernah dilakukan sebuah penelitian. siswa di suatu sma dari kelas 1 dikasi windows mlulu, yg satu lagi dikasi linux mlulu. di kelas 3 dibalik. yg pake windows disuruh coba pake linux dan pada bingung. yg pake linux disuruh pake windows, tnyata pada lsg bisa. saat ditanya knapa ga bgg, anaknya bilang, ni kan cmn distro lain.
tak kenal maka tak sayang bos. yuk, blajar lagi brg2 bos. smakin banyak belajar, insyaallah akan smakin bijaksana menyikapi berbagai keadaan.
April 10, 2009 pukul 5:00 am |
eh, nambah bos. knapa ilmu sbaiknya open source (mnurut pandangan saya)? bayangin klo kita mo pake rumus phytagoras harus mbayar ke pwaris pythagoras, bayangin klo kita mo pake rumus relativitas hrs bayar ke pewaris einstein. maka kita akan smakin ga bs ngembangin ilmu, dan klo dah nyiptain sesuatu tinggal patenin aja, maka uang akan mengalir ke kita tanpa kita perlu kerja sesudahnya (jd ga kreatif jg, dan ga prnh kerja jg). di negara kita sih mbajak bukan msl bsr, cmn di negara lain para admin jaringan jd kelimpungan gara2 ga bs ngoprek windows tanpa kena mslh hukum. maka kembali ke sikon bos. linux tercipta jg dengan salah satu semangat untuk melindungi para pemilik hak paten software proprietary. so, be open mind, kita akan melihat dunia ini begitu indah.
April 10, 2009 pukul 8:31 am |
Siiip bos. Mana nih elkafir eh salah, elzafir.
April 10, 2009 pukul 8:47 am
Gua disini. Sorry, gua sibuk jalan-jalan keliling Eropa.
April 10, 2009 pukul 9:09 am
met jalan-jalan bos. smoga bs mngambil banyak manfaat
April 10, 2009 pukul 10:58 am
Keliling Eropa
sekalian liat perkembangan Linux di sana ya bos
kalo sempet….
April 10, 2009 pukul 9:10 am |
Bagaimana kalau “ilmu”, atau software, itu kita ibaratkan sebuah film?
Film buatan Hollywood dengan budget jutaan dollar.
Dan kalau film itu open source, bagaimana nasib si pembuat?
Studio dengan kapital lebih besar bisa membuat “replika” dari film itu dan bisa membuat penjualan film original hancur.
Itukah yang dinamakan adil?
Sadarkah kalian, open source bukanlah solusi bagi semua hal.
Jika Apple men-open source kan OS-nya, maka akan muncul banyak clone mesin Mac, yang lebih murah dan berspek lebih tinggi. Dan orang-orang akan membeli mesin tersebut daripada Apple. Dan apakah itu adil terhadap developer yang sudah mengeluarkan uang dan waktu untuk membuat produk itu?
Software bukan ilmu.
April 10, 2009 pukul 9:42 am
kalau film itu open source, tetep boleh dijual kok mas. lalu gedung film juga tetep boleh kok narik iuran dari yang nonton. jualan cd juga boleh. (sy juga nyewakan lcd proyektor kok, ga saya kasi gratis).
Semangat open source tidak menjadikan segala sesuatu ga dihargai. sebaliknya kalo berkarya maka layak mendapat penghargaan. dlm filosofi open source yg ga berkarya yg ga dpt mas. ttp pgn closed source, maka hargai filosofinya jg (bayar royalti dan paten).
btw, contoh closed source di bidang pertanian: para petani mexico menanam jagung dengan benih yang dipatenkan oleh suatu perusahaan. di daerah itu ada juga jagung benih lokal. lalu ada serangga yang membawa serbuk sari dari jagung yang dipatenkan untuk membuahi jagung lokal. karena hasilnya baik, maka petani lokal menyimpan sebagian jagung silangan untuk benih. ditanamlah benih tersebut di musim berikutnya, dan berikutnya, dst. nah, lalu perusahaan penyedia benih menuntut para petani karena genetika jagung silangan mengandung genetika jagung paten. di pengadilan para petani kalah di muka hukum, karena paten. adilkah?
April 10, 2009 pukul 10:04 am
software adalah angka 0 dan 1. makane ketika ada persamaan dalam arsitektur software (meskipun bukan disengaja, dan asli temuan sendiri) pemilik paten bisa menuntut kapada pembuat software baru. krn itulah microsoft menuntut ratusan software open source.
April 10, 2009 pukul 10:11 am
mslh kasus mac, siapa bilang org yg memiliki pandangan open source ga mau menghargai karya orang lain? yg bermasalah kan sbnrnya di patennya mas, orang udah ga kerja msh bs dpt duit trus.
btw, malahan karena menghargai paten apple dan microsoft saya pake program open source.
April 10, 2009 pukul 4:05 pm
halah, logika apaan itu, bang elzafir? dan pola pikir anda benar-benar mirip seperti seorang kapitalis bill gates. udah nonton film ‘pirates of silicon valley’ sama ‘revolution os’ blom? i suggest you to see it
btw, bukankah banyak yang mengambil manfaat dari adanya open source? lihat saja contohnya; mac os x itu sendiri. dengan adanya open source pula, diseminasi dan perkembangan teknologi (khususnya komputer) melaju pesat. cmiiw, bang. soalnya saya cuma seorang lamer yang ga tau apa-apa.
April 21, 2009 pukul 2:07 am
Mas, jangan kelewatan nyombongnya..
Ilmu itu datang dari mana saja, ilmu itu juga dari tempat yg Anda pikir lebih bodoh dan rendah dari Anda.
Saya juga menggunakan Windows sedari dulu sampai sekarang, i’m not a linux zealots , but linux memang telah membuat software dan OS menjadi lebih mudah untuk kita pelajari (yang mo belajar).
Saya juga ngga suka banget dengan orang yg ngerasa lebih baik dari orang lain, atau merasa OS nya lebih baik dari OS lain, its not fair membanggakan sesuatu tanpa berupaya menggunakan yang lain secara adil agar bisa mengeluarkan opini yang adil juga.
Ilmu adalah masalah merendah seperti air, semakin merendah maka ilmu akan mengalir ke kita. Ilmu juga seperti air didalam teko, ilmu yang kita punyai adalah apa yang keluar dari mulut atau pikiran kita….seperti artikel dan komentar kita semua ini
Btw, Saya menggunakan WindowsXP asli dan beli (bukan bajakan), menggunakan MacOS X Leopard 10.5.6 (bajakan, jalan di Toshiba Laptop M600), dan menggunakan 2 varian Linux Ubuntu dan Slackware di laptop yang sama.
Untuk kasus Mac sy bangga terhadap “kemampuan” teknis saya merumahkan MacOS ke toshiba, tapi malu karena membajak, dan tdk bangga sama sekali, untuk 2 varian Linux, Ubuntu asik dan sangat User Friendly (mungkin karena sy membiasakan diri dan membuka diri belajar Ubuntu dan linus sejak 1999), Slackware mewakili ego sy pengen menjajal linux yang benar2 pure..
Lihat semuanya dari seluruh sudup pandang bos…
April 29, 2009 pukul 10:16 am
darth berkata
alah, logika apaan itu, bang elzafir? dan pola pikir anda benar-benar mirip seperti seorang kapitalis bill gates. udah nonton film ‘pirates of silicon valley’ sama ‘revolution os’ blom? i suggest you to see it
Sudah. Dan film itu menunjukkan bahwa Linux gak berperan di berkembangnya micro computing. Apple adalah innovator, Microsoft marketernya. Linux? Di masa depan mungkin.
April 10, 2009 pukul 10:26 am |
halagh, ini kok orang berantem soal operating system.
sudah deh, yang mo pake pake windows silahkan pake windows, yang mo pake linux juga silahkan pake linux (* gitu aja ko repot *)
engga usah saling ngejelekin
kalo ada orang yang kebangetan belagunya di luar sono, mbok ya udah di cuekin aja
doain aja supaya beliau di karuniai hidayah dalam waktu dekat ini
April 11, 2009 pukul 1:57 pm |
sip, stuju pak saya.
yg pake linux silahkan memakai software linux yang legal
yg pake windows silahkan (dengan catatan jangan lupakan kewajiban pada pembuat software) memakai software windows yang legal, kasian pembuatnya pak, dah mengharapkan hasil dari lisensi
April 10, 2009 pukul 8:39 pm |
karena sejak pertama kita taunya windows maka jadi aneh lihat linux, namun semua dari kebiasaan, pertanyaannya, kenapa kita harus pakai linux?
April 12, 2009 pukul 12:21 pm |
Harus pakai linux???
emang ada yang bilang harus pakai linux???
gini lho… klo gak mampu/bisa beli yang asli ya seyogyanya pake yang open… nah salah satunya adalah linux…
klo mo pake yang bajakan juga gak papa kok, kita cuman menyarankan…
gak bakal para pengguna linux menghukum anda dengan denda atau hukuman penjara klo ketahuan pake bajakan…
tapi sebaliknya… klo ketahuan BSA (microsoft dan kawan2) anda harus lebih kuatir..
karena mereka gak cuman nyaranin doang.. tapi juga menghukum anda !!!
April 11, 2009 pukul 2:54 am |
Hu uh Bung Elfizar alias Don Zafir. Linux itu ribet, apa2 yang free buat kepala puyeng2…
)
Konfigurasi yg ribet…
Beda ma Win* dan Mac*
(Klo Mac* lum pernah pake…
Tinggal instal driper-nya udah sip…
April 11, 2009 pukul 2:42 pm |
Anda sudah coba Linux dan Mac belum pernah coba,
jadi menurut saya Linux sudah lebih mudah di bandingkan Mac buat anda
betulllllll
April 12, 2009 pukul 12:27 pm |
ribet?
apanya mas?
driver yg mana?
software aplikasi2 maksutnya?
kan sudah ada Reponya, komplit lagi… tinggal pilih dan nginstall
klo gak ada tinggal colokin internet
anda gak perlu repot2 nyari kemana2 untuk tiap2 aplikasinya…
April 28, 2009 pukul 5:21 pm
Repo-repo…
Di jaman Anda masi pake TelkomNet Instan, gimana mau donlot dari repo?
Gak semua orang punya koneksi yang memadai untuk repo.
April 11, 2009 pukul 3:03 am |
pas gw bawa laptop os windows anak gw tanya, pih ini gimana pake nya.
hihihi (pc di rumah pake ubuntu), kasihan anak gw gak tahu windows
April 28, 2009 pukul 5:22 pm |
Kasihan sekali…
April 11, 2009 pukul 8:46 am |
Untung gue udah Pake Linux
jadi gue belajar merakit segala hal dan memungut segala hal dari awal dan dari tong sampah, tapi gue bangga kok meski gak fanatik. wkkkkkkkkkkkkk
jadi yang fanatik itu pengguna Linux atau yang bangga jadi pirate?
hi …hi ………
Apapun alasan kita semua, marilah kembali ke Leptop ! Peace
Btw, FYI : Generasi LInux terbaru sudah User friendly loh.:)
padahal hasil dari merakit dan memungut dari tong sampah.
Damai di dunia damai di komputer.
Salam.
April 11, 2009 pukul 9:36 am |
dear kk elzafir,
system operasi itu hanya sebuah tools. memang salah bagi org yg terlalu fanatik karena linux dan menjelek-jelekan os / tools lain . y mohon dimaafkan
. Tapi, linux itu bisa membuat manusia dibumi ini bisa hidup makmur dan sejahtera. semoga tidak ada lagi VOC sperti jaman dulu kala. Dan harusny kita bersyukur bisa hidup dijaman skrg, bukan jaman kerja rodi / penjajahan.
sedikit komentar utk org “awam”
Membaca adalah kunci dari semua Ilmu
Hidup (jiwa & raga) adalah kunci dari semua orang untuk sampai ke tempat tujuannya
semoga menjadi hikmah bagi kita smua ….
April 12, 2009 pukul 6:01 am |
syudah syudah
kok malah pada ribut ta
orang mau benci ya mbok biyar to mas mbak pengguna linux, saya aja yang ngerasa linux zealost *eh apa yah tadi* ndak merasa marah kok,
saya justru merasa kasihan pada orang yang lebih memilih piracy *haram* alih-alih yang jelas gratis *halal*. saya bangga menggunakan produk halal daripada memakai windows bajakan. bukan saya benci windows atau mac os atau os lain yang berbayar, hanya saja seperti lebih dari 75% lebih pengguna komputer di indonesia yang lain, belum mampu membeli os-os tersebut.
sebagai orang yang bergerak di bidang it, walau laptop yang saya gunakan ini kebetulan sudah terpaket bersama os windows berikut ms officenya, saya tetap masih menggunakan salah satu distro linux yang berbasis dekstop, demi mengenalkan kepada orang yang masih *awam* bahwa dunia ini tidak hanya terdiri atas windows dan mac os *bahkan mungkin gak tahu ada mac os yah*,
kalo ternyata niyat saya mengiklankan linux buat membuka mata pengguna komputer di indonesia di nilai salah oleh seseorang, saya anggap itu sebuah kebebasan berpendapat. toh saya tidak bisa melakukan apapun terhadap orang yang berfikir seperti itu, seperti halnya mereka tidak mampu melakukan apapun terhadap saya yang seperti ini.
selalu memikirkan apa kata orang adalah hal yang mustahil …
April 12, 2009 pukul 6:22 am |
yup… namanya saja Free, bukan berarti Gratis saja …
thanks
**maap klo da salah2 kata, nyuwun ngapunten
April 12, 2009 pukul 12:41 pm |
berhari-hari ini setiap kali saya teringat blog ini jadi ketawa-ketiwi sendiri jadinya….
saran ajah nih bung pemilik blog…
berhubung tret ini laris…. gimana klo di kapitalisasikan sekalian?
bisa dapet duit lho….
klo mo masuk bayar…
mo ngirim komen bayar lagi…
wuih.. pasti kaya tuh bung…
kan ini kompensasi anda bercapek2 ria nulis di blog ini…
jadi buat para pembaca dan peng-komentator harap maklum dan menghargai si bung penulis blog ini… gimana bung, se 7 kan?
gak ada yang gratis di dunia ini…
alias semuanya di jadikan closed sources… asyik tuh bung…
biar orang2 yang sudah tahu ajah yg makin pinter…
yang gak bisa ya udah… tinggalin ajah…
toh mereka bisa beli nantinya…
hidup closed sources…..
April 12, 2009 pukul 12:43 pm |
weeeehhhhhhhh… komennya salah tempat nih…
)
April 12, 2009 pukul 1:55 pm |
tok tok tok bung zafir ente udah balik dari eropa blum?….
orangnya kemana ya
April 30, 2009 pukul 9:43 am |
Hoi.
April 12, 2009 pukul 8:57 pm |
memang sudah saat kita mulai perang terhadap pengguna linux yang munaifk, i dukung u Don Sufir, di otaknya cuman pengen gratisan doang…..
April 13, 2009 pukul 10:22 am |
setuju bung joker….
jangan ada gratisan lagi….
jadi harus yang beli…
gak perlu yang gratis kan…
(gitu kan bung joker?)
eh…
ngomong2 ngasih komen nya masih gratis ya?
ayo bung zafir… pungut biaya atas usaha anda nulis di blog ini…
dan bung joker udah bayar ya buat komen?
April 30, 2009 pukul 9:46 am
Nulis di blog itu gak gratis seluruhnya.
Listriknya bayar. Lalu, wordpress juga bayar untuk hosting dan bandwidth.
Gak ada yang gratis di dunia ini.
April 13, 2009 pukul 8:13 am |
hmmm… saya hanya beri komentar dari 2 sisi , masalah legalitas dan moral.
akhir2x ini razia softw bajakan semakin gencar…jgn salah lho…udah nyampe kabupaten2x kecil.
Warnet2x pada tiarap…akhirnya banyak jg pindah ke linux.
Dan pelanggan warnet linux juga so far…ok2x aja…tentunya di awal2x perlu diajarin/dibimbing sama operator warnet.
Kemudian dimasa krisis seperti skrg, dimana perusahaan/instansi harus pandai2x menghemat pengeluaran, beralih ke linux atau free open source menjadi suatu pilihan.
Di sisi lain sebetulnya ini bisa menjadi peluang bisnis bagi linuxers, memberikan pelatihan atau maintenance bagi perusahaan2x tsb.
Memang tidak mudah bahkan tidak semua kebutuhan user bisa diselesaikan di linux.
Tapi ini adalah sebuah pilihan di kala perekonomian semakin sulit, tetap menggunakan software bajakan dgn resiko razia ( melanggar hukum ) atau beralih ke free open source.
Peralihan ini bisa jadi tidak perlu total semua OS , software dimigrasi, sesuai kebutuhan. Disesuaikan dengan kebutuhan dan budget.
Yang perlu dipertimbangkan lbh lanjut utk dimigrasi ke free open source adalah yang menyangkut infrastruktur IT dan common software semisal :
- Router,firewall
- Web Server, Mail-Server, Application Server, Dbase server dsb
- Spreadsheet,word processor,presentation dsb
Ini sebuah pilihan dan tidak perlu diperdebatkan, bagi yang menggunakan software bajakan perlu mempertimbangkan lagi selain dari sisi hukum juga secara moral karena membuat software tidak mudah dan murah, tuh ada yg kasih data IT nya Microsoft 91.000 orang, sakit hati kalo hasil karya yang demikian sulit, perlu tim yang besar, dana yang tidak sedikit dan perlu waktu lama utk bikinnya, akhirnya cuma dihargai Rp 5000 per keping CD, atau malah gratisan didownload.
Ada beberapa pilihan :
- Gunakan software asli/licensed, tentu saja harus beli ya
- Kalau tidak mau beli…mulailah belajar menggunakan free open source software
- pilihan terakhir … Pake software bajakan !!!( jangan dong)
sekian terima kasih, semoga debat ini tidak berkepanjangan dan saling menyerang.
Lebih baik gunakan keahlian anda semua untuk bikin OS atau distro asli bikinan Indonesia, gratis dan bisa menjawab kebutuhan common user.
Mimpi? Kenapa tidak? Sebagian besar penemuan dan teknologi berasal dari mimpi.
Mari kita bangun dunia IT Indonesia yang punya jati diri,bermartabat demi kemajuan bangsa.
April 28, 2009 pukul 5:17 pm |
Seperti yang gua bilang, gua mendukung pembajakan individual.
Skala diri gua sendiri.
Bukan skala warnet, yang nyari untung dari hasil membajak.
April 13, 2009 pukul 9:46 am |
anda mengatakan “linux zealots” (istilah anda) berambisi menjadikan dunia sebagai “utopia komunista” (istilah anda), tapi justru anda sendiri eneg (istilah anda) pada prinsip kebebasan yg menjadi dasar gerakan free software/OSS serta mengecam tidak adanya “kohesi” (istilah anda) antara software dan hardware pada distro linux. pertama, masalah dukungan hardware harusnya ditujukan pada pembuat hardware yg tidak menyediakan support yg baik dan setara pada SEMUA platform. kedua, justru karena ada prinsip kebebasanlah anda (jika kebetulan anda mampu) dapat membentuk free software tersebut sesuai kebutuhan anda (dgn tetap memerhatikan masalah hak atribusi). tidak ada yg komunis di linux, anda tidak diharuskan berpenampilan seragam (mis: taskbar warna biru dgn start button hijau dgn wallpaper padang rumput. *hint hint*). anda bisa memilih fungsi dan tampilan yg anda mau (soal window manager saja misalnya, ada gnome, kde, fluxbox, dll). oya, jika linux tidak opensource, anda tidak akan mempunyai android dalam ponsel anda. jika komputer anda hanya pentium III dgn RAM 512 MB, anda tidak perlu upgrade hardware hanya agar bisa memakai windows vista + aeronya itu, atau bahkan membeli komputer baru yg relatif mahal agar bisa memakai OS X, dan ini adalah juga manfaat bagi pengguna awam.
fakta bahwa anda bilang membenci linux (dan free software) tapi menggunakan linux (dan FOSS) hanya menunjukkan kemunafikan anda (belum lagi fakta bahwa anda lebih mendukung pembajakan ketimbang menghormati orang2 yg memilih go legal). mau opensource atau tidak itu adalah pilihan bagi pengembang software (yg tidak masuk kategori orang awam menurut anda), pengguna awam tinggal menikmati hasilnya. dan jika anda benci kebebasan, kenapa harus menuduh orang lain yg bebas sebagai komunis?
April 28, 2009 pukul 5:14 pm |
Memangnya kenapa dituduh komunis? Marah?
Kalo gua tuduh “demokratis”, gimana? Marah juga? Apa seneng?
Komunisme itu cuma salah satu pandangan mengenai sistem ekonomi, ya, EKONOMI!!!
Bukan “tampilan seragam” atau apapun yang Anda bilang diatas. Cih, itu irrelevant.
FOSS adalah ‘aliran kepercayaan’ yang ingin software dibuat ‘bebas’ dan ‘gratis’.
Kalau gak ‘free’, gak mau dimasukin ke distro. Itu apa kalo bukan satu analogi dengan komunisme, yang menginginkan rakyat mendapatkan hak yang sama, tak peduli rajin ato males?
Jangan bikin gua posting soal komunisme, deh…
April 28, 2009 pukul 6:14 pm
marah? plisdeh. baca lagi baik2 komentar saya, saya menganggap persepsi anda terbalik dgn menuduh orang lain yg memperjuangkan kebebasan sebagai ‘komunis’ sementara anda sendiri lebih suka kebebasan anda dikekang, keseragaman, dan anda hanya mendapat apa yg diberikan ‘penguasa’ kepada anda, just like in communist countries.
bebas, tapi gak mesti gratis. kapan anda mau paham hal ini? pernah baca GNU GPL? tunjukkan bagian mana yg mewajibkan software harus gratis.
FOSS memang mirip agama, tapi begitu juga dgn ‘closed source’. programmer manapun bisa memilih mau menulis program secara open source (baik gratis maupun berbayar) atau closed source (baik gratis maupun berbayar). ini BUKAN masalah EKONOMI seperti komunisme yg anda bilang sendiri, ini cuma masalah PILIHAN HAK CIPTA bagi programmer. INTELLECTUAL RIGHTS, not just ECONOMIC RIGHTS seperti yg anda ributin. PAHAM?
kalo memilih closed source, anda bisa menggratiskan atau menjual program anda, tapi anda pula yg harus mengembangkan program itu karena cuma anda yg tahu sumbernya, selesai. kalo memilih open source, anda bisa menggratiskan atau menjual program anda, dan karena kodenya terbuka utk umum, orang lain bisa memodifikasi dan mengembangkan program anda (asal source codenya dibuka juga untuk umum). benefitnya misalnya, dari kernel linux yg dimulai linus torvalds, google bisa ngembanginnya jadi android utk ponsel anda (silakan anda berterima kasih sama linus torvalds karena tidak memilih closed source), itu artinya INOVASI, dan itu BAGUS bagi pengguna serius maupun awam.
dan silakan saja anda bikin posting soal komunisme, ini blog anda. tapi tolong jangan ngawur kaya persepsi anda soal linux (“hanya untuk kerjaan non-serius”) dan open source (“software harus gratis, ini komunisme!”) ya.
April 28, 2009 pukul 7:03 pm
Ya, lalu apa benefitnya untuk Linus Torvalds?
Diberikan penguasa?
Hahahaha. Konyol. Jangan masukin argumen “big brother” dalam hal ini.
Gua bebas memilih apa yang gua mau.
Itu bukan diberikan.
Dan gua gak memilih Linux untuk kerjaan sehari-hari, karena Linux BAPUK. PAHAM?
April 13, 2009 pukul 9:56 am |
Salut Don Zafir. Yang penting itu ga muna aja dech.
Linux, repot ya jelas…
Yang mo belajar, ya silakan…
Ga usah sok2an antara yg harom ato halal… apalagi baru sekarang make linux kemudian bisa bilang ngebajak itu harom.
Boleh gw bilang semua yang komen ato baca blog ini semuanya pembajak atau minimal pernah membajak…
Lo pade ga bisa boongin diri lu sendiri, MP3 elu, Game2 elu, Film2 di rumah elu, fotokopi dari bahan2 yg ada copyrightnya dan laen2, bahkan ringtone HP elu… please dech…
April 14, 2009 pukul 10:26 am |
Betul Pak Dev, hampir seluruh orang Indonesia pasti pernah bahkan sampai skrg , sadar atau tidak sadar menggunakan produk bajakan.
Tapi hal tersebut sebaiknya tidak berlarut-larut kan?
Mulai dari yg kecil dulu misal… aplikasi office …kan sdh ada yg FOSS.
Sambil nunggu …putra2x bangsa bikin Distro asli Indonesia , yang mampu menjawab kebutuhan common user. Who knows?
MP3, movie bajakan? Hmmm bukannya itu sdh dikampanyekan secara gencar di semua media?
Semuanya tergantung kita, pilihan ada di kita, yang jelas secara hukum illegal.
Dan jangan menganggap remeh, sdh banyak toko atau warnet meskipun sdh pake linux atau FOSS msh ketangkep Polisi. Apa pasal? Ada MP3 ,movie bajakan di sana.
April 28, 2009 pukul 7:06 pm
Well bung, untuk menghindari cap “munafik”, pengguna Linux harusnya gak boleh download MP3 dan beli DVD bajakan.
Tapi bagaimana kenyataannya? Kenyataannya bicara tinggal bicara…
April 28, 2009 pukul 5:10 pm |
Betul. Setuju. Ada juga orang waras mampir kesini.
April 13, 2009 pukul 10:33 am |
wah asyik nih….
target…
target…
target…
April 13, 2009 pukul 10:57 am |
huihihihi.. gue cewek, dan gue peduli DDR, SATA, RPM dari HDD (and what so ever).. postingannya bagus gan! d(^_*)b
April 13, 2009 pukul 1:37 pm |
terus sampean makai os apa mbak, xp ? bajakan apa lisensi hik
April 28, 2009 pukul 5:10 pm |
Loe berarti cewek langka.
April 13, 2009 pukul 1:45 pm |
gelar tikar dulu, siapain rokok dan kopi
saya kutip komentar rhusein “sikap merasa diri lebih baik dari orang lain itu di mana2 sama saja akibatnya. hanya akan membawa dampak buruk.”
mari berpikir positif saja, komentar emang enak kok, tuh liat komentator sepakbola hahaha. eh eh mas yg punya blog ini [habis bingung saya komennya berjibun] kira kira kalau linux itu sudah kayak xp sampean mau pilih mana sampean ?
kalau jawabannya linux, yuk mari bergabung dg komunitas2 spt id-ubuntu biar bisa nyumbang saran dan pikiran bgm biar supaya blankon spt xp nantinya. dr pada cuma protes aja sih, saya juga bisa kalau cuma NATO
kaburrrr
April 28, 2009 pukul 5:07 pm |
Kalau sudah sama persis?
Dari segala sisi?
Kalau sudah sama persis, Windows akan mati dengan sendirinya.
Dan mau gak mau pilih Linux.
Tapi untuk apa kita “berjuang” untuk mematikan Windows?
Komputer dan OS itu sebuah alat.
Untuk bekerja.
Gua seorang filmmaker. Gua bisa gila kalo harus pake Kino ato Cinelerra.
Dan selama Linux gak mensupport Premiere dan AfterEffect secara native,
gua gak akan menyentuh Linux untuk kerjaan.
Kalo untuk hobby, ngutak-ngatik, boleh-boleh aja.
April 14, 2009 pukul 2:16 am |
semoga anda mendapat ganjaran yang setimpal atas perbuatan anda terhadap orang yang kena tipu
April 14, 2009 pukul 4:40 am |
gak mudeng aku
April 14, 2009 pukul 4:42 am |
ono ono wae
April 14, 2009 pukul 5:15 am |
baru berani kesini sekarang.. seru postingannya dan lebih seru lagi komentar2nya
lanjut aja deh..
Btw, apa perlu BBC bikin seminar untuk bahas topik ini ya ?
April 28, 2009 pukul 4:59 pm |
Perlu..perlu.
Pengen liat zealots kayak gimana IRL.
April 14, 2009 pukul 7:58 am |
tes..tes…
saya pengen ngakak ngebaca komen2 dsn…
well… klo saya liat disini, mas elzafir cuma mau ngritik zealots, kritik2 thdp linux cuma sbg penguat aja… (saya bilang zealots, bukan “linuxer” tolong dibedakan)
jujur… sebenarnya saya juga kurang suka linux… terlalu ribet..
tapi saya fine2 aja dengan “linuxer”… yang saya benci adalah zealotsnya…..
(sekali lagi, saya bilang zealots, bukan “linuxer” tolong dibedakan sekali lagi)
April 14, 2009 pukul 9:20 am |
encox pegel linux yaaach sampean makanya benci…
April 15, 2009 pukul 10:02 am |
Ga pernah pake lin*x,wind*ws,*nix,Bsd,ReactOs,Solar*s,Mac*S…………..de el el,
gw cuman pake backtrack v3 final.maklum orang susah pingin internet gratis,Uang Korupsi ga cukup buat bayar bulanan ISP….:)
(start –>turn off computer –> turnf Vs halt/poweroff ……..)
smoga orang awam spt sy menjadi awam terus….tambah suwe tambah lawas
April 17, 2009 pukul 10:44 am |
akhirnya, ini cuma pendapat seorang elzafir. 1 dari 6.77 miliar orang di dunia
orang bebas mengungkapkan pendapatnya, walaupun itu benar atau salah. apalagi sekarang lagi musim narsisme
April 28, 2009 pukul 4:57 pm |
Dan lagi musim anti-mainstream juga.
April 17, 2009 pukul 10:51 am |
Umm … saya sekarang menggunakan Ubuntu dan Windows Vista Business sebagai OS laptop saya. Terus terang saya masih enjoy menggunakan keduanya. Windows untuk games dan Ubuntu untuk kerja (karena kerjaan saya berhubungan dengan pengembangan web).
Menurut saya, perdebatan antara Windows vs Mac vs Linux itu sama seperti Intel vs AMD vs VIA atau Nvidia vs ATI. Masing-masing OS memiliki kelebihan dan kelemahan sendiri. Tidak pantas rasanya kita saling menghina dan menyanjung salah satunya.
IMO, Fanatism will not do any good. Peace guys …. ^^
April 17, 2009 pukul 12:29 pm |
Sebenarnya yang PAKSA saya pakai Linux itu siapa ?? POLISI !!!!!!
Jadi elo-2 kalo menghujat pemakai Linux ya sama dengan menghujat Polisi.
Coba kalau ngga ada Polisi di sini, ya baru orang-2 ngga ada yang pake Linux. jadi gara-2 Polisi ini ya pakai Linux.
April 28, 2009 pukul 4:56 pm |
Emangnya kenapa kalo gua menghujat polisi?
Perhatikan: “POLISI JANCUK!”.
Terus kenapa? Freedom of speech, baby.
April 28, 2009 pukul 5:20 pm
anda gak pernah denger soal pasal penghinaan ato pencemaran nama baik ya (apalagi di muka umum)? pasal 27 UUITE? ID-SIRTII? bareskrim mabes polri punya unit khusus cybercrime dgn personil2 yg sangat kapabel. freedom of speech juga dibatasi hukum kalee…
April 29, 2009 pukul 10:23 am
Ya, tapi hanya berlaku dimana hukum itu berlaku.
Gua gak berada di Indonesia.
April 17, 2009 pukul 12:38 pm |
Tapi aneh ya, Polisi kok bisa-2 nya suruh pake Linuxx padahal dirinya ngga pake Linux, malah pake bajakan ???
Hmmm, sama saja koruptor kakap menyuruh orang jangan korupsi karena itu haram, padahal dia makan kenyang dengan hasil korupsi.
April 29, 2009 pukul 10:24 am |
Yah, biasalah, polisi Indonesia.
April 17, 2009 pukul 12:52 pm |
kick your ass ……….
April 17, 2009 pukul 1:24 pm |
Well, sekedar ngedrop pendapat netral nih. Kemungkin para linux zealots ini terkena imbas underdog boost. Banyak konsumen Windows yang kecewa karena kinerja windows yang tidak mencukupi seperti sistem keamanan, konsumsi memory, dan ketiadaan akses untuk melakukan derivasi Windows.
Makanya, pada saat Linux berhasil invent openOffice, banggalah mereka karena sudah mendekati ke kapabilitas Windows. Mereka juga termakan omongan bahwa Linux lebih tangguh dalam urusan kena virus, padahal para hacker ogah bajak Linux yang pemakainya di bawah 1% (not worth the hassle). Sekarang, munculnya distro Ubuntu yang notabenenya lebih manusiawi dalam desktopnya menghasilkan zealots2 baru yang lebih pongah dan menganggap open source akan overpowered Microsoft.
Jadi, achievement2 itulah yang saya rasa menjadi dasar dari mengapa linux zealots merendahkan kaum pemakai WIndows atau OS X. Mereka dicap manja, bodoh, dan kapitalis hanya karena tidak ingin membuang waktu mengkonfigurasi linux atau menunggu suatu distro baru yang bisa mensupport kerja mereka.
Kalo pendapat komunitas open source akan mati, saya rasa susah deh. Contoh kasus, peer-to-peer download. Setelah Napster dan Kazaa mati karena terkena isu copyright infringement, muncul bittorent yang akhirnya menjadi salah satu download agent application yang unggul (well, agak gak berhubungan dengan open source sih, but you know what I mean). Sekarang, music aja udah mulai open source. Pernah dengar indigo music? Itu suatu komunitas internet yang share music buatan suatu individual dan bebas untuk diedit oleh orang lainnya. Meskipun masih komunitas kecil, namun mereka terus berkembang. Belum lagi youtube dan lainnya.
Aduh, pembahasan gw udah derailed gini nih. Last word untuk Elzafir, just keep your cool dude.
April 17, 2009 pukul 4:10 pm |
Bagi saya yang ga punya uang banyak (ekonomi menengah ke bawah), terus terang buat beli lisensi software MS. Windows, Ms. Office, Photoshop, Corel Draw, Adobe Premiere, Aneka macam Game yg harganya selangit dipastikan ga bisa.
Kl saya pake yang software bajakan (windows, office, games2x bajakan, photoshop, dll) saya takut sama Allah karena dalam agama Islam hukumnya “haram”.
Karena itu saat ini saya pake Linux karena free lisensi, karena saya rasa uda mencukupi kebutuhan saya sehari-hari.
1. Internet-an : Firefox & Opera
2. YM-an & chatting : Xchat, Pidgin & Gyach (bisa pake cam)
3. MSN-an : Pidgin
5. Ngetik : open office
6. Denger lagu : xmms, rhytimbox
7. Nonton film : vlc player
8. Presentasi & Spreadsheet : Open office
9. Main games : Warzone, Nexuiz, Open Arena, flightgear dll (kualitasnya hampir sama seperti quake dll free lisensi bukan game bajakan seperti yang banyak dimainkan orang2 di windows)
10. Ngedit photo : gimp
11. Desain gambar : Inkscape
12. Buat cetak buku & layout majalah : Scribus
13. Ngedit video : Zs4
14. Buat modelling : blender
15. Ngedit lagu : Audacity
Alhamdullilah semuanya lancar dengan software free lisensi tanpa harus memakai barang yang haram (bajakan) karena saya ga punya duit
Kayaknya linux tuch cocoknya sama orang2 kayak saya yang ga punya uang banyak
.
Salam…
April 18, 2009 pukul 4:18 pm |
Apa yg anda tulis sepertinya tdk demikian dng kondisi “pengguna awam” di warnet gw. Wrnet gw pake PcLinux3DOS. Mulai dari anak SD yg suka maen game sampai Orang Tua yg pusing dengan FD-nya krna banyak virus dari OS lain, enjoy aja.., mrk explor sendiri… Stlh diselidik, merka ngerasa mirip aja dng windows bahkan lebih menarik tampilannya karna sudah ada efek 3D. Jadi I think, Linux is User-Friendly Now!
April 29, 2009 pukul 10:27 am |
“Mirip dengan Windows”.
Jadi, kemiripan dengan Windows jadi acuannya, kan?
April 29, 2009 pukul 3:30 pm
PCLinux dan varian-varian terbarunya bukan hanya suasana desktopnya mirip windows, bisa juga saya ubah style seperti Mac. Jadi ibarat manusia, distro Linux yg satu ini sangat sosial, tidak ego, sangat fleksibel, bisa mengenal aplikasi under windows via wine, gak mahal, 1 dvd sdh komplit programnya & bisa untuk banyak komputer, fitur 3 dimensinya sangat menarik hati (vista lewat), game-nya banyak untuk segala jenis, better than Ubuntu and Windows (bagi saya sih yg pengguna awam). Coba deh yg satu ini.. Peace don zafir!
April 29, 2009 pukul 4:04 pm
Desktop PCLinux dan varian2 terbarunya udah friendly banget bos, suasana desktopnya sudah mirip windows, tapi bisa juga diubah suasana menjadi Mac apalagi Gnome.
Ibarat manusia, distro yg saya pakai ini memiliki rasa sosial yg tinggi, tidak egois, mengenal aplikasi windows via wine, game-nya banyak juga tuk segala jenis, dukungan hardware cukup baik (webcam, wireless adapter, maupun printer gw nyala koq), 1 dvd harganya gak semahal windows, bisa tuk banyak komputer (seperti di warnet gw), fitur 3 dimensinya menarik hati (vista lewat bro) dan sy koq ngerasanya “more than Ubuntu or Windows”. So, pilih saja distro Linux untuk desktop yg nyaman dan mudah,
nggak usah dibenci ya… PEACE !
coba dilihat bos http://www.pclinux3d.com (karya saudara kita di Indonesia)
Juli 6, 2009 pukul 10:37 am
Udah liat.
Gak menarik.
April 18, 2009 pukul 5:34 pm |
anda posting di wordpress.com
wordpress.com itu pake Linux
–
http://wordpress.org was running LiteSpeed on Linux when last queried at 12-Apr-2009 09:20:51 GMT – refresh now Site Report
Try out the Netcraft Toolbar! FAQ
OS Server Last changed IP address Netblock Owner
Linux LiteSpeed 1-Apr-2009 72.233.56.138 Layered Technologies, Inc.
Linux LiteSpeed 20-Feb-2009 72.233.56.138 Layered Technologies, Inc.
Linux LiteSpeed 1-Jan-2009 72.233.56.138 Layered Technologies, Inc.
Linux LiteSpeed 17-Nov-2008 72.233.56.138 Layered Technologies, Inc.
Linux LiteSpeed 20-Sep-2008 72.233.56.138 Layered Technologies, Inc.
Linux LiteSpeed 16-Aug-2008 72.233.56.138 Layered Technologies, Inc.
Linux LiteSpeed 20-Jun-2008 72.233.56.138 Layered Technologies, Inc.
Linux LiteSpeed 11-May-2008 72.233.56.138 Layered Technologies, Inc.
Linux LiteSpeed 10-May-2008 72.233.56.138 Layered Technologies, Inc.
Linux LiteSpeed 20-Mar-2008 72.233.56.138 Layered Technologies, Inc.
http://wordpress.com was running nginx on unknown when last queried at 12-Apr-2009 11:27:23 GMT – refresh now Site Report
Try out the Netcraft Toolbar! FAQ
OS Server Last changed IP address Netblock Owner
unknown nginx 31-Mar-2009 72.233.2.57 Layered Technologies, Inc.
Linux nginx 30-Mar-2009 76.74.254.126 automattic
unknown nginx 25-Mar-2009 72.233.2.57 Layered Technologies, Inc.
Linux nginx 24-Mar-2009 76.74.254.126 automattic
unknown nginx 21-Mar-2009 72.233.2.57 Layered Technologies, Inc.
Linux nginx 20-Mar-2009 76.74.254.126 automattic
unknown nginx 16-Mar-2009 72.233.2.57 Layered Technologies, Inc.
Linux nginx 14-Mar-2009 76.74.254.126 automattic
unknown nginx 13-Mar-2009 72.233.2.57 Layered Technologies, Inc.
Linux nginx 12-Mar-2009 76.74.254.126 automattic
April 29, 2009 pukul 10:31 am |
Maksudnya servernya kan?
Kita lagi ngomongin DESKTOP, boss.
April 18, 2009 pukul 5:36 pm |
anda nge-blog di wordpress.com
wordpress.com + wordpress.org itu pake Linux
silahkan resign dari wordpress
–
http://wordpress.org was running LiteSpeed on Linux when last queried at 12-Apr-2009 09:20:51 GMT – refresh now Site Report
Try out the Netcraft Toolbar! FAQ
OS Server Last changed IP address Netblock Owner
Linux LiteSpeed 1-Apr-2009 72.233.56.138 Layered Technologies, Inc.
Linux LiteSpeed 20-Feb-2009 72.233.56.138 Layered Technologies, Inc.
Linux LiteSpeed 1-Jan-2009 72.233.56.138 Layered Technologies, Inc.
Linux LiteSpeed 17-Nov-2008 72.233.56.138 Layered Technologies, Inc.
Linux LiteSpeed 20-Sep-2008 72.233.56.138 Layered Technologies, Inc.
Linux LiteSpeed 16-Aug-2008 72.233.56.138 Layered Technologies, Inc.
Linux LiteSpeed 20-Jun-2008 72.233.56.138 Layered Technologies, Inc.
Linux LiteSpeed 11-May-2008 72.233.56.138 Layered Technologies, Inc.
Linux LiteSpeed 10-May-2008 72.233.56.138 Layered Technologies, Inc.
Linux LiteSpeed 20-Mar-2008 72.233.56.138 Layered Technologies, Inc.
http://wordpress.com was running nginx on unknown when last queried at 12-Apr-2009 11:27:23 GMT – refresh now Site Report
Try out the Netcraft Toolbar! FAQ
OS Server Last changed IP address Netblock Owner
unknown nginx 31-Mar-2009 72.233.2.57 Layered Technologies, Inc.
Linux nginx 30-Mar-2009 76.74.254.126 automattic
unknown nginx 25-Mar-2009 72.233.2.57 Layered Technologies, Inc.
Linux nginx 24-Mar-2009 76.74.254.126 automattic
unknown nginx 21-Mar-2009 72.233.2.57 Layered Technologies, Inc.
Linux nginx 20-Mar-2009 76.74.254.126 automattic
unknown nginx 16-Mar-2009 72.233.2.57 Layered Technologies, Inc.
Linux nginx 14-Mar-2009 76.74.254.126 automattic
unknown nginx 13-Mar-2009 72.233.2.57 Layered Technologies, Inc.
Linux nginx 12-Mar-2009 76.74.254.126 automattic
April 29, 2009 pukul 10:29 am |
Maksudnya servernya kan?
Kita lagi ngomongin DESKTOP, bos.
April 18, 2009 pukul 5:38 pm |
satu lagi, Google itu pake Linux
jadi jangan Googling ya
–
http://google.com was running GWS on Linux when last queried at 14-Apr-2009 15:33:22 GMT – refresh now Site Report
Try out the Netcraft Toolbar! FAQ
OS Server Last changed IP address Netblock Owner
Linux gws 3-Apr-2009 74.125.45.100 Google Inc
unknown CERN/3.0 libwww/2.17 2-Apr-2009 74.125.45.100 Google Inc
Linux Skynet 1-Apr-2009 209.85.171.100 Google Inc
Linux Skynet 1-Apr-2009 74.125.45.100 Google Inc
Linux gws 28-Mar-2009 74.125.45.100 Google Inc
Linux gws 27-Mar-2009 209.85.171.100 Google Inc
Linux gws 18-Feb-2009 74.125.45.100 Google Inc
Linux gws 17-Feb-2009 209.85.171.100 Google Inc
Linux gws 12-Feb-2009 74.125.45.100 Google Inc
Linux gws 12-Feb-2009 74.125.45.100 Google Inc
–
http://google.co.id was running GWS on Linux when last queried at 16-Apr-2009 01:34:13 GMT – refresh now Site Report
Try out the Netcraft Toolbar! FAQ
OS Server Last changed IP address Netblock Owner
Linux gws 20-Jan-2009 64.233.161.104 Google Inc
Linux gws 19-Jan-2009 64.233.161.104 Google Inc
Linux gws 20-Oct-2008 64.233.161.104 Google Inc
Linux gws 28-Sep-2008 64.233.161.104 Google Inc
Linux gws 20-Jul-2008 64.233.161.104 Google Inc
Linux gws 9-Jun-2008 64.233.161.104 Google Inc
unknown gws 20-Apr-2008 64.233.161.104 Google Inc
Linux gws 1-Dec-2007 64.233.161.104 Google Inc
unknown gws 30-Nov-2007 64.233.161.104 Google Inc
Linux GWS/2.1 22-Jun-2007 64.233.161.104 Google Inc
April 29, 2009 pukul 2:30 pm |
Maksudnya servernya kan?
Kita lagi ngomongin DESKTOP, bosss.
April 19, 2009 pukul 10:04 am |
Pernah gak anda bayangin anda terlahir dari ekonomi yang kurang mampu…?
Coba banyangin anda hanya mempunyai cukup uang untuk membeli satu perangkat komputer (Non Software) dan perangkat komputer tersebut harus produktif dipake buat memenuhi kebutuhan keluarga anda, Apakah yang anda lakukan ?
Beli Software lisensi seperti Windows, office dll yang harganya muahal banget ? jelas ga bisa….
Pake Sofware bajakan ….? Uda jelas “HARAM”
Jadi saya harap anda jangan cuma menengok ke atas terus (Pernyataan anda : Orang-orang lebih milih untuk ngeluarin uang jutaan untuk Windows)… coba sekali-kali tengok ke bawah…
Terus komentar anda yang ini yang perlu diganti : “Linux belum dan tidak tepat untuk “para pengguna biasa”. Masyarakat kebanyakan tidak ingin direpotkan mengkonfigurasi sistem operasinya.
Saya pengguna biasa dan awam sangat direpotkan banget dengan sofware lisensi (windows dll…) :
1. Harus ngeluarin uang jutaan rupiah untuk beli
2. Harus install sana install sini sebelum pake (kita direpotkan dengan
mengkonfigurasi sistem operasinya)
3. Jika CPU rusak maka harus beli lagi softwarenya (ngeluarin uang jutaan
rupiah lagi)
4. Virus yang buanyak banget
Saya pengguna biasa dan awam sangat dibantu banget dengan sofware open source kayak linux dll.. :
1. Free Lisensi, cuma ngeluarin uang ribuan aja buat ngganti CD nya..
2. Sudah langsung bisa dipake semuanya (buat ngetik, ngedit photo dll..)
jadi nggak repot (ga tau niey distro linux yang saya terima uda lengkap
banget)
3. CPU rusak no problem, install lg aja… beres
4. Ga ada virusnya…
Itu aja komentar saya ditinjau dari pengguna awam dan sangat biasa
Kurang lebihnya saya mohon maaf sebesar-besarnya….
April 19, 2009 pukul 12:49 pm |
Halo…. Gak nyambung. Ini kan komentar kepada Linux Zealots. Bukan ke Linux secara software.
April 20, 2009 pukul 4:25 am
nyambung mas, karena dia juga udah komentarin Linux secara software.
ini komentarnya don zafir
“Tapi yang bikin gua sangat eneg sama Linux adalah, prinsip kebebasan itu lah yang bikin sistem operasi itu gak diterima di masyarakat”
April 20, 2009 pukul 6:08 am
Ah iya. Selip baca, mohon maaf kalau begitu.
April 29, 2009 pukul 2:33 pm |
Lagi-lagi omongan tentang “haram”.
Jadi Anda gak pernah beli DVD bajakan?
Gak pernah download MP3 dari torrent ato FrostWire dengan Linux Anda?
Jangan ngomongin “haram” deh.
April 20, 2009 pukul 9:42 am |
Asyik…..
Mo Asli Mo Palsu Pokoke Pake Aza
Nggak Munak Deh.. Kalo Ndak Bisa di Linux Ya di Windows, Kalo Bagus Pake Linux yang Make Linux
Lanjut gan
April 20, 2009 pukul 11:21 am |
…………………./´¯/)
……………….,/¯../
………………/…./
…………/´¯/’…’/´¯¯`·¸
………/’/…/…./……./¨¯\
…….(‘(…´…´…. ¯~/’…’)
……..\……………..’…/
………”…\………. _.·´
………..\…………..(
………….\………….\….
April 29, 2009 pukul 2:35 pm |
Yeah, real mature.
Itu kukunya copot tuh di atas.
April 20, 2009 pukul 11:24 am |
Don’t Fuck with us….
…………………./´¯/)
……………….,/¯../
………………/…./
…………/´¯/’…’/´¯¯`·¸
………/’/…/…./……./¨¯\
…….(‘(…´…´…. ¯~/’…’)
……..\……………..’…/
………”…\………. _.·´
………..\…………..(
………….\………….\….
LINUX NEVER DIE
April 28, 2009 pukul 5:25 pm |
Hahahaha.
Menyedihkan.
Bisanya copy paste doang.
April 28, 2009 pukul 6:52 pm |
ini gambar apa siH?
gak ngerti akuuuuu…..
April 20, 2009 pukul 11:49 am |
- windows itu hebat ada cd key tingkat internasional ( bayangin aja rata2 windows bajakan yg beredar,cd key nya sama semua. MANTAP ). Negara kita tingkat ke berapa dalam pembajakan ?
- tanpa windows saya tidak akan tau perkembangan virus dan antivirus nya (ini adalah pengalaman menggunakan windows)
- saya bisa tahu urutan instalasi windows (maklum selalu saja ada masalah dengan windows)
- tambah aplikasi di windows ? pergi aja ke mangga dua (lengkap dengan crack)
- dengan windows versi terbaru, saya bisa mendapatkan komputer baru (maklum windows nya butuh spek yg tinggi)
- kantor teman saya bisa masuk koran (katanya sich gara2 ada karyawan yang install program bajakan)
- pernah dengar pengadaan 2 buah komputer untuk instansi pemerinta (di pake buat ngetik2 doank) harganya lebih dari 20 juta ? PANTAS NEGARA KITA BANYAK UTANG.
-
Juli 6, 2009 pukul 10:40 am |
Negara banyak hutang karena KORUPSI!
Kalo negara pake Linux, maka akan tambah banyak lagi biaya yang dikeluarkan untuk migrasi, convert semua data-data, convert database, setting up LAN dan WAN yang harus diubah biar sesuai dengan Linux, pelatihan bagi pengguna, pelatihan bagi IT spesialis, biaya trial and error untuk menentukan distro mana yang tepat.
Anda, my friend, cuma orang NAIF yang tak tau apa-apa.
April 20, 2009 pukul 4:58 pm |
Saya juga pernah nyoba ubuntu 8.10, di desa g bisa dapet CD REPO, susah akses internetnya, mau update harus pake interet, instal aplikasi dipersulit (apt-get) komputer saya dual boot, xp dan ubuntu, tapi ubuntu nganggur, mungkinkah karena saya mala ???, terlalu banyak yang harus di kerjakan selain mengurusi linux (mempelajarinya) sedangkan waktu tidak pernah bertambah tetap 1 x 24 jam, jadi mending saya urusi kerjaan saya, membeli sesuatu yang berguna dan lebih mudah (why not) daripada gratis tapi susah
, sekarang saya belajar linux tapi tetep xp, 5 atau beberapa tahun ke depan linux akan mengalahkan windows ? saya ragu karena bukan hanya linux yang di update tapi windows di perbaiki juga kan ??, just my opinion, salam kenal bang dont ZAFIR, i love ,,,,,
April 22, 2009 pukul 8:08 am |
Lebih baik memplajari Linux
dari pada download antivirus terus, format, scan virus
skill kaga nambah cuma di kerjain ama virus
April 28, 2009 pukul 4:53 pm |
Setuju brotha’. Poin yang sangat menarik!
April 21, 2009 pukul 5:51 pm |
bro tunggu ja ubuntu 9.04 atau 9.10 kiata semua akan senang
April 28, 2009 pukul 4:52 pm |
Ya, gua juga pengen tau.
Tapi gua ragu akan ada banyak perkembangan.
Varian Ubuntu yang gua salut adalah Netbook Remix.
Interfacenya intuitif untuk netbook. Dan cocok untuk kerjaan netbook,
browsing, chatting, email, word processing. Alias kerjaan non-serius.
April 28, 2009 pukul 5:31 pm
di artikel anda ngomong soal pengguna awam, tapi di sini argumen anda kerjaannya harus serius. pertama, orang awam itu pake komputer bisa dgn tujuan serius maupun nggak serius. kedua, anda pasti tahu linux didesain utk kerjaan yg lebih serius dari windows/OS X, contoh di atas: google pake linux, google loh, yg sahamnya ratusan dollar per lembar, try that on windows. ketiga, masuklah ke kantor2 pengacara yg kerjaannya jauh lebih serius dari anda, anda akan lihat betapa serius duit yg mereka hasilkan hanya berbekal software utk browsing, chatting, email dan word processing di komputernya.
April 28, 2009 pukul 6:54 pm
Boy, gua ngomongin Ubuntu Netbook Remix di atas, yang di install di sebuah netbook, yang tidak bisa dipake untuk kerjaan serius, karena keterbatasan resolusi layar, processor dan graphic card yang lemah, dan kecilnya keyboard.
Dan dalam hal ini, “awam” itu:
1. orang-orang “non-IT” yang bekerja secara “serius”. Mereka awam terhadap “IT” itu sendiri (contoh: programming, compiling, dsb.), tapi gak terhadap “keseriusan” pekerjaan mereka.
2. pengguna komputer yang gak peduli sama OS nya selama kerjaannya beres.
Dan kerjaan “serius” itu dengan kerjaan yang menggunakan komputer melebihi dari SEKEDAR email, browsing, wordprocessing, dan chatting. Contoh, edit movie, audio engineering, kantoran dengan sistem email teringerasi (MS Exchange), dll.
Counter argumen gua:
1. Google perusahaan IT. ‘Nuff said.
2. Pengacara yang Anda sebut..
..menggunakan Linux untuk “menghemat uang”, mereka punya lebih dari 1 komputer. Jadi, mereka menggunakan Linux bukan karena Linux itu lebih bagus dari Windows/OS X, tapi karena gratis. Kalau Windows dan OS X juga gratis, gua yakin mereka gak akan nyentuh Linux.
April 22, 2009 pukul 1:35 am |
Waah banyak banget ya pecinta linux yang marah, dan emosi, berusaha menyudutkan dan seperti menyombongkan diri atas kepintaran mereka yang linux expert, saya pengguna windows dual boot dengan ubuntu, tapi kerjaan semua masih windows yg kerjain dan ubuntu ?? masih bingung, ini susah atau saya yang bego ??? saya aja dah yg oon ntar kalo bilang linux susah ntar saya di bantai ama zealots linux wkwkwk, sabar mas don Zufir, tetap berkarya go blog
April 28, 2009 pukul 4:50 pm |
Haha. Kasian ya, kayak anak kecil yang mainannya dibilang inferior terhadap mainan orang dewasa.
April 22, 2009 pukul 3:42 am |
linux dibuat bukan oleh perusahaan komersial
adapun ubuntu, fedora, dll merupakan pemaketan applikasi2 yg kompatible dgn kernelnya linux
jd anda tdk bisa nuntut aplikasi2nya dikembangkan dalam 1 company kayak microsoft. Toh namanya jg gratisan… but …. it works !!!
sedang fans2nya yg fanatik yah wajar aja bakal bermunculan orang2 seperti itu
namanya juga fanatik… kita juga gak bisa maksa mereka duduk di tengah2
saya jg fanatik sama linux dalam artian, buat kerja, desktop dan server pake linux
tapi tidak tutup mata sama windows.. cuma kalo ada yg minta sopwer, antivirus, dan semacamnya, sy bilang aja gak punya, gak pernah download lagi… hehe..
kecuali OpenOffice for windows…
sehari2 sy usahakan pake linux, selama ada padanan softwarenya..
walopun gak sebagus di windows.. mungkin udah hampir setahun konsisten
pake linux terus di desktop, akhirnya pas make windows jadi kurang sreg lagi…
banyak aplikasi yg rasanya lebih nyaman di linux. seiring dengan dukungan
software dan compatibilitas hardware yg makin baik pula…
so .. linux is getting better…
kalo gak terima linux sbg OS desktop ya it’s your problem..
pake windows aja bos, masalah kebiasaan aja lah…
Juli 6, 2009 pukul 10:42 am |
Ya, lo biasa naik angkot bakal ngerasa repot kalo harus nyupir Ferrari.
Silahkan hidup di keterbatasan dan menciptakan berbagai macam justifikasi.
April 22, 2009 pukul 5:23 am |
SONTOLOYO….!!!MEMANG SITU DAH HEBAT WINDOWS,LINUX,OS X DLL??JANGAN LIAT SATU SISI MAS!!!MEMANG KAMU YANG BUAT WINDOWS?KAPAN INDONESIA MAJU KALAU SALING NGEJELAKIN….
April 24, 2009 pukul 9:40 pm |
Ngomel-ngomel aja nyed?
April 25, 2009 pukul 1:19 am
ga ngomel2 cuk itu,elonya tukang ngeyel……dasar monster taekk…untalen dewe blog mu……
makanya klo di kasih komen ma orang terima kasih dikit kek..
dasar PEKOOOOOOOKKKKKK
April 30, 2009 pukul 9:32 am
Terima kasih.
April 24, 2009 pukul 5:46 am |
Coba aja dech jalan ke linuxmovies.org sow kayaknya 12 point itu runtuh dech dengan sendirinya …..
Juli 6, 2009 pukul 10:27 am |
Gak juga.
April 26, 2009 pukul 2:20 pm |
ea ea…
ape kata lu ae dah …
lu yang bikin blognya ngapain w yang harus repot
April 27, 2009 pukul 11:51 am |
dual OS lah…
Linux buat project2 kampus…
dan buat menyegarkan pikiran, Windows Gratisan dari MSDNAA (program microsoft bagi-bagi lisensi gratis ke mahasiswa)
gk perlu saling memaki dan emosi…
April 28, 2009 pukul 8:36 pm |
OK, let’s recap. Sejauh komentar-komentar yang gw baca, para pro Linux melakukan rebuttal dengan:
1. Linux lebih bagus karena dia free source. Pembelajaran lebih bebas dengan Linux daripada Windows
2. Lebih baik pake Linux daripada membajak
3. Linux lebih murah daripada OS closed source yang mahal
4. Linux lebih tangguh dari segi networkingnya (Yang saya pikir tidak berhubungan kalo ISPnya tetep cuma ngasih 64 Kbps dan tetap menggunakan IPv4)
5. Memberikan alternatif program open source yang inferior atau yang mereka anggap hampir sama kapabilitasnya dengan Windows
6. Memaki dan menghujat
7. Menyuruh Elzafir untuk resign dari WordPress dan Google karena kedua website ini menggunakan Linux
8. Mengelak paradigma Linux yang condong ke arah “Sosialisme” dengan mengkomparasikan Stallin dengan Windows.
9. Bertanya balik atas kemampuan El Zafir menggunakan Linux
10. Menyuruh El Zafir membuat OS sendiri (What the…?)
11. Memberi Informasi kalo menghujat Linux berarti menghujat polisi (Gw ikut lo ke penjara El Zafir: “POLICE SUX”)
12. Hujat, hujat, dan lebih menghujat lagi (BTW, ini pencemaran nama baik juga kan ya? Gak lo tuntut mereka, El? You’re so kind!)
So, dari komentar yang sejauh ini gw baca, cuma 1 komentar yang mengemukakan keunggulan linux (networking… yeah right) secara system atau program yang mensupport linux. The Million Dollar Question yang ditanyakan El Zafir tidak pernah dijawab semenjak saat itu. Apakah ini suatu pertanda implisit dari linux zealots itu sendiri?
April 29, 2009 pukul 4:29 am |
inferior ketimbang windows? maaf, menurut saya ini adalah delusions of grandeur utk menutupi impotensi diri. kenapa impoten? out of the box, linux bisa melakukan jauh lebih banyak hal ketimbang windows. ingat, out of the box.
ketika baru diinstal, pengguna linux sudah punya berbagai aplikasi untuk kebutuhan sehari2 maupun yg-tidak-terlalu-sehari2 dengan kualitas yg memadai bahkan setara (jika tidak lebih baik) dengan program komersil windows. word processing, spreadsheet, presentation design, internet browser, email client+PIM, IM, image editing, entertainment (games sederhana, dvd player, music player).
bandingkan dgn windows, ketika baru diinstall windows sendiri menyarankan anda harus menginstall antivirus (not included). aplikasi yg dipunyai hanya text editor (notepad), editor dokumen sederhana (wordpad), kalkulator, program gambar2 yg hanya cocok untuk anak2 (mspaint), games sederhana yg sudah berumur 2 dekade lebih tanpa peningkatan (solitaire, minesweeper), browser yg tidak aman (IE), dan email client sederhana (OE). satu2nya aplikasi yg cukup ‘wah’ adalah media playernya (WMP) yg sebenarnya bukan untuk pekerjaan serius. agar dapat melakukan pekerjaan standar yg lebih serius, pengguna harus menginstall program seperti MS Office dan adobe photoshop/paint shop pro yg harganya (jika anda tidak membajak) bisa lebih mahal dari komputer anda sendiri. belum lagi jika ingin melakukan pekerjaan spesifik seperti adobe premiere (seperti don zafir yg katanya filmmaker, pasti amatir karena masih pake bajakan), CS suite (jika anda desainer), visual studio (jika anda programmer), mapinfo (jika anda GIS engineer), SAP (jika anda menghandle korporasi dgn capital value trilyunan), TEMS (jika anda network planning engineer), dll yg lisensinya berkisar antara ratusan dollar untuk selamanya hingga puluhan ribu dollar (untuk setahun saja).
tapi itu untuk pengguna serius, kan yg dibahas di sini pengguna awam. pilihan yg lebih bijak adalah menggunakan software yg kualitasnya bagus dgn harga yg tidak mahal, bukan dgn membajak karya orang dgn alasan “skala pribadi”. linux sendiri bisa sangat serius jika diinginkan, malah didesain untuk pekerjaan2 serius yg sayangnya gak banyak diperhatikan orang (jadi server, firewall, aplikasi2 back end) akhirnya jadi taken for granted. internet yg anda kenal sekarang ini gak akan ada kalo gak ada komputer2 linux/unix like yg menjalankannya, dan itu sangat serius. try that on windows, biar anda tahu mana sebenarnya yg “inferior”.
April 30, 2009 pukul 9:57 am
Ngomongin kok “out of the box”.
Yap, out of the box Linux memang lebih menyediakan banyak program yang lebih baik dibandingkan Windows. Tapi untuk expansi setelah “dikeluarin dari kotak”, Linux kalah jauh.
Memang, artikel ini tentang pengguna “awam” (dalam arti awam IT, bukan awam segalanya), tapi fakta bahwa Linux menyediakan program-program yang tidak lebih baik (contoh: GIMP<Photoshop, OO.o<MSOffice 2007, Cinelerra<Premiere, Pidgin<YM/WLM, games, etc) dari apa yang mungkin bisa di dapatkan dengan platform Windows DAN OS X, membuat Linux hanya menjadi second class di mata pengguna non-IT individual.
Well, dan ya, gua filmmaker amatir. Atau lebih tepatnya, independen.
April 29, 2009 pukul 5:00 am |
benefitnya? let’s see, diakui dan terkenal seluruh dunia sebagai pemrakarsa linux? kepuasan karena melihat karyanya berkembang pesat dan memberikan kontribusi berarti? mendapat pahala? semua itu BENEFIT. kecuali anda salah persepsi dan yg anda maksud adalah PROFIT. torvalds sendiri adalah engineer, seorang scientist, passionnya terhadap ilmu, bukan uang semata. dan dia juga gak miskin kok hanya karena kernel linux disebarin gratis dan open source. dia punya pekerjaan dan dibayar lumayan sehingga gak harus ngebajak adobe premiere utk bikin film (pasti film amatir ato film gak laku tuh, gak ada duit buat modalin beli lisensi).
bebas memilih apa yg anda mau di windows? contoh sederhana, bisa anda memilih utk memindahkan tombol X utk menutup window dari pojok kanan atas ke tengah, kiri, ato bawah? bisa anda mengganti logo bendera windows di start button dgn gambar lain? bisa anda memindah2 posisi/menyembunyikan system tray dari taskbar anda? bisa saja sih, dgn sedikit hacking yg ilegal menurut lisensi windows, tidak ilegal jika itu open source. anda itu diberikan semua itu tanpa kemungkinan (yg legal) utk menentukan selera anda sendiri, dan anda pikir anda bebas memilih? don’t make me laugh.
jangan ngatain OS lain bapuk hanya karena anda kerja membutuhkan adobe premiere di windows (yg dua2nya mungkin bajakan). buat orang lain, mungkin windows yg lebih bapuk, apalagi windows bajakan. sikap anda yg bigot fanatik chauvinist justru mencerminkan exactly zealots yg katanya anda benci, dan itu menandakan anda munafik (membenci orang lain padahal sendirinya…).
oya, anda masih utang pada saya utk menunjukkan bagian mana yg mewajibkan software harus gratis pada GNU GPL. saya tunggu loh.
April 29, 2009 pukul 9:31 am
Oh, jadi untuk EGO? Oke dimengerti.
Tentu saja. Gua bebas memilih. Gua pilih Windows. Kalo gak suka, gua tinggal ganti ke OS X. Simpe. Gampang. Dan memindahkan tombol X itu hal yang irrelevant. Dan gak produktif (ini opini -red).
So? Gak usah sok suci soal bajakan-bajakan. Bilang Anda kalo gak pernah beli DVD bajakan, atau download MP3 bajakan di Internet, baru gua anggep itu omongan loe.
Jangan bercanda. Gua gak mendukung Windows doang. Gua mendukung Windows DAN OS X. Atau dengan kata lain, menunjukkan ketidaksempurnaan Linux yang selama ini kalian sanjung-sanjung.
Dan, Bigot fanatik chauvinist? Kalau Anda baca artikel dan comment-comment dari gua di sini, akan jelas keliatan kalau gua menggunakan Linux di salah satu PC gua di rumah. Untuk server. Dan sebagai orang yang juga mempunyai akses ke Linux, gua bisa bilang kalo Linux itu bapuk untuk pekerjaan yang matter.
April 28, 2009 pukul 9:35 pm |
[...] reminds me of one of my friend’s post, El Zafir’s Gua Benci Linux (Sorry, it’s in Bahasa Indonesia). He was despised by the fact that linux zealots intimidates [...]
April 29, 2009 pukul 10:53 am |
teman saya seorang manajer VAS and content pada sebuah perusahaan telco besar di indonesia. dia bekerja secara serius, gak peduli sama OSnya selama kerjaannya beres, tebak OS apa yg dipake? Red Hat. gak bisa kerja dia kalo pake windows XP bawaan laptopnya.
untuk yg lebih awamnya, teman saya seorang officer di bidang logistik di pertamina. kerjaan serius, dan gak terlalu peduli OS apa yg dipake selama kerjaannya beres. OS apa yg dipilihnya buat kerja setiap hari (SAP R/3)? ubuntu.
ponakan saya, kelas 6 SD, lagi seneng facebookan dan blogging (kerjaan serius, untuk anak kelas 6 SD), hanya pernah pake windows selama ini, tidak mengalami kesulitan apapun ketika menggunakan ubuntu pertama kali. tidak peduli apa OSnya, toh bisa facebookan juga. malah dia lebih suka ubuntu karena lebih banyak yg bisa dia lakukan.
berarti linux masuk kategori 2 poin anda soal pengguna “awam”.
1. what’s your point?
2. anda tidak menangkap poin saya. yg saya mau bilang itu anda salah kalo bilang browsing, chatting, email, word processing adalah kerjaan non-serius. ini bukan masalah OSnya, toh mereka kan “awam”. sudah paham sekarang?
April 30, 2009 pukul 9:31 am |
Yap. Itu adalah pengecualian. Market share dan return rate dari netbook berisikan Linux gak bisa bohong.
Dan, Windows, Windows, Windows, dari tadi ngomongin Windows..
OS X gak pernah dilirik.
1. Perusahaan IT itu definisi terjauh dari pengguna “awam”.
2. Tapi argumennya gak nyambung. Mereka pake Linux karena mereka cuma butuh itu dan mau hemat duit, bukan karena Linux lebih baik.
Dan ya, itu kerjaan non-serius, karena browsing, chatting, email, dan ngetik adalah kerjaan yang bisa dilakukan anak SD.
Tapi apa yang mereka cari saat browsing, apa yang diomongin saat chatting dan email-emailan, dan apa yang diketik itu baru pekerjaan seriusnya. Pengacara ini contoh pengguna Linux yang gua kagumi.
April 29, 2009 pukul 11:02 am |
April 30, 2009 pukul 9:21 am |
Haha.
Lucu.
Yang gua lakukan sebelumnya, itu adalah opini gua.
Dan itu lah pendapat gua mengenai polisi. Apa UU ITE itu cuma berlaku untuk opini yan positif aja? Gua gak menyebar fitnah, dan itu murni opini.
Itu bukan pencemaran nama baik, karena memang tidak ada nama baiknya.
Anda munafik kalo gak setuju dengan gua.
Ternyata Anda terlalu bernafsu untuk menjatuhkan gua.
April 29, 2009 pukul 2:00 pm |
“…inti dari Linux dan open source adalah kebebasan. Tapi kapankah kalian sadar bahwa kebebasan selalu membawa kehancuran?”
Maksudnya apa ya dengan pernyataan tersebut? ……
kehancuran bagi Microsoft ya? Kalo itu sih gw sepakat, karena tahun ini laba Microsoft turun drastis ditambah PHK ribuan karyawannya dan baru-baru ini pihak Microsoft meng”obral” softwarenya untuk warnet. Open License windows vista +Office2007+software berguna lainnya cuman $68. kasian.. kesannya panik gtu melihat perkembangan opensource.
April 30, 2009 pukul 11:44 am |
iya nih beritanya
http://www.detikinet.com/read/2009/04/24/103142/1120675/319/pertama-dalam-sejarah-penjualan-microsoft-anjlok
April 30, 2009 pukul 12:30 pm
Menurut hemat gua, MS ngejual mayoritas OS nya dalam bentuk OEM, pre-installed di laptop/desktop dari vendor-vendor hardware.
Kalo ngeliat berita ini, http://www.electronista.com/articles/09/04/15/idc.pc.share.q1.2009/,
jelas keliatan kalo penjualan hardware juga anjlok (karena krisis ekonomi).
Jadi, menurut gua, ini gak ada hubungannya dengan masalah Linux > Windows, ini cuma masalah ekonomi.
Satu lagi, menurut pengalaman gua (gak ada citation), mayoritas pengguna Linux ngedownload Linuxnya setelah mereka beli komputer; jumlah yang beli dengan Linux pre-installed sangat sedikit, dan cuma ada beberapa vendor yang supply Linux out-of-the-box (i.e. Dell, Asus di EEE-nya, MSI di Wind-nya, gPC, dan beberapa lainnya).
Itulah masalahnya dengan Linux, Linux gak memberi insentif untuk para pengguna Windows, apalagi OS X, untuk migrasi, kecuali:
Gratis (tapi mayoritas pembeli komputer gak mau install sendiri, jadi biasanya beli yang pre-installed, yaitu Windows)
Orang-orang yang udah terbiasa dengan program-program komersil kayak Photoshop atau Word, maunya tetep gunain program itu. Dan begitu tau Linux gak bisa jalanin program-program itu out-of-the-box, mereka langsung gak tertarik.
Liat strategi Apple yang mensupport MS Office 2008 dan Windows di hardwarenya (dengan BootCamp), itu bikin penjualan Apple meningkat. Karena Apple tau, pengguna cuma akan migrasi kalau bisa tetep gunain program yang mereka udah terbiasa. Untuk apa belajar sesuatu yang baru dan terjebak dengan program yang inferior (GIMP, Cinelerra, Pidgin, etc)?
Mei 1, 2009 pukul 2:44 am
“jelas keliatan kalo penjualan hardware juga anjlok”
karena krisis ekonomi udah jelas, salah satunya konsumen menahan diri untuk melakukan upgrade hardware.
bisa kita kaitkan, dengan menggunakan Linux umur hardware jadi lebih panjang, ga perlu ganti hardware cuma karena ada OS versi baru.
“Untuk apa belajar sesuatu yang baru dan terjebak dengan program yang inferior (GIMP, Cinelerra, Pidgin, etc)?”
manusia adalah mahluk di bumi ini yang mampu bertahan dari kepunahan. caranya dengan belajar dan mempelajari sesuatu yang baru dan bermanfaat.
justru saya ga mau terjebak kedalam lingkaran ganti versi Os ganti hardware, scan virus dan download antivirus, format dan install ulang
April 30, 2009 pukul 6:22 am |
tidak, anda pikir anda mengerti padahal sebenarnya tidak. ego adalah ketika anda mementingkan diri anda sendiri. yang dilakukan torvalds adalah memberi kontribusi sesuai yg dia mampu kepada masyarakat dan mengajak masyarakat utk ikut berkontribusi, itulah open source. jika GNU linux adalah bangunan, yg dilakukan torvalds adalah meletakkan batu pertama dalam fondasinya (kernel). satu batu gak akan berarti apa2, tapi karena dia mengundang masyarakat lain untuk ikut berkontribusi, batu itu bisa jadi bangunan yg sekarang cukup besar. jadi ini jauh dari ego.
dan jika windows ato OS X tidak cukup baik? beberapa konsumen (misalnya instansi pemerintah, menangani urusan strategis) ingin software yg bisa mereka awasi cara kerjanya (artinya harus bisa dilihat source codenya). urusannya keamanan negara tuh. mereka juga ingin software yg customized sesuai kebutuhan mereka. ini gak bisa dilayani windows atau OS X yg closed source.
saya gak sok suci, saya cuma bilang jangan anda menjelek2kan linux hanya karena anda tidak membutuhkan linux (karena bagi mereka yg membutuhkan, linux is just fine). saya juga sudah tunjukkan bahwa ada orang2 yg tidak menganggap windows ato OS X memadai atau segitu pentingnya untuk kerjaan serius mereka, toh mereka cukup bijak utk tidak menjelek2kan dua OS itu. kalau personal flavor anda adalah windows, ya sudah pakailah windows, orang lain punya personal flavor sendiri2. saling respek aja lah.
trus soal bajakan, hanya karena orang lain juga pake bajakan tidak menjustifikasi anda utk pakai bajakan juga. gw juga punya MP3 dan DVD bajakan, tapi itu gw nikmati utk kepentingan pribadi dan sebagai konsumen akhir, artinya gw gak mengambil profit darinya. in a sense, itu mungkin masih fair use dan dikecualikan dari pelanggaran kekayaan intelektual. lucu sebenarnya kalo mikir bahwa anda ‘mencuri’ software karya orang lain untuk membuat karya (film) yang mungkin anda komersilkan, sementara anda menghujat open source yang anda salah kira memungkinkan orang lain dapat mencuri karya anda untuk kemudian dibuat karya baru dan dikomersilkan. anda seharusnya sudah menghujat diri anda sendiri jika anda konsisten.
dan saya juga sudah menunjukkan ketidaksempurnaan windows (dan OS X) yg di posting ini anda bela sepenuh jiwa, just like a zealot.
dan jadi server itu gak ‘matter’ gitu? kalo gak matter kenapa anda butuh server? kenapa pula anda memakai linux untuk server itu? kan ada windows dan OS X utk kerjaan yg matter? tell me, anda ini dangkal atau munafik sih?
April 30, 2009 pukul 9:10 am |
Well, bung, gua cari definisi ego di Princeton, dan ini yang gua temukan: an inflated feeling of pride in your superiority to others.
tidak ada hubungannya dengan “mementingkan diri sendiri”. Dan benefit yang di dapatkan Torvalds adalah tepat seperti definisi itu.
Anda udah OOT di sini, jadi gua gak akan tanggapi. Kita ngomongin pengguna “awam”, bukan “beberapa konsumen”. RTFA!
Jadi harus dipuji-puji? Kapan bisa maju?
Ya, orang yang cuma perlu jalan-jalan deket ato gak punya duit, angkot is “just fine”. Tapi gak membuat angkot lebih baik dari Mercedes atau BMW. Argumen “just fine” gak relevan disini.
Gua pake bajakan karena gua PENGEN pake bajakan. Yang gua bilang adalah, kalo ELO (dan elo-elo) masih ada DVD bajakan (terserah untuk tujuan apa pun), jangan sekali-sekali bilang membajak software itu haram, dsb. Pembajak tetap pembajak. Kalian cuma cari justifikasi. Anda kayaknya terlalu dense ya, Anda “beli” kan DVD bajakannya? Itu udah menguntungkan para pembajak dan penjual DVD bajakan. Kalau mau ngomong “haram”, itu duit yang mereka pake makan, haram. Dan Anda yang secara sadar membeli barang haram tersebut juga ikut dosa. Jadi, jangan munafik soal make Linux, dan men-despise orang yang pake Windows ato OS X bajakan!
Oh, sorry, film gua bukan film komersil.
Dan masalah open source yang bisa mengambil hasil karya orang tanpa begitu saja cuma salah satu dari poin gua.
Dan gua adalah PIRATE. Kayaknya gua udah made that clear.
Bla bla bla, kita dari tadi disini ngomongin DESKTOP! Jangan ngomongin server disini. Gak relevan. READ THE FUCKING ARTICLE!
Dan iya, server gak ‘matter’, karena server itu bagian dari infrastruktur jaringan. Dia disana hanya untuk ‘melayani’ (hence: server) client-clientnya. User bekerja dan menjadi produktif bukan di depan server. Kecuali Anda bukan pengguna “awam”, dan itu udah way beyond the scope of this article.
April 30, 2009 pukul 10:49 am |
Untuk semua yang ada di sini:
Presentation from Linux Fest Northwest about how Linux Sucks
(and, specifically, how to fix it). With full video and slides.
Mei 2, 2009 pukul 3:29 pm |
oohh jd krn ini toh si souza tiba2 nanya artinya imbuhan me-i pd kata menghargai. Iklan dikit deh, oot bodo amat, biar ga ambigu ttg makna positif negatif dr suatu kata kerja, menurut gua menghargai itu bisa aja diartikan sebagai menilai atau memberikan nilai. Ya ntah itu nilai positif atau negatif, suka2 orang yg nilai.
anyway, gw pengguna linux sih, tp ga sampe nyembah2 dan merasa superior (it kinda remind me of someone I know). gw gunain linux merely for my work dan gua masi gunain windows sehari2 krn ada beberapa hal yg ga bs gua lakuin di linux, contoh: painting (GIMP mana bisa jd sepowerful corel painter). tp ga bela windows jg krn bagi gua windows terlalu manja.
Mei 2, 2009 pukul 3:51 pm |
Betul sekali, saudari.
Mei 3, 2009 pukul 6:18 am |
Mei 2, 2009 pukul 8:16 pm |
loh, ada larangan utk membahas mana yg lebih unggul out of the box? kalo yg dikomparasi adalah OSnya, bukan OS+third party applications (yg bisa beda2 konfigurasinya tergantung kebutuhan, bisa juga bajakan), sudah jelas desktop linux lebih usable (baca:unggul) dari desktop windows.
Mei 2, 2009 pukul 11:07 pm |
Hmm, pendapat bias. “Get the job done” tergantung dari level dari pengguna itu sendiri. Jelas photographer punya kebutuhan yang lebih dari anak kelas 6 SD untuk “get the job done”. El Zafir di sini secara implisit mengutarakan kalau “get the job done” lebih ke arah pengguna awam IT yang menguasai bidang tertentu.
Analogi yang anda sampaikan tidak salah, namun tidak cukup kuat untuk memperdebatkan kenapa Linux lebih baik dari windows (dengan menggunakan analogi nak kelas 6 SD? Mungkin ada contoh lain untuk bidang spesifik lainnya seperti photograper atau film-maker yang lebih kuat dan matter untuk dibandingkan?)
Mei 3, 2009 pukul 3:55 am |
tapi fakta bahwa Linux menyediakan program-program yang tidak lebih baik (contoh: GIMP<Photoshop, OO.o<MSOffice 2007, Cinelerra<Premiere, Pidgin<YM/WLM, games, etc)
Photoshop,Office2007 dan lainnya bisa koq di Linux
Gimp,OO.o bisa jg di windows
lebih baik atau tidak, tergantung selera dan skill person-nya. Bisa saja skilled tp gak sesuai selera jdinya gak suka atau selera tinggi skill dipaksakan jadinya stress. selera dan skill seimbang, pastinya gak masalah dong.
Dalam hal pengoperasian, Linux dan Windows biasa aja. Tapi dari segi finansial dan keamanan, Linux is better.
Mei 3, 2009 pukul 4:07 am
Makanya saya bilang pendapat bias, karena “get the job done” tergantung dari level penggunaan.
Mei 3, 2009 pukul 3:36 am |
saya menghargai don zafir atas pembuatan artikel ini. mohon saran. terima kasih.
Mei 3, 2009 pukul 4:09 am |
saya juga menghargainya. Menurut saya tulisan seperti ini perlu, at least, para pengembang linux bisa memahami dan mengetahui kendala-kendala yg dihadapi oleh pengguna awam. terima kasih don.
Mei 4, 2009 pukul 12:27 pm |
klo saya pribadi kok berpendapat gini ya
linux itu mungkin untuk org yg sedikit banyak ngertilah dunia IT entah dr programing,network admin, dll krn memang banyak distro linux untuk beberapa tujuan semisal server data,editing,programing jg dr sisi hardware linux ga minta terlalu tinggi untuk spek nya ya klo mau pake os lain ya monggo ga usah lah mengatakan ini baik itu jelek, yg saya pegang virus di dunia ini hampir 98 % semua berjalan di win*** kan? klo memang tante om katakanlah org biasa yg ga ngerti IT memang disarankan pake win tp ttp aja rentan virus kan, intinya kita sebagai pengguna kan cm mengambil sisi keuntungan aja dr macam2 os trsb jadi ya sudah ada sesuaikan saja dengan kebutuhan krn semua ada kelebihan dan kekurangan, saya pake ubuntu server edition Rp. 0/cd untuk data bank dengan samba service di warnet saya ckp dengan pentium II dan 22 client pake win ori Rp. 800 rb/cd nah liat kan bedanya 1 pc lawas melayani 22 client dgn resource minim, virus dgn mudah dibabat dgn cmd veto file ga perlu anvir, bagaimana? dan seberapa kuat klo win 2000 server jalan di Pentium II plus klo kena virus conficker yg menyrang network service ? inilah bentuk plus minus dr macam2 OS jadi sesuaikan dengan kebutuhan ga usah munafik klo memang memakainya
Mei 4, 2009 pukul 12:43 pm |
benci linux toh? tapi gapapa kok…. coz saya sebelum full memakai linux….juga sempet benci pula dengan linux… yah gimana lagi mau itu mau ini gak semudah windows…. bener2 menjengkelkan tau gak linux itu?? bikin orang gak bisa tidur semaleman bikin aku kurus dsbgnya, hehehehehe….. tapi dari sesuatu yang aku benci ternyata bisa menjadi yang aku suka….. hehehehehe…. aapa yang aku suka… logo penguinnya yang bikin aku kesengsem… he he he
…. makannya betah…. coba klo windows pake logo penguin…. pasti nempelnya ke windows melulu…. hehehehehe….
linux itu sulit kok…. tapi klo percaya dengan pepatah “setelah kesulitan pasti ada kemudahan” pasti linux itu mudah….
btw aku linux super newbie, coz gak kenal linux sama sekali sebelum memakai linux? nih juga baru kemaren kenal ama keyboard… hehe hehehe….
fun2 aja ah…. jangan pada berantem ahhh…. saya setuju dengan judul “gue benci linux” gw mah malah gak kenapa2 secara dulu juga sama pernah benci linux juga hehehehehehe….
peace man and women…
salam dari cidlinux (cid cid cuid kemericid)
pclinuxos-id.org
Mei 4, 2009 pukul 10:37 pm |
YANG DIATAS SEMUANYA CUMAN OMONG KOSONG!! BIKIN SONO SISTEM OPERASI SENDIRI,, BISANYA CUMAN REMASTERING PUNYA ORANG.. GOBLOK LU SEMUA!
Mei 5, 2009 pukul 2:26 am |
@kifly
emang saya goblok lah…. lah secara gw juga bukan orang TI/Linux/Komputer…. gw juga ga ngerti cara nginstall OS….
mas kifly punya OS sendiri mana yah share donk? sepertinya jago bikin linux from scratch… nih…. bagi2 donk ilmunya…
Mei 7, 2009 pukul 5:44 pm |
Keduanya an yg lain (mo linux,windows,mac os,dos,minix, unix, solaris,dll)cuma tools aza kan, yg manapn jgn dijadiin idealisme an gak pntes dijadiin idealisme.
Mei 10, 2009 pukul 12:14 am |
betul, om, apaan, tu linux, nyusain doang, banyak mau, apalagi slacware,
windows juga, nyakitin ati, bikin muak, mau muntah gua, start dari jaman batu dikiri mulu, kaga muak lo,,,,,,,,,,,,,, bsd juga, sama aja, item,———————- doang, unix, juga, semua sama aja, ….mendingan pake kalkulator, aman, jelas, tinggal beli di si enkoq, ya ngg, pake kalkulator aja lo mas……………
Mei 13, 2009 pukul 1:33 pm |
yup ubuntu 9.04 dah keluar. ubuntu 9.04 boot hanya 30 detik.wow windows. xp ku 2 menit, vista mungkin 5 menit lebih. wew.
linux ubuntu memang adalah saingan microsoft windows yang paling berat, karena gratis, stabil, lengkap, indah, dan mudah. halal lagi bisa didapat dengan cara apapun. (asal jangan nyuri cd temen aja
)
Mei 17, 2009 pukul 3:14 am |
Saya suka belajar………………lho heuheue ga nyambung yah… iyah say suka belajar apapun, mo windows, mo linux, yang penting dipelajari bugs dan errornya and digunakan pada saat dibutuhin.
Mei 18, 2009 pukul 2:55 am |
wah hebat buat judul blog, bisa dapat komen banyak enak neeh buat dapet hit banyak.
Mei 18, 2009 pukul 2:58 am |
wah hebat bisa menarik komen segini banyaknya, kasih tau caranya dong
Mei 18, 2009 pukul 5:32 am |
http://www.whylinuxisbetter.net/index_id.php?lang=id
Mei 20, 2009 pukul 4:15 pm |
wah seru yah. wahahahaha
gw si scara pribadi lebih suka windows yah. simple, ga ribet, n user friendly.
dulu pernah mencoba beberapa macam distro linux, cuma disaat harus menginstall sebuah applikasi terkesan sangat ribet. cuma gak tau deh sekarang bagaimana di linux, apakah masi sama atau tidak.
dulu teman ada yang mulai memakai linux dan terjadilah sebuah organisasi dimana dia dipilih sebagai ketua di kelas kita. ternyata baru beberapa bulan dia kembali lagi ke windows karena alasan kemudahan dan kepraktisan.
di sini saya melihat bahwa manusia akan lebih suka terhadap hal hal yang bersifat praktis di diri mreka (terutama saya). mungkin bagi pengguna linux jika menganggap itu sudah cukup praktis bagi mreka, mreka akan senang menggunakan linux.
namun bagi saya pribadi, saya masih lebih memilih windows karena sebagian pekerjaan saya hanya bisa dikerjakaan dengan menggunakan windows. [ n gamenya keren keren ^^ ]
ya bagi yang suka menggunakan linux silahkan menggunakan linux, yang gemar windows silahkan, OS X silahkan. cuma patut di ingat, tanpa mreka smua, dunia IT mungkin tidak ada. apa salahnya keragaman. ^^
CMIIW……
Mei 21, 2009 pukul 11:31 am |
GITU AJA KOK REPOTTT…….
LA WONG WEB NYA AJA GRATISAN…..
OS NYA GRATISAN……
MAU NGEBAHAS SOAL LINUX……..
TAU APA KAU SOAL LINUX…….KERE SEMUA…..
PADA NGOMONG SOAL OPERATING SYSTEM.
OS PALELU PEANG….!!!
Juli 6, 2009 pukul 10:24 am |
So what kalo gratisan?
Tau apa? Tau banyak gua.
Lo tau apa soal sopan santun?
Mei 26, 2009 pukul 8:23 am |
Sekarang bandingin…banyak mana server yang pake linux sama server yang pake windows server???…Microsoft itu kapitalis…gw lebih pilih kebebasan daripada kapitalis…
Juli 6, 2009 pukul 10:25 am |
Server diomongin. Jelas-jelas lagi ngomongin kegunaan sehari-hari, alias desktop.
READ THE FUCKING ARTICLE!
Mei 26, 2009 pukul 5:11 pm |
ini jadi debat kusir begini
Juni 5, 2009 pukul 8:07 am |
Wah..wah..bagus neh, kalau saya sih setuju saja sama opini Bang Elzafir, salut ^^
hehe..mau pake windows/ linux/ OS X terserah user masing2, gak usah dibikin ribut
Gak perlu rasanya terlalu maniak terhadap salah satu OS yang ada sekarang, tinggal pakai aja kok pada rame..
Enjoy aja v^PEACE^v
Juni 5, 2009 pukul 11:22 am |
buahahahaha *kocak..
Juni 19, 2009 pukul 3:36 am |
suatu saat yg benci linux akan kembali sayang, seperti beberapa judul/syair lagu benci-benci tapi rindu munkin itu yang terjadi pada teman kita ini, suatu saat dia akan menyayangi lunux dgn sepenuh hati dan jiwa raganya.
Juli 6, 2009 pukul 10:27 am |
Mungkin. Suatu saat nanti. Sekarang Linux (desktop) gak penting.
Juni 20, 2009 pukul 8:32 pm |
orang ini benci karena gak tau cara pake Linux. berarti bodoh karena ada yang bisa tuh..
Agustus 7, 2009 pukul 1:19 pm |
Hahaha. Men, lo bikin gua ketawa aja.
Lo sok tau banget, nyet.
Di ajarin ya sama nyokap lo?
Kalo ngomong dipikir dulu, jangan keluarin dari lobang pantat lo doang. Lo kira lo udah jago dengan bisa “pake” Linux? Di internet juga banyak tutorial dan forum. Ga ngerti dikit tinggal cari di Google.
Gua benci karena LINUX BAPUK. Bukan karena gak ngerti.
Lo ngerti gak? Masuk gak ke otak lo? Apa harus dimasukin lewat pantat?
Seenaknya lo masuk blog gua dan ngatain gua ‘bodoh’.
Juni 21, 2009 pukul 5:41 pm |
linux jebol
Juni 23, 2009 pukul 3:02 pm |
wew,,, ngeri bro artikelnya. wahwahwah,,, panas,,,
Pokoknya cinta linux lah aku,,, Hidup linux,,,,
Mari kita buat virus windows!!! Huakakakakk,,,
Makek linux berasa komputer banget deh komputerku,,, Kalo windows, semua orang juga bisa pakek. Kalo linux hanya orang ganteng dan orang cantik yang bisa pake ini. Bagi yang wajahnya jelek gak mungkin deh bisa pake ini. Soalnya OS ini spesial banget deh buat aku. Huakakakak,,,
Say no to virus and antivirus!!!
Saat ini jumlah virus windows : 2 juta lebih (kaspersky)
Saat ini jumlah virus linux : 22 ekor (wikipedia)
Saat ini jumlah dekstop enviroment windows : 1 (microsoft)
Saat ini jumlah desktop enviroment linux : banyak dan berkembang.
Saat ini harga windows asli : Mahal
Saat ini harga linux asli : Gratis
Saat ini pengguna windows asli dibanding bajakan : 20 % aja ah.
Saat ini pengguna lnux asli dibanding bajakan : 100 % aja ah. Open source gitu lho!
Huakakakak,,,
Ayo pakai linux,,, PDKT ma open source.
Pakai windows BAJAKAN dosa lho!!! Ingat itu!!!
Damai bro!!!
Juni 23, 2009 pukul 7:18 pm |
Bah.
Bikin virus untuk Windows juga dosa, goblog.
Males gua ngomong sama orang munafik kayak elo.
Orang-orang kayak elo yang bikin gua benci Linux.
Juli 2, 2009 pukul 6:44 pm |
busuk….
cuma omdo kalo cuma jelek – jelekin doang, anak SD juga bisa,
emang lo bisa bikin yang lebih baik dari Linux ?
Juli 6, 2009 pukul 9:43 am |
Emangnya lo bisa?
Kalo emang busuk, mo diapain? Ya DIKATAIN! HAHAHAH.
Kayak muka lo, BUSUK!
Juli 2, 2009 pukul 7:02 pm |
coba cek, server blog ini pake windows / mac?
Juli 6, 2009 pukul 9:42 am |
Kita ngomongin DESKTOP, bung.
READ THE FUCKING ARTICLE!
Juli 2, 2009 pukul 7:47 pm |
Elzafir gak malu sebagai Pirate . . .
knapa gua harus malu sbagai zealot ?
Jelas. Gua mendeklarasikan diri gua sebagai ZEALOT.
Arrrrr!!!!!
Juli 6, 2009 pukul 9:41 am |
Ya. Tapi gua benci Zealot. Yang kayak elo. Yang banci pake nama palsu. Yang gak ada kontribusinya sama Linux (at least gua memberi kritikan. Lo pernah ngapain untuk Linux?)
Makanya gua bikin ini postingan.
Juli 3, 2009 pukul 2:21 am |
iyah mas… emang linux itu susah… makanya saya gabung ke id-ubuntu, sabily-user dan macem-macem group lain dimana kalo saya tanya 1 pertanyaan pasti kalo saya liat claws mail saya akan ada lebih dari 2 jawaban…
kalo ngliat komen-komen diatas semuanya emang tergantung penggunaannya aja..
slama ini kalo saya sudah cukup puas kalo make gimp ngapain saya harus beli windows +photoshop yang harganya sudah anda cantumkan di atas. saya memang menginstall windows xp di laptop saya yang lisensinya saya dapet free dari kampus dengan program msdaa-nya microsoft. tapi slama ini penggunaan sehari-hari tetep di ubuntu mas… dan emang bener sih.. susah.. kalo yang baca komen ini ga percaya.. coba aja install linux trus cobain tiap hari pasti ketahuan kalo linux itu susah…kalo emang udah mentok susahnya coba aja cari disini http://www.google.com pasti nemu banyak dokumentasi dari jaman baheula ampe dokumentasi yang paling baru… coba juga gabung ke grup… pasti anda akan kesusahan baca imel balesan dari anggota komunitas.
Emang linux itu susah…..
Juli 3, 2009 pukul 6:37 am |
he he he.. seneng juga nih membaca sekian banyak komen di sini.. cuma saya lagi membayangkan.. kalau suatu saat oom Bill membuat polling yang isinya “setujukah Anda MS Windows dan MS Office digratiskan?” kira-kira banyak mana yah yang menjawab setuju dengan yang menjawab tidak setuju?
Juli 6, 2009 pukul 9:43 am |
Yah, bagi gua semua software itu gratis.
Juli 3, 2009 pukul 9:59 am |
Sah saja prinsip anda, tetapi yang anda tulis soal linux ga ada point penting SALAH bung,
) selagi anda mau beli (YANG ASLI) dan tinggal klik 2 kali langsung di pakai hak anda
saya edit lagu dan recording dengan linux, itu salah satu yang saya bikin bangga dan saya hanya sadar diri akan hal ekonomi saya yang ga bisa install software WINS tidak seperti anda (ga yakin juga sih
saya tunggu software wins yang anda pakai apakah sudah memberikan betapa wajar anda membenci LINUX
Juli 6, 2009 pukul 9:40 am |
Hahahaha. Lucu.
Lo pake software apa? Audacity? Yang juga ada di Windows?
Kenapa gak lo sebut software lo?
Dan by the way, tolong selesaikan SD dulu, karena kalimat anda salah secara gramatik dan logika.
Juli 3, 2009 pukul 12:15 pm |
Manusia menciptakan linux bukan linux yang menciptakan manusia, manusia yang memberi kebebasan kepada linux, bukan sebaliknya.
Bersyukurlah anda karena tidak hidup di rezim stallin karena bila stalin mendukung linux maka anda tidak akan bebas seperti linux. Berhubung anda orang kaya dan tinggi hati, sehingga berpendapat seperti itu. Pahamilah bahwa yang ada di pihak anda hanya bill gates … thnks
Juli 3, 2009 pukul 12:18 pm |
suka-sukamu lah situ… hhehehe. Mau anda benci, mau anda suka Linux itu kan hak anda, itu kebebasan buat anda. Tapi tolong Linux gak usah dijatuh-jatuhkan….
Setiap OS pasti ada kekurangan dan kelebihannya, sekarang kembali ke anda, silahkan pake sesuai kebutuhan dan keperluan anda…
yang jelas kita harus saling menghargai…
Orang Linux menghargai kebebasan, ….
Juli 6, 2009 pukul 9:38 am |
Ya tentu.
Oh, sapa yang jatuhin Linux?
Justru kalian yang “ngangkat-ngangkat” Linux.
Dan ketika gua tunjukin yang sebenernya, maka jatuhlah dia.
Pffft, tiap taun “The Year of Linux Desktop”. Developer Linux harus memperkerjakan desainer. Dan lebih sedikit programmer. Tanpa memperhatikan pengguna, Linux gak akan maju. Dan apa jadinya Linux tanpa pengkritik seperti gua? Apa jadinya kalo cuma ada orang-orang yang terima mentah-mentah apa yang dimuntahin Ubuntu (dan distro-distro lainnya). Dan gak mau mengakui bahwa GNOME, KDE, dll itu BAPUK dibanding interface OS komersial.
Juli 3, 2009 pukul 4:56 pm |
@Don Zafir:
saya orang pengecut seperti Don Zafir, saya benci linux juga loh..shit zafir… hehehehe
tapi karena ada razia windows terpaksa deh pake ubuntu..:)
Kalau kita mengutamakan kebebasan berarti kita juga bebas caci maki Don zafir.. shit
Juli 6, 2009 pukul 9:34 am |
Hahaha.
Itu artinya lo TOLOL sampe kena razia.
Mungkin emang nurun dari moyang lo, gen tolol nya.
Gua juga menghargai kebebasan.
Dan gua BEBAS ngapus komen lo ini.
Tapi gua pengen dunia tau kelakuan rendah dan moral defensif dari para pengguna Linux kayak elo (yang notabene bikin gua benci sama Linux).
Dan gua yakin kalo lo face to face sama gua, lo gak akan bisa ngebales satu pun perkataan gua.
Juli 4, 2009 pukul 9:47 am |
Mudah susah suatu OS tergantung usernya.
Ada teman saya bilang, nggak mau beli laptop Mac karena susah. Padahal dia cuma nyoba2 bentar, nggak ngerti lalu bilang susah.
Ada juga teman saya bilang, enakan pake Mac, cepat dan nggak pernah hang. Itu karena dia nggak pernah ngutak-ngatik Mac-nya dia. Karena salah satu teman saya juga, Mac-nya hang karena kebanyakan di utak-atik sana sini, install ini, install itu tambah virtual machine + ubuntu didalamnya.
Saya juga pengguna produk microsoft dari DOS sampai Windows XP. Dan memandang Linux waktu itu kok ribet banget ya. Install aja kok baris perintahnya banyak banget.
Tapi sekarang saya pengguna Linux sejati. Kenapa?
Ya, karena sekarang lebih terbiasa dengan Linux dibanding XP. Banyak kemampuan terpendam Linux yang tidak diketahui pemakai Windows.
Sama seperti mas Don, nggak terbiasa ya jgn dibilang benci.
Kalo mau main game di PC ya jgn pake Linux, karena koleksi game2 di Windows belum bisa tertandingi sampai sekarang.
Kalo mau setting design dan printing, ya pake Mac. Karena udah klop dengan mesin cetaknya.
Kalo mau nyari security tinggi, hacker, gratis, bebas virus, biasa menjalankan banyak aplikasi bersamaan tanpa lelet, ya pake Linux.
Mungkin nggak tau kan? memangnya film2 ternama hollywood di kerjaain pake apa kalo nggak Linux.
Kalo pake Windows, wah..nggak tau kapan kelarnya.
Jadi mendingan jangan bilang benci kalo nggak ngerti.
Juli 6, 2009 pukul 9:29 am |
Gak. Lo salah. DAN SALAH BESAR!
Mudah gak nya suatu OS adalah tergantung DESAINERNYA!
Kecuali lo orang yang bener-bener munafik, baru lo bisa percaya sama kata-kata lo itu.
Oh, oh. Kasian. Apa di dunia lo cuma ada Linux dan XP?
Gak pernah terpikir pake OSX? Hmm? Jelas-jelas dari segi “kemudahan” penggunaan, OSX jauh lebih unggul. Terbukti dari market share.
Dan, apa film-film ternama Hollywod BISA di edit tanpa Windows dan OS X? Linux gak ada support dari vendor-vendor software besar. Boleh aja lo-lo pada cari pengecualian-pengecualian yang gak berarti, tapi pada kenyataannya, LINUX DESKTOP BAPUK! Desainnya jelek. Gak kompatibel (oh, dan percaya gua disini. Gua udah coba mo install Linux di 4 laptop, dan cuma 2 diantaranya yang berhasil nge-load Live CD. Jangan bilang gua yang bego, karena kalo emang Linux itu “mudah” seperti yang congor lo bilang, at least masuk Live Desktop harus tanpa masalah).
Jadi, jangan komentar kalo gak baca artikelnya.
Juli 4, 2009 pukul 9:48 am |
Jancuk!!!
Juli 6, 2009 pukul 9:25 am |
MUKA LU JANCUK!
Juli 6, 2009 pukul 9:04 am |
paling ini curahan hati orang yang ga bisa pake linux..
ngrengek2 sama ibunya minta diajarin tapi berhubung di keluarganya ga ada yang bisa yaudah dia dokem ga ngapa2in and cuma ngehina karya orang lain..
KAYAK UDAH BISA BIKIN OS SENDIRI AJA LO.!!!
PAKE NGOMONG YANG KAGA2 SAMA KARYA ORANG LAIN.!!!
HAHAHAHA…
Juli 6, 2009 pukul 9:24 am |
HAHAHAHAHA!
Eh, tolol. Baca dulu baru komentar. Biar lo gak keliatan goblog. Jelas-jelas gua bilang gua pake Linux. Tapi gua punya kritik terhadap Linux. Yaitu: Linux BAPUK!
Sama kayak MUKA LO!
Pake nyuruh-nyuruh bikin OS sendiri! Lu bisa apa emangnya? Gua perkosa juga pantat lo!
Juli 7, 2009 pukul 7:20 am |
Hm… setuju jg sih kalau linux emang sulit untuk dipakai, terutama untuk user awam. Menurut saya hanya yang bener-bener ngerti OS dan agak mahir aja yang bisa install (partisinya susah bo’) dan menggunakannya untuk kegiatan sehari-hari. Saya rasa wajar-wajar aja mas elzafir mempunyai pandangan dan kritik ini.
Merupakan pr serta masukan bagi para pengembang Linux nih untuk memperbaikinya agar Linux lebih mudah dipakai terutama untuk pengguna awam karena tidak semua orang pinter tentang OS, bahkan tidak peduli sama OS nya yang penting bisa untuk kerja, dengerin musik, internetan, dll.
Saya juga pake Linux, tapi sudah lumayan mencukupi untuk keperluan sehari-hari. Namun masih jg dualboot dengan windows yang saya pakai untuk ngegame.
Agustus 7, 2009 pukul 1:09 pm |
Nice post. Thank you.
Juli 8, 2009 pukul 5:21 am |
kepanjangan nih,,,
Benci sama zaelot malah os-nya yg di jelek2in,, :-/
gw pake ubuntu bwt kerja, xp bwt maen game dan iTunes.
Tinggal mac nih, klo uda pake mac gw bakal ninggalin xp.
sukses blognya pak
Juli 9, 2009 pukul 8:25 am |
hohoho……..
damai bung…….
Gw masi semangat nie blajar pake linux.
ga da batasan waktu buat blajar(ampe uda ga bernyawa baru lese). ^^’
Juli 9, 2009 pukul 8:27 am |
hohoho……..
damai bung…….
telat ne opini gw..
Gw masi semangat nie blajar pake linux.
ga da batasan waktu buat blajar. ^^’
Juli 10, 2009 pukul 7:25 pm |
its ok.
Juli 14, 2009 pukul 9:44 am |
aduuuh,,malah pada ribut,,,
setuju sm mas elzafir klo linux ribet buat orang awam,, nah, jadi klo si orang awam mo pake linux kudu tanya2 dl deh sama yang jagoan linux,,,trus bilang aja kebutuhannya apa,,tar biar tuh jagoan yg urus instalasi,,,,nah yg jadi masalah lg, ngapain orang awam mo ribet2 kayak gitu,,kudu nyari si jagoan linux buat installin,,bisa2 kerjaan ga selesai2..mending tinggal bayar aja, beli windows plus install aplikasi yg laen,,nah yg jadi masalah lg, mau ga tuh orang awam ngeluarin duit segitu banyak buat semua yg berbayar,,,hehehe,,,jadi kayak lingkaran setan klo dipikirin mulu,,,
jadi sesuai kebutuhan aja klo menurut gw,, sesuai kantong jg,, sesuai sama keinginan diri sendiri aja ,, mau ribet apa nggak,,, semua itu pilihan,,,
sah-sah aja klo mas elzafir mengkritik,,,sah-sah aja klo yg mas elzafir bilang “linux Zealots” fanatik sama linux,,,la wong negara demokrasi,,
semua udah pada dewasa kan? jadi ya positif thinking aja sama artikelnya mas elzafir…ga perlu pake emosi,,,hehehhee,,peace aja deh,,,,maab klo komentarnya oon,,,hihihihi,,,
Agustus 1, 2009 pukul 2:27 pm |
Linux memang SUCK !
Datanya kurang kompatibel.
Programnya kalah kualitas.
Bang Zafir gak salah omong …!
Linux asli SUCK …!
Tapi hebatnya …
Di Linux wa dah gak perlu buang2 waktu bersihin Virus.
Deteksi hardwarenya … anjir … !
Printer yang dikotaknya cuman ada Win+Mac, langsung autodetek.
Wifi langsung konek, tinggal nyari yang bagus sinyalnya.
Speedy n Fastnet langsung bisa browsing … ga perlu install driver lagi.
VGA langsung terinstal dan ready buat 3D Desktop.
3D Desktopnya dahsyat gak ada yang bisa ngalahin .. Win 7 juga bakal lewat.
Apa lagi ya … banyaklah dahsyatnya daripada sucknya.
Jadi akhirnya wa putusin tetap pake Linux yang sekalipun suck tapi dahsyat.
Mau tau Linux yang wa pake …? PcLinux3DOS yang disaranin bang Raff dan yang dibilang bang Zafir ga menarik .
Tapi kali ini wa harus setuju ama bang Raff.
Agustus 7, 2009 pukul 12:51 pm |
Udah pernah coba install Ubuntu di laptop dengan BIOS Phoenix? Belom? Coba deh.
Emang lo udah pernah pake Windows 7?
Apa lo gak tau bahwa di Windows XP juga ada program yang bisa kayak gitu? Yodm3d, DeskSpace, TopSpace, ObjectDesktop, WindowsBlinds, WindowFX, ToyD, dll.
Deteksi hardware? Dengan semua hardware ditujukan untuk Windows, Linux akan selalu satu langkah dibelakang.
Agustus 2, 2009 pukul 3:09 am |
Oke, sekarang, kita masuk ke logika lain: menurut lo, berapa banyak komputer Windows ber-antivirus yang kena virus? Hmm? Lebih dari 50%!! Apa artinya? Artinya, lebih dari 50% manusia yang menggunakan komputer itu TIDAK PEDULI sama keamanan komputernya! Dan kalo mereka tidak peduli sama keamanan? Artinya? Artinya mereka gak peduli soal tingkat keamanan Linux. Dan kemungkinan besar beli komputer untuk melakukan hal-hal yang gua tulis di atas. Dan sekarang bakal gua tulis di bawah:
logika ok om, kayakx ini bisa jadi postulat bagi sosiolog+ekonom yg botak mencari akar dari kemiskinan.
Oke, sekarang, kita masuk ke logika lain: menurut lo, berapa banyak penduduk indonesia miskin? Hmm? Lebih dari 50%!! Apa artinya? Artinya, lebih dari 50% manusia yang miskin itu TIDAK PEDULI sama kemiskinanx! Dan kalo mereka tidak peduli sama kemiskinan? Artinya? Artinya mereka gak peduli soal tingkat penghidupan layak.hmm…lucu
Agustus 7, 2009 pukul 1:05 pm |
Omongan lo ada poinnya gak?
Tapi karena gua lagi bosen, gua akan tanggapin omong kosong di atas.
Fenomena kemiskinan emang belom pernah ada solusinya sampai sekarang. Tapi ada beberapa aspek yang bikin kemiskinan menjadi sebuah “penyakit”.
Banyak cerita gembel yang menang lotre jutaan dollar dan kehilangan semua uang itu dalam beberapa tahun dan balik lagi jadi gembel. Apa dia peduli sama kemiskinan?
Menurut gua, nggak. Mereka tidak peduli sama kemiskinan! Mereka gak ada usaha untuk menjadi makmur! Jika mereka menjadi makmur, mereka akan keluar dari “zona nyaman” mereka yang hidup tanpa tanggung jawab dan mulai memikirkan bagaimana caranya menjadi kaya.
Satu lagi faktor yang datang dari diri mereka sendiri adalah “sindrom korban”. Mereka merasa menjadi korban dari ketidakadilan sistem kapitalisme. Dan mereka menikmati itu. Dengan menjadi korban, mereka menjadi merasa tidak berasalah akan keadaan mereka saat ini. Mereka akan menyalahkan semuanya kepada negara dan orang-orang yang berkuasa.
Mereka NYAMAN hidup di bawah jembatan atau di gubuk. Karena, kalo mereka gak nyaman, mereka akan BERUSAHA SEKUAT TENAGA untuk merubah itu! Mereka akan tanya ke orang-orang gimana caranya menjadi kaya. Mereka akan mencari uang dan rela kelaparan untuk sekolah. Itu jika mereka peduli dengan kemiskinan.
Berapa banyak lo kira fakir miskin yang makan dari tong sampah tapi punya anak 5 biji, yang kelimanya kemungkinan besar bakal jadi gembel juga? Mereka punya otak, apa mereka ga bisa mikir? Apa mereka peduli sama kemiskinan? Coba jawab itu.
Kalo menurut lo 50% pengguna Windows yang kena virus mendingan pindah ke Linux supaya gak kena virus, itu sama aja lo bilang orang-orang miskin Indonesia untuk pindah ke Jerman (karena gembel di Jerman dikasi tunjangan oleh pemerintah). Dua ide yang sama absurdnya.
Agustus 9, 2009 pukul 3:24 am
Sepakat bahwa perilaku individu yg menyimpang menjadi sebab kemiskinan, tapi itu persoalan personal bung.Kemiskinan diindonesia itu sudah mayoritas, sdh bukan personal tapi masalah sosial.yang pemecahanx membutuhkan rekayasa sosial, sosial enginering ato apalah dan ini adalah tanggung jawab pemerintah yg digaji o/ rakyat u/ mengurusi mrk.kecuali jika ingin masyarakat sendiri yg menyelesaikanx dg cara2 yg revolusioner.
).Gak ada orang yg mau miskin, cuma terbatas sumber daya dan dana
Kemiskinan sdh membentuk lingkaran setan > miskin > tidak berpendidikan > tidak memiliki keahlian > tidak bekerja > krn tdk kerja > miskin, bgitu seterusx.Salah satu cara paling ampuh memotong lingkaran itu adalah “Pinjaman”.Sekarang pertanyaanx brp sedikit kredit u/ rakyat kecil ??
brp besar kredit u/ konglomerat ??, slahkah jika mrk menyalahkan system?. sy sepakat dgn Rendra, bhw mreka harus disadrkan dari ketertindsan.
Lebih absurd lagi jika masalah kemiskinan sprti ini diselesaikan dg cara persuasif; menyadarkan mereka satu persatu agar tidak malas,tidak boros, berusaha, belajar sama orang kaya. apalagi berharap itu selesai dgn memaki – maki mereka.:-)
Mereka punya otak, apa mereka ga bisa mikir? Apa mereka peduli sama kemiskinan? ( coba aja tanya mrk, mrk gak akan jawab!, tpi lo bakal ditonjok
Saya tdk bilang pindah kelinux u/ menghindari virus, mskipun i2 jg salah satu solusi.Saya cuma nunjukin bahwa lo terjebak fallacy of dramatic instance dlm logika.
Agustus 10, 2009 pukul 8:36 am
Justru itulah bung, yang ngaco dari Anda.
Lo menyamakan virus dengan kemiskinan.
Karena solusi untuk virus tidak serumit kemiskinan. Dan efek yang dihasilkan pun tidak semematikan kemiskinan.
Solusi untuk virus = anti-virus. Yang mana sekarang banyak antivirus gratis yang bisa di download setiap saat.
Dan lo adalah orang yang munafik jika bilang bahwa logika 50% pengguna Windows tidak peduli keamanan adalah fallacy of dramatic instance.
You know why? Penyebaran virus yang ada saat ini!
Lo kira berapa kali virus author ngerelease kreasinya ke publik? Mayoritas, satu kali. Mungkin beberapa kali.
Tapi yang membuat virus untuk Windows menyebar pesat adalah tidak digunakannya anti-virus. Mereka tidak peduli/tau dengan sekuriti.
Sama seperti masyarakat yang paling banyak terjangkit AIDS adalah penduduk benua Afrika. Mereka manusia-manusia yang tidak peduli dengan penyakit kelamin. Mereka tidak memakai kondom.
Solusinya? Kasih kondom! Bukan PINDAH ke benua lain.
Agustus 11, 2009 pukul 7:38 am
saya pikir anda tidak mengerti analogi saya.
sdh 7 tahun saya bkerja dibidang service dan penjualan komputer bung,
Memang tdk sekompleks kemiskinan, tapi cukup ampuh u/ menjadi sebab seorang kabag.ops polres dimutasi gara2 kehilangan data pilkada, menunda 1/2 tahun seorang mahasiswa u/ slesai gara2 skripsi hilang serta kejadian2 tragis yg lain.
>Dikantor kami hampir semua komputer yg terjual dgn softwre original menggunakanx + update terbaru.( free maupun berbayar dri merek a > Z )
Tp ternyata tetap aja mrk bolak – balik dg masalah yg sama
>80 % servisan kami krn virus & 99% sdh terinstal antivirus, apa itu bukti ketidak pedulian mrk ?
Menggunakan anti virus itu solusi yg terlalu sederhana, apalagi yg free. .(virus itu slalu selangkah lbih dlu dari antivirus bung !) anda jgn menyuruh mrk mengupdate setiap hari ato jam -mskipun i2 jg tdk menjamin-, krn mrk cuma mau nyetir, “sperti yg anda bilang!”
>> Dan lo adalah orang yang munafik jika bilang bahwa logika 50% pengguna Windows tidak peduli keamanan adalah fallacy of dramatic instance,>> klo begitu coba jelaskan dimana hubungan antara jumlah pengguna windows 50% yang kena virus dg ketidak pedulianx pada virus, sesuai dgn kaidah logika (tanpa loncatan premis ) ?
Memang paling mudah menyalahkan korban dlm tiap fenomena (itulah yg dilakukan pemerintah & pemilik otoritas u/ cuci tangan). krn tdk diperlukan kecerdasan lebih u/ meneliti, mengumpulkan data, verifikasi, falsifikasi dll.cukup hanya dgn mengabaikan variable lain yg lbh penting !
Agustus 11, 2009 pukul 11:55 am
Jadi, argumentasi lo disini cuma karena virus maka kejadian-kejadian tragis itu terjadi? Dan elo sudah melenceng di sini. Melenceng jauh dari fakta yang gua ungkapkan bahwa Linux kalah segala-galanya dari Windows, kecuali pada security.
Analogi kemiskinan lo itu tidak masuk akal. Lo merumitkan sebuah masalah yang mudah.
Jika menurut lo bahwa solusi untuk “virus” adalah pindah ke Linux?
Update antivirus adalah sesuatu yang harus dilakukan secara otomatis.
Oke, elo kerja di bidang service dan penjualan komputer. Melalui kata-kata lo, gua bisa mengasumsi lo adalah seorang IT-man yang tidak becus.
Di sebuah perusahaan mana ada yang namanya “menyuruh” update anti-virus tiap hari. Setidaknya seminggu sekali, dan dilakukan secara otomatis setiap terkonek ke internet.
Gua sekarang bekerja di salah satu perusahaan terbesar di Eropa. And guess what? Semua update (antivirus atau pun OS) dilakukan otomatis dari pihak server. Hak administrator di non aktifkan di setiap desktop/laptop. Dan gak ada satu pun komputer yang terjangkit virus di sini.
Dan asal tau aja, ada ratusan komputer di kantor cabang gua ini, dan hanya ada 6 orang teknisi IT. Dan mereka bisa menghandle segala macam masalah yang terjadi.
Hubungan antara 50% pengguna Windows yang terjangkit virus dan ketidakpedulian terhadap virus? DENGAN MERASA BERAT UNTUK MENGUPDATE ANTI VIRUS SETIAP HARI. Dan, dengan 40,000 virus di Windows yang tidak membuat 90% pengguna komputer untuk pindah ke Linux.
Lo tau gak, kalo hidup di Jakarta penuh dengan bahaya? Maling di mana-mana. Rumah yang berpagar, ber-alarm, dan ber-satpam pun bisa di maling. Apa pagar & alarm itu solusi yang terlalu sederhana? Jadi apa solusi bagi lo? Pindah ke GUNUNX?
And, believe it or not, para korban senang menjadi korban. Gak percaya? Bilang aja ke para “korban” bahwa semua itu salah MEREKA. Dan mereka akan mengamuk. Para korban menikmati ilusi bahwa mereka suci dan tidak bersalah.
Agustus 12, 2009 pukul 1:44 am
Dari awal saya gak pernah bikin statement sndiri, cuma mengomentari preposisi anda termasuk ttg virus.
>Analogi kemiskinan lo itu tidak masuk akal. Lo >merumitkan sebuah masalah yang mudah.
maksud anda tidak masuk diakal itu apa ? ( mustahil anda memgkomunikasikan sesuatu tnp masuk & diproses terlbih dahulu o/ akal) terus akal siapa nih ? akal anda, akal saya, ato siapa ?
rumit ato mudah i2 bernilai relativ bung, sy juga bisa bilang ; Lo menyederhanakan masalah yang kompleks.
Yang saya maksud kaidah logika tuh begini bung = premis mayor > premis minor > kesimpulan
contohx = semua manusia pasti mati > Don zafir manusia > don zafir pasti mati (ini contoh valid / logis )
contoh anda = lebih 50% pengguna komputer berantivirus kena virus (premis mayor)>………..(premis minor)> lebih dari 50% manusia yang menggunakan komputer itu TIDAK PEDULI sama keamanan komputernya (kesimpulan),mana premis minorx ?, ini jelas sesat pikir dlm logika bung!( tetap masuk diakal tp tdk logis !)
Saya pikir dari awal anda tdk berbicara pada level enterprise yg sdh memiliki pola2 khas penanganan security, tapi end user yg internetpun banyak yg awam apa lagi server & anda perlu tau bhw kebutuhan dilingkungan enterprise sangat jauh berbeda dgn end user
Masalah security update i2 kebijakan internal tiap instansi bung,smua instansi yg kami garap kami rekomondir u/ update setiap hari pada jam2 traffic sepi.u/ end user kami siapkan update free, (terserah mrk tiap hari ato minggu) dan hampir semua antivirus memungkinkn konfigurasi update tiap hari, bhkn dari pihak vendor menyarankan i2 -tapi skali lgi i2 tdk menjamin bung!-.
Meskipun dikntor gak ada produk bajakan, tp saya pribadi masih mempertanyakan dosa & haramx membajak, Karena kaidah awal transaksi dlm islam adlh “SALING MENGIKHLASI, (TIDAK BERSYARAT)”,artinya smua produk yg gua beli itu sepenuhx hak saya,gua mau perbanyak trus gua bagikan gratis, itu sah2 saja.
Agustus 2, 2009 pukul 3:47 am |
Kita akan tenggelam dlm perdebatan kusir sepanjang kita tidak mau melihat fenomena ini sebagai sebuah fenomena sosial.
sepakat ato tidak,linux telah menjadi sebuah gerakan sosial baru.tidak hanya kumpulan algoritme yg memuat jutaan kode, apalagi mainan
setiap gerakan sosial selalu muncul u/ memapankan sebuah ideologi dengan terlebih dahulu menyisihkan pesaingx -baik dgn cara2 halus maupun kasar-.(pancasila menjalani persengketaan, sepanjang sejarah u/ menjadi ideologi mainstream) Yang dipersoalkan disini adalah gejolak emosianal tiap person yang terlibat didlam gerakan ini (tentunya dengan kadar berbeda),yakinlah bahwa disetiap kelompok pasti ada orang2 yg memiliki tingkat resistensi berlebih.Anda mungkin lupa, dgn umpatan dan makian salah seorang petinggi microsoft terhadap linux.
Jangan sampai kebencian anda thd zealots menjadikan anda juga zealots!
saran saya… biarkanlah pertentangan kedua kutub extrim itu, karena dari situ akan melahirkan ilmu2 baru
Agustus 7, 2009 pukul 12:43 pm |
Betul. Dan gua bukan zealot/fanatik Windows.
Gua cuma berpendapat bahwa Linux (masih) bapuk dan tidak sedasyat yang dikatakan oleh para zealots.
Dan postingan ini cuma untuk menyodorkan ke muka mereka agar mereka sadar bahwa menggunakan program Open Source gak membuat mereka menjadi orang suci. Terutama jika mereka masih beli/download film, musik, atau game bajakan.
Agustus 12, 2009 pukul 3:59 am
Menurut saya menjadi zealots, tdk hrs ideologis.Tapi ketika kita berfikir bahwa semua pendapat zlain kita ad/ salah/kafir/sesat, tnp ada upaya dialog, tnp proses penalaran logis & ilmiah.sampai pada titik ekstrim sdh menafikkan sifat2 kemanusiaan.(nenek moyangx fanatiklah)
klo yg kayak gini gua jg paling tidak demen bung.
Agar tdk terjadi kerancuan terminologis, sebaikx anda menjelaskn apa yg anda maksud zealots
Wah, klo i2 sih gak benar om, mudah banget klo hny dg menggungakan linux, dah jd orang suci.orang yg gak menggunkan komputer aja (yg kemungkinanx menggunakan software bajakan nol), kesucianx msh perlu dipertanykan
Agustus 2, 2009 pukul 6:03 am |
Lagi-lagi Windows-linux, Lagi-lagi Windows-linux, Lagi-lagi Windows-linux
kayak lagunya the law aja.
Dah lah yang mau pake windows pake aja yang pake linux pake aja
yang di urusin tuh negri ini aja coz makin hari kita di tenggelamkan ma banyak masalah, jangan nambahin masalah lah. harusnya kita bersatu bos, terserah warna os lo apa, terserah merk laptop u apa yang pasti satu bro INDONESIAN, beda itu keren
Agustus 2, 2009 pukul 6:12 am |
Tulisan menarik Bung Zafir.
Saya sendiri pengguna Linux. Buat saya, Linux dan aplikasi2 open source lainnya itu menarik buat dipelajari/dioprek2. Nah disitulah kelebihan open source.
Tapi saya juga gak anti software proprietary. Windows masi dipake. Visual Studio juga. MASM32 juga.
(jangan khawatir, original semua kok). Belum lagi2 game2 keren (nah ini terpaksa ngebajak.. lol)
Nah, lalu apakah saya merekomendasikan tiap orang yg saya kenal supaya pake Linux? Saya lihat2 dulu. Kalo skill IT-nya “diatas” rata-rata, berani deh saya coba. Tapi kalo ngga yah, yah jelas saya jawab Windows… atau Mac kalo bayar ekstra.
Sebagai penutup, saya pernah baca kalimat yg bunyinya kira2 begini: “Linux is for peoples who like working WITH their computers, not USING their computers.”
Saya pikir Bung Zafir setuju dengan saya…
Agustus 7, 2009 pukul 12:38 pm |
Ya saya setuju. Nice post.
Agustus 2, 2009 pukul 11:09 am |
Huehe… article yg menarik hanya saja sedikit menyayat hati, terutama aku yg pecinta open source…
Tapi kasih pendapat netral aja, bagus tidaknya sebuah OS itu kan relatif. GIMP < Photoshop? Tergantung pengguna lah. Jangan juga menjudge berdasarkan kebutuhan saja, misalnya anda film maker membutuhkan Premier, yah jelas, kebutuhan anda yah Windows, ga bisa donk bilang Linux jelek hanya karena ga sesuai dengan kerjaan/kebutuhan anda. Sedangkan kerjaan aku sesuai dengan Linux maupun Windows, walau di Windows pun aku banyak menggunakan software open source.
Pengguna awam yang hanya mau internet, chat, dll itu bisa dilakukan sama baiknya di Windows dan Linux, jg OS lain. Sementara pengguna spesifik seperti designer dan film maker, silahkan gunakan Windows atau OSX.
Agustus 7, 2009 pukul 12:35 pm |
Masalahnya adalah disini:
Bagi pengguna awam, mereka tidak peduli apa OS-nya, selama bisa melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Tidak selalu untuk edit film (AVID/Premiere) atau photografi (Photoshop) dan hal-hal tingkat tinggi lainnya.
Cukup yang simple-simple aja yang membuktikan kalo Linux itu bapuk: iPod+iPhone+iTunes, Blackberry Desktop Manager, Zune, The Sims, Spore, Yahoo Messenger+webcam, ngesave file dari word processor yang bisa dibuka oleh 99% orang (tanpa harus dengan sadar ’save as MSOffice format’), dll.
Apa menurut lo para pengguna awam mau meninggalkan itu semua demi Linux? Jika Linux gak menawarkan solusi untuk hal-hal di atas, maka Linux = bapuk. Karena Linux = alternatif. Alternatif harus LEBIH BAIK SEGALA-GALANYA dari pilihan utama. Dan Linux gagal di sisi itu.
Agustus 9, 2009 pukul 7:47 pm
Itu bukan bukti sebenarnya. Kalo Linux adalah alternatif, bukan berarti harus lebih baik. Yang namanya alternatif yah ga lebih baik lah, semua ada keunggulan dan kelemahan, makanya Linux itu adalah alternatif dari kelemahan yang ada di Windows. Dan lagi, namanya alternatif, yah jelas, lupakan iTunes, pake program lain sebagai alternatif. Jangan pake iPhone, tapi pake Android. Ipod bisa dimodifikasi menggunakan Rockbox. Lupakan game2 komersial, cari alternatif. YM bisa pake program alternatif, dan tentu aja untuk webcam jg ada alternatifnya. Word? tentunya juga ada alternatifnya.
Jadi kalo pengguna awam yang dimaksud adalah pengguna Windows biasa, jelas, mereka ga bakal nyaman, soalnya dari kecil, mereka semua menggunakan Windows dan aplikasi pendukung Windows lain. Tapi kalo pengguna awam yang dimaksud adalah orang yang belum/baru belajar menggunakan komputer, maka mau pake Windows/Linux jg sama saja.
Makanya Windows takut begitu Linux yang akan dipilih sebagai OS pada OLPC, lalu mau ‘memaksa’ membuat XP bekerja disana. Kalo anak-anak sedari awal menggunakan Linux, mungkin generasi mendatang sudah berbeda kan?
Kalo anak-anak belajar GIMP dan bukan Photoshop gimana?
Linux bukan bapuk, itu hanya apa yg dikatakan oleh orang yang biasa menggunakan Windows. Kalo pake Linux, maka ada beberapa hal yang harus dipelajari apa yang ga perlu dipelajari di Windows, begitupun sebaliknya, kalo kita belajar Windows, ada hal2 yang tidak perlu kita pelajari di Linux. Contoh sederhana saja, di Windows kita harus belajar install anti virus dan menangani virus, di Linux kan ga usah. Memang bukan berarti Linux ga bakal kena virus, virus Linux sedikit mungkin memang karena pasarnya yg ga menarik sebagai target serangan, tapi ya karena itu jg, kalo sekarang kita pake Linux kita ga usah khawatir dengan hal2 ini.
Dan Linux menawarkan solusi2 di atas dengan menggunakan program yang berbeda sama sekali. Kecuali kalo vendor2 yang disebut tersebut mau membuat versi Linux, tidak ada pilihan lagi selain menggunakan aplikasi lain. Yah, namanya juga alternatif kan… :p
Agustus 10, 2009 pukul 8:19 am
Oh, memang Linux tidak “harus” lebih baik dari Windows/OSX.
Tapi, jika memang ingin dianggap sebagai alternatif, hendaknya Linux menawarkan sesuatu yang “lebih” dari apa yang sudah dimiliki orang saat ini.
Gini, loe kayaknya melewatkan sebuah fakta bawah sekitar 99% laptop yang terjual di dunia ini (market share laptop sekarang udah lebih besar dari desktop, jadi ini cuma ngambil sample aja), ter-pre-loaded dengan Windows XP/Vista atau OS X.
Dan para pembeli laptop tersebut pengen LANGSUNG bekerja/bermain dengan barang yang baru dibelinya. Nah, jadi, kalo LINUX pengen jadi ALTERNATIF bagi orang-orang ini, LINUX HARUS LEBIH BAIK! Untuk apa mengganti OS yang udah jalan dengan sempurna (OSX) atau hampir sempurna (Windows) dengan OS yang belom tentu bisa diinstall di laptopnya? (contoh kasus, Axioo NVS gua dengan bios Phoenix. Gak bisa load Live CD Ubuntu/Fedora).
Ya loe harus sadar bahwa mayoritas pengguna komputer di dunia ini adalah pengguna Windows. Dan kalo pengguna Windows bilang Linux itu bapuk (untuk mereka), maka benar lah itu adanya.
Semua bisa berubah kalau distro-distro Linux bisa membuat kontrak dengan pemain pasar komputer. Dengan munculnya Netbook, harusnya Linux bisa meraup pangsa pasar yang jauh lebih besar, karena kan katanya Linux flexible? Tapi kok baru Ubuntu doang yang bikin Netbook Remix? Mana yang lain? Dan gak laku juga tuh Netbook dengan Linux preloaded.
My friend, loe tau gak kalo gua tumbuh bukan dengan Windows? Tapi dengan MS-DOS? Dan bapak gua dari kecil megangnya Macintosh?
Jadi, gak bener kalo kita mengandai-andai jika anak-anak sekarang tumbuh dengan Linux, maka semua akan berbeda. Nggak juga! Karena yang ditawarkan semua platform major (Windows, OSX, PS3, XBOX, Wii, iPhone, Dreamcast, Android, BlackBerry) adalah kompatibilitas software! Yang gua maksud disini adalah tersedianya banyak pilihan software untuk platform tersebut. Ya lalu juga user-friendliness di nomor 2. Dan harga di nomor 3.
Linux sekarang cuma menang di harga. Tapi di software dan user-friendliness? 0 besar. User friendly = NO CONSOLE. Titik. Ini gak bisa di debat lagi.
Oke, contoh:
Gua demen banget maen Grand Theft Auto. Dan dulu, gua harus beli PlayStation buat main. Tapi sekarang di XBOX juga ada! Jadi, gua mempertimbangkan, boleh juga nih beli XBOX, karena dia punya apa yang gua mau. Udah gitu lebih murah pula. Biarin aja gak bisa Blu-Ray, tapi bisa mainin game yang bagus. Dan selain itu, koleksi-koleksi game XBOX juga oke-oke punya. Jadi gua beli XBOX. Dan XBOX merupakan alternatif yang baik untuk gua penggemar GTA.
Tapi banyak juga orang yang bakal beli PS3 cuma karena Metal Gear Solid 4 nya. Atau cuma beli XBOX 360 karena Halo 3 nya.
Nah, bayangin kalo ada console (yang kayak) Linux! Para maniak-maniaknya bakal bilang: “Ayo, beli console ini aja! Kita emang gak punya Halo 3, MGA4, Tekken, Gears of Wars, Guitar Hero, dan GTA4, tapi kita punya alternatifnya yang (gak) kalah menarik: Frets on Fire, StepMania, SuperTux, TuxRacer, Doom, Quake, Return to Castle Wolfenstein, Unreal Tournament, Heroes of Might and Magic III, Railroad Tycoon II, Sim City 3000, Soldier of Fortune Tribes II, Postal2, Aliens versus Predator, Duke Nukem 3D, Medal of Honor, dll. Memang bukan game yang sama, tapi gratis! Dan juga menarik kok kalo kita bisa menangani grafik yang gak mulus dan game yang muncul 5 tahun yang lalu”.
Tapi ngapain orang-orang mau beli console yang gamenya dikit dan mayoritas game tua? Dan game-game yang emang dicari oleh gamers adalah game yang di PlayStation dan XBOX. Karena, face the facts, seperti Linux yang hidup di dunia Windows, gamers hidup di dunia PlayStation. Jika ada seseorang yang menawarkan alternatif (XBOX, OSX), maka alternatif itu hendaknya LEBIH BAIK.
Dan don’t give me this bullshit about “kalo aja developer software kayak Adobe dan game developers mau bikin game untuk Linux, maka pengguna akan berbondong-bondong ke Linux”. Ini NGACO. NGE. A. CA. C. O. CO! Platform manapun harus mempunyai koleksi game/software yang banyak dan baik untuk bisa menarik pengguna. Bukan sebaliknya.
Dan bung, sebenernya Anda telah membenarkan argumen gua, bahwa Linux<Windows/OSX, dengan tidak menawarkan program yang sama. Terima kasih.
Dan BTW, lihat OSX yang berhasil merebut 9% pangsa pasar dari Windows. Yang mereka tawarkan adalah LEBIH BAIK dari Windows. Mereka menawarkan Microsoft Internet Explorer DAN Safari, Microsoft Office 2008 DAN iWork, Yahoo Messenger, Windows Live Messenger, game-game dari vendor besar kayak EA dan Sport Interactive, Adobe, dan masih banyak lagi program yang lebih baik dari yang ada di Windows (apalagi yang OOTB), selain juga menawarkan desain yang indah dan juga menawarkan iPod/iPhone dengan iTunes Store-nya. Dan bahkan mereka melakukannya dengan harga produk yang LEBIH MAHAL dari desktop/laptop manapun dengan specs yang sama.
Steve Jobs pun setuju sama gua kali ini.
Agustus 11, 2009 pukul 2:47 am
Hihi… Linux alternatif bukan untuk alternatif pengguna setia Windows/OSX, tapi untuk pengguna yang tidak terikat dengan Windows/OSX. Lagian, contoh yang kamu kasih itu, “alternatif yang lebih mahal”, wajarlah kalo yang namanya alternatif tersebut, harus lebih baik.
Linux adalah alternatif buat pengguna yang ga mau mengeluarkan biaya mahal hanya untuk mendapatkan sebuah sistem yang bisa bekerja sama baiknya. Sebagai ganti biaya tersebut, pengguna harus terbiasa dengan apa yang ada di Linux, ya itu, konsol dan teman-temannya! Kurasa itu cukup adil bukan.
Toh, sebenarnya para pengembang Linux itu mengembangkannya untuk komunitas yang ingin menggunakannya, bukan untuk melayani pengguna seperti halnya Windows/OSX. Untuk pengguna yang ingin dilayani semuanya (seperti anda?), silahkan lupakan Linux.
Dan saya setuju sekali kalo Linux lebih cocok untuk orang IT. Tapi bukan berarti menutup kesempatan untuk pengguna awam, toh, kurasa Ubuntu saja sudah cukup mudah digunakan oleh siapa saja, dan semuanya udah ada GUI nya tuh.
Impian anda terlalu besar jika ingin Linux bisa seperti Windows/OSX. Mereka itu semua komersial bung, berapa yang mereka investasikan untuk development aplikasi dan game? Linux? Pake biaya dari mana coba? Dan siapa yang mau beli?
Linux bukan untuk gamer! Game2 yang ada di Linux hanya sebagai hiburan kecil2an saja, karena sebenarnya para profesional -terutama di bidang IT- rata2 ga punya waktu banyak buat memainkan game2 hebat seperti buatan para vendor2 besar. Jadi hentikanlah ngomong soal game ini dan itu, aplikasi ini dan itu, Linux bukan ada untuk melayani anda.
Sekali lagi, Linux adalah alternatif untuk:
- pengguna yang tidak mau mengeluarkan biaya mahal
- pengguna yang ingin komputernya berjalan lancar tanpa gangguan pop up (ya pop up iklan pada aplikasi2 gratis), anti virus, registry cleaner, dll
- pengguna yang ingin memaksimalkan performa komputernya -terutama untuk komputer jadul-
- pengguna yang ingin sistem yang bisa dikustomisasi sesuai dengan selera mereka
- pengguna yang ga peduli dengan game2 baru
- dan lainnya
bukan untuk:
- pengguna yang rela membayar mahal
- pengguna tetap aplikasi komersial
- gamers
- dan lainnya
Got it? Jadi jangan membandingkan dengan mereka. Walau pasar mereka sama, yakni komputer, tapi target pasar mereka berbeda.
Oya, saya bukan pengguna Linux fanatik lho. Malah, sekarang saya kerja dengan menggunakan Windows. Kenapa? Alasannya mudah, karena masih ada aplikasi dan game yang masih saya butuhkan di Windows dan itu ga bisa ditinggalkan (walau saya kerja juga lebih banyak menggunakan aplikasi open source, alasannya? karena udah cukup powerful untuk semua kebutuhan saya). Tapi, jika ga ada itu, sudah lama saya meninggalkan Windows. OSX? Saya belum mencoba, tapi saya yakin memang itu bagus, hanya saja harganya terlalu mahal.
Steve Jobs dan Bill Gates setuju 100% dengan anda…
Tapi Linus Torvald tidak.
Agustus 11, 2009 pukul 11:57 am
Dan terima kasih sudah membuktikan bahwa 100% argumen dan artikel gua itu adalah benar adanya.
Agustus 6, 2009 pukul 6:58 am |
hahahaaa…
Dari sisi desktop ya. Semua OS sama2 bagus kok desktopnya. Sama2 bisa dipakai orang2 awam. Buat apa ributin Windows,MacOS,dan Linux? saya adalah seorang yang menggunakan Linux,, malah lebih baik kita bisa menguasai semuanya dan gunakan sesuai kebutuhan. Windows User Friendly?itu betul. Tapi buat zafir,,ada di postingan anda kalau anda tidak pernah kena virus di windows anda? yakin?
Tapi sebenarnya Bill Gates ga boleh marah kalau windowsnya dibajak,,toh dia bikin OS itu hasil menipu dan mencuri semua. O iya,,Microsoft juga sudah mengakui kalau Red Hat adalah pesaing terbesar mereka. Dan di negara maju Eropa,,kayak Jerman,,bisa di cek,,hampir semua menggunakan Linux sebagai Desktop.
Jadi daripada panjang2,, Segala sesuatu ada + dan -,,tinggal bagaimana sikap kita meminimalkan – tersebut.
Salam Linux.
^^
Agustus 6, 2009 pukul 8:56 am |
Iya yakin, gua gak pernah kena virus. Kenapa?
Anda tau gak, kalo sisi “gratis” dari Linux sama sekali gak berguna untuk memasarkan OS tersebut kepada masyarakat, apalagi untuk bilang bahwa Linux “lebih baik” dari Windows dan OSX. Mau bukti? Liat aja pangsa pasar Linux DESKTOP yang maju mundur di bilangan ENOL KOMA SEKIAN sampai SAKOM persen.
Menurut lo, dari JUTAAN komputer di dunia, berapa biji yang beli Windows atau OSX secara retail? Sebagian besar komputer yang dijual sudah punya OS secara pre-loaded. Jadi untuk apa orang-orang repot-repot menginstall Linux lagi jika mereka sudah punya OS yang “lebih baik” dari segi kompatibilitas dan desain?
Well, urusan Bill Gates boleh ato gak boleh marah itu di luar lingkupan artikel ini, karena gua juga membajak Windows dan OSX.
Tapi, komentar Anda bahwa Linux dipakai di negara maju di Eropa, agaknya tidak tepat. Karena apa? Karena gua sekarang bekerja di salah satu perusahaan terbesar di Eropa di bidangnya. Dan di sini RIBUAN komputer menggunakan Windows XP secara eksklusif.
Mau tau alasannya? Microsoft Exchange Server. Ya. Apa Linux mensupport itu? Karena, semua komputer disini tersentralisasi dengan sistem email yang terpadu dan terintegerasi dengan push email dari BlackBerry. Linux bisa ngalahin itu? Well, Anda tau sendiri jawabannya.
Dari sudut pandang pengguna awam di Jerman, memang benar, persentase pengguna Linux lebih besar dari di Indonesia, akan tetapi, pengguna komputer secara keseluruhan juga jauh lebih banyak daripada di Indonesia. Yang menarik adalah, dari sekian puluh temen-temen gua disini, hanya satu (ya, SATU) yang menggunakan Linux, flavor Ubuntu 7.10 (bahkan dia gak mau upgrade karena takut rusak ato apalah).
So, right now, Linux desktop sucks. Dan ini bukan salah siapa-siapa kecuali para developer Linux.
Bottom line, developer Linux di Ubuntu, Red Hat, dll harus lebih banyak mempekerjakan DESAINER dan orang-orang marketing.
Agustus 6, 2009 pukul 4:30 pm |
kalau dari desaign desktop,,saya rasa Linux udah bagus kok.. Linux udah dari lama bisa desktop cube,,semua effect2 di compiz,,sedangkan windows vista dengan bangga mengenalkan aero themes. Padahal OSX dan Linux udah dari dulu.
Dari segi hardware (ini berhubungan dengan desktop juga), Linux juga sudah semakin kaya lib2 untuk sgala tipe hardware (hampir smua di support). Disini bukan salah siapa2, jangan salahin developernya,,mereka udah berusaha.
kalau saya boleh tau,,jam terbang anda di Windows dan Linux seimbang atau lebih banyak di windows atau di Linux?
^^
Agustus 7, 2009 pukul 7:02 am |
Well, maksudnya Linux sudah “dari lama” bisa “desktop cube”/efek-efek Compiz itu gimana? Apa maksudnya Beryl/Compiz sudah tersedia untuk Linux dari lama, atau salah satu distro Linux sudah menyediakannya out-of-the-box?
Karena, seinget gua, Ubuntu baru menyertakan Compiz di build 7.10 taun 2007. Sementara Aero dengan flip-3Dnya di Vista udah di rilis taun 2006.
Dan desain itu LEBIH dari sekedar eye-candy seperti Compiz atau flip-3D. Coba lo liat GNOME/Metacity. Bandingin sama Aero dan Aqua/Brushed Metal/Polished Metal-nya OSX. Memang, GNOME dan KDE bisa di skin, tapi mayoritas pengguna awam akan “terima jadi” aja. Dan jika mereka liat dalam pandangan pertama dan gak tertarik, maka you’re out, man!
Make GNOME/Metacity gua kayak balik ke jaman Windows 95, dengan huruf yang gede-gede tanpa ClearType, warna yang cartoonish, gak adanya variasi dalam pewarnaan dan bentuk.
Contoh: bandingin OSX dan Windows XP/Vista. Beda jauh bukan? Sekarang bandingin Windows 95 dengan GNOME. MIRIP! Mungkin untuk para kalian geek yang gila Linux, desain dan eye-candy merupakan prioritas kesekian karena gak mendukung produktifitas, tapi bagi masyarakat awam INI PENTING!
Dan ini jelas salah developer. Karena mereka mengkoding dan mengkoding dan mengkoding terus tanpa memperhatikan aspek keindahan, yang notabene jadi faktor utama orang-orang pindah dari Windows ke OSX. Dan kalian para zealot menyalahkan PARA PENGGUNA karena ignoritas meraka (dan M$ karena “monopoly”; btw M$ gak monopoly. Kalian tau gak sih artinya monopoly?)
By the way, apa urusan jam terbang gua di Windows dan Linux? Kenapa gak tanya jam terbang gua di OSX juga sekalian? Jam terbang gak ada urusannya di sini kawan.
Agustus 7, 2009 pukul 10:03 am |
gw awam nih,, hmm jadinya gw mesti pake linux apa XP ya???
Agustus 7, 2009 pukul 12:26 pm |
Kalo awam lo pake OS X. Semua simple, indah, semua hardware udah lengkap ketika lo beli, dan 90% program Windows ada versi OS X-nya.
Kalo lo orang kantoran, pake Windows versi terbaru, Windows 7. Karena lo akan butuh sinkronisasi Outlook, Groove, data Excel tingkat tinggi, sering bikin presentasi, mungkin AutoCAD dan tetek bengek lainnya.
Kalo elo orang SOK SUCI yang bilang gak mau pake bajakan (padahal beli DVD, donlot MP3 dan main game bajakan), demen argumentasi dan mencoba hal baru, gak menghargai desain dan keindahan, gak doyan main game, gak punya gadget canggih macam iPod/iPhone/Blackberry, gak punya kerjaan “serius” yang membutuhkan Photoshop/AVID/CuBase/dll, gak punya temen dan pacar yang bisa diajak webcam-an di YM/MSN, dan PUNYA BANYAK WAKTU buat kutak katik sistem, sana lo pake Linux.
Agustus 12, 2009 pukul 5:56 am |
kalo dulu linux emg susah dari semua segi. tp zaman sudah berubah, sekarang liat aja http://tekno.kompas.com/read/xml/2009/08/05/10513588/untuk.pertama.kalinya.microsoft.akui.linux.sebagai.pesaing . windows saja sudah mengakui kehebatan linux. sehingga mulai ketakutan. jadi atas dasar apa lagi lu benci linux? hanya karena ga bisa pothosop kah maen dota kah? emg sotware sotoshop di rancang untuk windows. di linux jg ada buat editing foto kayak GIMP. open office apakah susah penggunaannya ? saya rasa anda salah besar. saya merasa anda hanya mencari popularitas dan ketenaran dengan membuat sensasi seperti artis2 di TV yg ga jelas itu.
Agustus 16, 2009 pukul 6:27 pm |
Hahaha. Lo tolol apa dongo hah?
Lo gak perlu nanya pertanyaan idiot kayak gitu.
Lo baca aja artikel gua, maka lo akan ngerti.
Gua gak punya waktu buat orang-orang kayak lo.
Agustus 18, 2009 pukul 1:36 am |
Hidup penuh pilihan prenz!!! mau pake Windows, linux, mac os semuanya kembali kepada kebiasaan seseorang yang menggunakan SO tersebut.
Agustus 29, 2009 pukul 10:26 pm |
dasar otak dengkulll….lo jadi pengguna haram aja bangga
ORANG PINTER CUMA PAKE LINUX
November 11, 2009 pukul 6:08 am |
Iya. Kayak elo. Yang MISKIN. Lo miskin kan? Ngaku deh.
Agustus 31, 2009 pukul 2:29 am |
Bang don zafir,, gw mo nanya nih,, agak OOT sih,, tapi penting bgt nih buat sepak terjang gw di duni persilatan ini bang don,, gini,, gw br aja beli VGA PCIEx 256 MB Nvidia Geforce,, vendornya pixelview,, nah knapa ya tiap gw br maen game 5 mnit aja tw” kompi gw nge hang gt aja !! g bs diapa-apain,, di end task jg g bs,, Ram gw sndr 512 MB,, knapa ya bang?? masa sih VGA nya g kompatibel ma MB gw?? kira” yg salah apaan y bang?? solusinya apa ya?? bs bantu gak?? tolong bang,., (.)(.) …
September 12, 2009 pukul 7:04 am |
Asss..Hatur nuhun aa tie opini na tank linux kumaha”…
v bade nanya…aa can hudang nya????
September 19, 2009 pukul 6:06 am |
Haha..ak seh sejak dulu ga cocok pk linux..emang linux cocoknya buat server..kl emang ga suka ama linux ya udah toh ga perlu digembar gemborkan, pake aja windows bt kebutuhan sehari2..gampang..
Kl bisa mudah kenapa dibuat susah seh? piss..piss..
November 11, 2009 pukul 6:08 am |
Karena gua seneng bikin orang tolol jadi kesel.
Oktober 16, 2009 pukul 6:20 pm |
Setujaaaa gak setujaaa…….!!!!!
Yang bikin sy benci dengan linux adalah distro yang terlalu
banyak dan semua merasa yang terbaik sehingga membingungkan
pengguna baru. Sy menggunakan linux(debian & centos) cuma
untuk server.
Kalau Slackware gimana?? gak deh,mending pake Freebsd untuk
server dan Desktop.
kenapa?? karena slackwareeee UNIX-like, unix like yang menurutku slackware tidak punya pendirian..wakakakkakakka..
..wakakakakakkakakaka..karena ikut-ikutan unix…
Tapi itu semua terserah gue…terserah lo…
kalo toh tidak puas dengan semuanya..ya lo buat aja OS baru,
dan pesan gue jangan Unix-Like seperti slackwareeeeeee.
Trus windows cuma untuk nonton film bokep yang format
…..
filenya aneh-aneh
Semua ada kelebihan dan kekurangan.
Oktober 19, 2009 pukul 10:13 am |
yg empunya blog orang males.karna dia suka instan. tolol cuma bisa pake doang. copo lo. titit bajakan bangga. miskin belagu. kiss my ass hoole
November 11, 2009 pukul 6:07 am |
Hahahahah. Lo tersinggung? Bagus. Gua seneng. Soalnya orang2 kayak lo pengen gua bantai-bantain. Ngata2in orang di blog orang. LONTE NYOKAP LO!Seneng gua bilangin gitu?
Dan ya, semua orang suka instan. Cuma orang IDIOT DAN GOBLOG yang suka repot. KAYAK ELO.
Dan gua punya Windows asli. Dan bajakan.
Oktober 28, 2009 pukul 9:38 am |
kalo ada yang bilang linux gak user friendly dan windows lebih user friendly ?
saya rasa itu cuma masalah kebiasaan. anak saya yang berumur 7 tahun sejak pertama kali pegang komputer saya ajari pakai linux (pclinuxos2007). sekarang kalo disodori komputer berwindows dia malah kesulitan, ribet katanya. nah, jadi mana yang user friendly ?
November 11, 2009 pukul 6:06 am |
Anak lo juga kalo dari umur 7 taun lo ajarin makan dari tong sampah, begitu di sajiin makanan restoran bintang 5 juga akan kesulitan (ribet, mesti pake sendok). Get it?
November 1, 2009 pukul 7:36 am |
BODO’!!!! perdebatan g penting dan g mendidik….saya mengerti maksud penulis yg merasa bahwa beliau g cocok memakai linux karena merasa kesulitan untuk beradaptasi atau tidak terbiasa menggunakan menu2 yang ada di linux. (Koreksi dikit…Linux itu kalo g salah kernel…bukan Operating System). cm yg saya sayangkan kenapa penilaian subjektif penulis kepada Linux User jg dibawa-bawa bahkan smp membahas komunisme bla…bla…(di Indonesia g ada pembahasan komunisme yg bener2 ilmiah dan selesai).
sebenernya apakah user mo pake windows ato OS dengan kernel Linux itu terserah….seorang programmer Java ato Oracle perlu komputer dengan kecepatan yg tinggi tidak boros resources RAM dan aman dari virus de el el….makanya di perusahaan besar…rata2 divisi IT memakai OS dengan kernel Linux…contoh kakak saya…seorang admin jaringan perlu mengatur lalu lintas jaringan yg padat dan besar…seyogyanya memakai SUN Blade…tp karena g punya uang akhirnya pakai Linux…contoh saya….seorang pegawai TU hanya butuh excel dan word utk pekerjaannya makanya pake windows…contoh kakak kedua saya….seorang maniak nokep g pernah pusing itu windows apa linux ato mac ato tai ayam…asal bisa buat nonton bokep beres urusan…contoh tetangga saya….
jadi lain kali kalo mo bikin review IT…dewasa dikit dunk…jangan bawa2 sentimen pribadi…g ilmiah dunk jadinya…kalo emang seseorang pake linux untuk gaya2an….pasti g lama kok….karena dia g ada motivasi buat belajar dan berkembang…beda kalo dia pake komputer karena memang tertarik ato karena memang pekerjaan dia membutuhkan komputer yg seperti itu…
November 11, 2009 pukul 6:05 am |
TLDR. Tau gak artinya? TOO LONG, DIDN’T READ. Siapa bilang ini harus ilmiah? Emangnya gua bilang ini “review”? Ini kan BLOG. PENDAPAT GUA.
Intinya, suka-suka gua. Lo gak suka, sini kita ketemu, gebuk-gebukan.
Ati-ati aja tapi, gua Sabuk Hitam Tae Kwon Do.
November 8, 2009 pukul 7:40 am |
emang kamu pake OS ap?
windows po emang km pke windows asli…??????
pake bajakan aja dibangga banggain…
enggak bgttt deh…
November 11, 2009 pukul 6:03 am |
Pake gua asli. Lo pake gak? DASAR MISKIN.
Dan gua juga pake bajakan.
Jadi gua hebat.
November 8, 2009 pukul 8:12 am |
walah dalah, bisa dibayangin g kalo linux g ada? mungkin g kalo server google pake Windows atau OS X??
November 11, 2009 pukul 6:03 am |
Pake UNIX lah, tolol. Ato FreeBSD. Buka otak lo. Oke?
November 10, 2009 pukul 12:33 pm |
Masih belajar ya mas/mbak? Keliatan bodo aja nulis kayak gitu..
November 11, 2009 pukul 6:03 am |
Yang lebih bodo itu orang yang mukanya kayak elo dan make Linux.
Asal lo tau, gua sangat capable menggunakan Linux. Makanya gua bisa bilang LINUX ITU BAPUK! SAMA KAYAK MUKA LO!
April 10, 2009 pukul 2:34 pm |
Ente juga sudah gak bisa dikasih pencerahan
pisss
April 10, 2009 pukul 4:09 pm |
pencerahan macam gimana ini, say?
April 13, 2009 pukul 9:35 pm |
Piss your ass!
April 28, 2009 pukul 6:42 pm |
Saya bukan sampean,, saya sampein… yang saya sampein adaLAh….
SAYA SUKA INDOMIEEEEEE!?
mie goreng rasa ayaaammmmmmmm…………
hehehehe….
“makan Pizza meletus yuuukkkkkk”
^^